SUTAN KAYO BERDAYUNG SAMPAN

Yang didayung akan patah sebelum sampai,
yang dituju akan tunai sebelum sudah.

Sutan Kayo berdayung sampan ke Pulau Pisang
ombak masih tenang bergulung memanjang berpiuh meregang
seperti lagu orang dulu—pantainya landai, ombaknya pauh, dan
tidak sebuah mercu bisa memberi tanda bahwa dari tonjolan mata
udang bakal menyumbul gelombang segadang rimba siamang.

Tiga hari tiga malam, Sutan, sampan mesti melaju
sekian kayu patah didayung sekian tempurung pecah dikayuh.

Tapi gelar hendak kau hapus itu sudah dirajah tuhan
jauh dalam serat dagingmu.

Seakan batang ambacang ditanam dan tumbuh menjulang
dari ubunmu. Akarnya merajam sampai rabu, buah beruntun
jatuh di punggung, getah meradang di selingkar leher, tapi
kemana pucuk itu menghadap tidak sekali engkau pernah tahu.
Jangankan ke Pulau Pisang, Sutan, sekalian bertarak
ke benua tempat guruh-petir menghentak dari dalam batu
kau akan tetap itu, akan tetap begitu!

Paraklaweh, 2013

 

Dimuat di Koran Tempo, Minggu, 6 Oktober 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s