TANAH IBU DAN SIHIR-SIHIR PUITIS

ImageLebih kurang satu jam, enam orang gadis usia belasan (Mentari Delatisya, Velin Raveliane Karlen, Poppy Melani Qoriza, Yola Avisha P.D, Melati Ganeza, Dini Reswari) bermain pada pementasan teater yang berjudul “Tanah Ibu” di gedung Teater Utama, Rabu Malam kemarin (27/10), dan saya kira pementasan tersebut berhasil memukau penonton. Siasat Syuhendri selaku sutradara membuat para aktor  yang rata-rata para pemula tidak terlihat canggung di panggung.

Dari bangku penonton tampak aktor bermain sangat rileks, nyaman, tanpa tekanan dari narasi yang penuh dengan sihir-sihir puitis. Catatan ini sebentuk apresiasi, bukan puja-puji, meski di lain soal bagi penonton yang pernah menyaksikan garapan Syuhendri sebelum ini akan terlihat banyak perulangan-perulangan. Semisal membandingkan pementasan “Tanah Ibu” dengan “Rumah Jantan” .

Dan salah satu yang melatari perbedaan tersebut, “Rumah Jantan” dalam program grub Teater Nokhtah, sedangkan “Tanah Ibu” digarap me-ngatas-nama-kan Bengkel Teater Remaja Sumatra Barat. Dengan ruh yang sama tapi mempergunakan tubuh yang berbeda.

Tanah Ibu dan Rumah Jantan

Panggung tanpa kosong tanpa properti, di bagian awal dari pementasan “Tanah Ibu” tersebut menjadi pembeda dari pementasan “Rumah Jantan”. Enam orang gadis usia belasan berpakaian putih-putih dan berkain sarung mulai mengucucapkan narasi-narasi yang puitis pada awal pementasan. Dengan mother tounge (bahasa ibu), pengucapan Minang, narasi pun yang diambil dari beragam petuah dan mamangan.

Ada juga dendang beriring saluang terdengar dari suara khas Nina Rianti dan sang sutradara sendiri. Iringan ini yang membuat sihir-sihir puitis dari pengucapan aktor semakin menyentak. Siasat yang sama dipakai sutradara seketika pementasan “Rumah Jantan”. Saya belum bisa melupakan pementasan tersebut karena aroma dan gairah “Rumah Jantan” dalam pementasan “Tanah Ibu” sangat kental sekali.

Atau barangkali Syuhendri selaku penulis naskah dan sutradara merasa “Rumah Jantan” belum lengkap tanpa “Tanah Ibu”. Dengan menelaah judul naskah, bisa saja dibandingakan bahwasanya ada dua sisi yang bertolak belakang dan ingin diperlihatkan. “Rumah Jantan” dengan kemaskulinannya, dan “Tanah Ibu” dengan kefeminimannya.

Tapi pementasan tidak banyak membahas persoalan gender secara kasat mata yang biasa dirayakan dalam pementasan teater kontemporer lazimnya. Dari mula pementasan, para aktor sudah terlihat mengangkat sesuatu yang bersifat local genius untuk ditreatrikalkan menjadi sesuatu yang universal, dan semua itu semacam penghadiran narasi pesakitan.

Pada pembukaan pertunjukan, saya jadi teringat ragam permainan di kampung-kampung. Permainan tersebut digabungkan dari awal sampai akhir pementasan berlanjut. Barangkali ini salah satu siasat sutradara untuk membuat aktornya nyaman dan tidak terbebani dengan naskah yang saya kira tidak mudah dipahami falsafahnya secara mendalam oleh aktor-aktor belia tersebut.

Gugatan-gugatan dalam pementasan “Tanah Ibu” dan “Rumah Jantan” cenderung sama, bertumpu pada sebuah hulu persoalan. Jika pada “Rumah Jantan” isu penerimaan-penerimaan budaya tradisi terhadap percepatan isu global diperlihatkan. Pada pementasan Tanah Ibu, isu-isu tersebut kembali diangkatkan. Hanya saja dibuat lebih sederhanan dan tidak lagi diperumit dengan penggunaaan-penggunaan properti seperti kardus-kardus yang terkadang dimanifestasikan sebagai televisi, salah satu corong penyampai informasi aktual.

Kali ini cuma kain sarung dan sayak-tipuruang (batok kelapa), yang diperlakukan untuk beragam hal, semisal kain sarung dijadikan tingkuluk ala perempuan Minangkabau. Meski sesekali sarung tersebut menjadi sebuah ruang pengisolasian dari beberapa aktor, isolasi yang menurut saya merupakan usaha membunuh ke-diri-an tokoh yang dimainkan aktor. Bagaimana tidak ruang isolasi itu dibuat seperti ruang untuk “bergunjing”, “mempergunjingkan” diri mereka sendiri.

Tidak banyak perlakuan-perlakuan treatrikal yang diperlihatkan aktor. Penyadaran sutradara dalam menggarap perempuan-perempuan belia untuk ditampilkan dalam sebuah pementasan yang disesuaikan dengan batas pemikiran aktor. Meski terkadang perlawanan-perlawanan yang sebelumnya saya sebutkan ada pada pementasan “Tanah Ibu” dan “Rumah Jantan” diperlihatkan. Tapi dalam kapasitas yang tidak banal. Semisal sesekali diperlihatkan gugatan dan sentilan terhadap sistem pemerintahan dan kegalauan masyarakat Minangkabau akan budayanya sendiri.

Tanah Ibu dan Rantau Perempuan

Dari awal saya menduga bahawasanya aktor akan melakukan penyimpangan dalam tradisi baku yang sudah terstruktur dalam pikiran penonton, umumnya masyarakat Minangkabau. Mengenai Rantau (dengan huruf ‘r’ besar dan dipahami secara umum) yang lazimnya dikenal dengan kedirian laki-laki Minangkabau. Ada penolakan-penolakan dari gerak-gerik dan narasi aktor. Meski dari beberapa aktor yang melakukan perlawanan, di antaranya ada seorang aktor yang terlihat bingung dengan pemahaman akan Rantau dari aktor lainnya. Hanya seorang, dan seorang itulah yang menjadi simbol perempuan Minangkabau yang masih diselimuti pemikiran Rantau dalam kapasitas sebagai tugas seorang laki-laki.

Keinginan berujung dari pembuktian, permainan-permainan panggung diperlihatkan seperti keinginan untuk menjadi perantau melebihi hebatnya si perantau laki-laki. “Benarkah mereka merantau?” atau narasi “biarlah mereka membatu di rantau malin kundang…” terdengar seperti narasi pesimistis dan ketidakpercayaan akan pemaknaan Rantau dalam pikiran laki-laki.

Di lain hal, ke-modern-an diperlihatkan dalam perlakuan beberapa aktor kepada aktor lainnya yang masih melakukan penerimaan terhadap tradisi. Misalkan terlihat di panggung. Seperti ada seorang aktor yang masih memakai tingkuluk, simbol memegang seseuatu yang bersifat tradisi. Perlakuan itu terlihat dari aksi 5 melawan 1, 5 modern dan 1 tradisi. Di sini ada kebimbangan, narasi dan perlakuan untuk memperlihatkan eksistensi perempuan untuk menjadi perantau, barangkali semacam kekecewaan terhadap Rantau laki-laki? Keinginan itu menjadi perlakuan aneh, semisal keinginan untuk menjadi modern, dengan aksi berjoged, aksi bergaya dalam menggunakan ponsel yang sifatnya agak modern—salah seorang aktor terlihat merasakan sensasi yang berbeda seketika menerima sebuah surat, dibanding dengan aktor lain yang ber-ponsel sambil cengangas-cengingisan.

Kebimbangan dalam hal mesti menerima, atau tidak tambah diperjelas dengan narasi ingin mengubah sebuah petuah khas ala perantauan laki-laki: “Karakatau madang di ulu, babuah baungo balun, marantau bujang daulu, di rumah paguno balun.” Beberapa aktor dengan aksinya berusaha untuk terus merubah petuah ini. Jika petuah ini terdengar sebagai milik laki-laki, maka mereka ingin merubah menjadi perempuan, biar: “apa saja digalaskan, kalau tak ada pantat pun digalaskan…” bukankan narasi ini juga termasuk narasi yang menghiba, narasi yang menyerah?

Gambaran kebingungan, menolak dan merima, terlihat dari awal sampai akhir pementasan. Bahkan di akhir pementasan seorang aktor yang kebingungan mesti memilih ikut atau tidak, merantau bersama perempuan lainnya. Peristiwa disimbolkan dengan cara menggeraikan rambut terikat dan membawa travel bag, bagian dari tren keberangkatan di bandara.

Perempuan kebingungan itu pun akhirnya serupa memutuskan untuk tinggal dan tidak memilih jalan rantau, seperti perempuan lainnya. Ia tinggal dengan ratap dan pesakitan. Begitulah pementasan diakhiri, dengan dendang dan saluang, juga sebuah properti yang tiba-tiba menggantung di sisi panggung.

Satu-satunya aktor pada akhir pementasan, yang memilih untuk tinggal, berjalan ke arah properti yang berupa porongan-potongan tubuh boneka. Akhir dari pentas yang berujung pesakitan.

Tanah Ibu dan Festival Teater Remaja 2010

Di luar penghadiran pementasan utuh. Usaha untuk membawa pementasan “Tanah Ibu” pada Festival Teater remaja 2010 di Jakarta 1-4 November mendatang tentunya menjadi pertimbangan bagi sutradara atau Taman Budaya Sumatra Barat dalam menghadirkan isi dan bentuk, guna kepentingan event.

Dengan kecendrungan pola kekhasan Syuhedri dalam pengarapan-pengarapan pertunjukan Teater Nokhtah biasanya. Kali ini mesti agak dibatasi dengan kepentingan bahwasanya “Tanah Ibu” akan dipertontonkan dengan penikmat yang bebeda dan tentunya ada penilaian-penilaian khusus dari dewan juri nantinya.

[catatan ini pernah dimuat di koran Padang Ekspres]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s