KELOMPOK TEATER NAN TUMPAH: KEBERSAMAAN PERIHAL PENTING DALAM BERTEATER

Image

Koleksi Teater Nan Tumpah

Teater Nan Tumpah  dires­mikan di Padang, 9 Oktober  2010.  Pada tanggal tersebut  Teater Nan Tumpah melakukan pementasan perdana setelah melalui proses latihan selama 5 bulan sejak dibentuknya kesepakatan mendirikan kelompok teater indipenden, yang digerakan oleh beberapa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di kota Padang. Pementasan perdana tersebut berjudul  “Cincin Kelopak Mawar” , Naskah Mahatma Muhammad adaptasi cerpen Firdaus dengan Sutradara Yeni Ibrahim yang dipentaskan di Gedung Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat.

Berangkat dari tantangan untuk mengadaptasi cerpen Cincin Kelopak Mawar karya Firdaus ke Panggung Teater serta kesamaan ide dari Mahatma Muhammad dan Yosefintia Sinta yang ingin mementaskan karya teater pada Maret 2010, maka mereka berdua sepakat mengumpulkan beberapa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di kota Padang untuk memulai proses latihan naskah Cincin Kelopak Mawar. Pelan tapi pasti, proses tersebut berjalan dibantu oleh Yeni Ibrahim(sutradara), Joni Andra (Penata Gerak) dengan grup Tari Impresa  serta beberapa tokoh senior lain di taman Budaya Sumatera Barat.

Nama  Nan Tumpah  tercetus dari Yosefintia Sinta setelah diskusi hangat beberapa anggota ketika menentukan nama kelompok pada awal Mei 2010. Nan Tumpah adalah sebuah metafora yang mengartikan proses teater yang berkelanjutan kemudian mencapai kesempurnaan ketika ditumpahkan di atas panggung.Tentu saja untuk menumpahkan segala bentuk krea­ti­vitas diatas panggung membutuhkan proses yang sangat panjang. Dimulai ketika berusaha mengenali, memahami, menggai­rahi, memberi pengertian, memberi penghargaan, , membuat, berpikir kritis dan memiliki kepekaan rasa sehingga kreativitas tersebut mencapai klimaksnya ketika ditumpahkan di atas panggung. Demikianlah harapan yang coba dibangun.

Dalam satu tahun perjalanan, Teater Nan Tumpah sudah melakukan tiga kali produksi pementasan dalam skala besar yaitu Cincin Kelopak Mawar (Oktober 2010) Sutradara Yeni Ibrahim , Cerita Kanak-kanak Dari Dunia Kucing (Mei 2011) sutradara Mahatma Muhammad dan Opera Pekerja (Mei 2011) Sutradara Andre Pratama. Selain itu Teater Nan Tumpah juga aktif mengikuti berbagai lomba untuk memberikan pengalaman kepada anggotanya. Prestasi yang cukup baik dihasilkan diantaranya : Juara 1 Dramatisasi Puisi (2010) yang diadakan oleh Teater IAIN Imam Bonjol, Juara 2 dan 3  Lomba Fragmen Festival Siti Nurbaya (2011). Pengalamanpun di asah dengan mengikuti pentas 75 Tahun penyair Rusli Marzuki Saria berupa pertunjukan Dramatisasi Puisi, dan berbagai kegiatan apresiasi sastra : Tadarus Puisi Fakultas Sasta Universitas Andalas, Sanggar Sastra Siswa Rumah Puisi Taufiq Ismail, dan Penampilan Musikalisasi Puisi dalam acara  Komunitas Padang Membaca. Untuk belajar mengatur manajemen produksi selain pementasan teater panggung, berbagai acara Apresiasi coba dibuat: Diskusi dan Bedah Buku Tempurung Tengkurap (Mei 2011), Lomba Baca Puisi Kreatif Tingkat SMA Sederajat Se-Sumatera Barat (Mei 2011), dan Peluncuran Album Tembang Puisi karya Teater Nan Tumpah.

Teater Nan Tumpah adalah kelompok teater independen yang bersifat non-profit (nirlaba). Anggotanya tak hidup dari peng­hasilan kelompok, tak mengan­dalkan perolehan dari pergelaran. Sebagian besar memiliki pekerjaan lain di luar kelompok. Pada penerapannya Teater Nan Tumpah adalah sebuah paguyuban kesenian dan bukan perusahaan. Kegia­tannya tetap bersifat amatir, dalam pengertian para anggotanya tak memperoleh hasil dari peker­jaannya sebagai penopang utama biaya hidup sehari-hari. Mereka mensubsidi sendiri kegiatannya, sebuah ‘hobi serius’ yang dilakoni secara dedikatif, ikhlas dan gembira.

Belum lama ini teater Nan Tumpah tutut membanggakan nama Sumatera Barat. Setelah melalui seleksi yang panjang dan pertunjukkan teater yang digelar oleh Federasi Teater Indonesia (FTI) dengan menampilkan sebelas grup teater dari Sabang sampai Merauke, Teater nan Tumpah dari Padang yang turut dalam seleksi regional (Sumbar, Jambi dan Bengkulu) meraih penghargaan Invitasi Teater FTI 2012 sebagai kategori grup favorit.

Pengumuman yang disam­paikan Sabtu (1/12) di Gelanggang Bulungan Jakarta Selatan, menghadirkan seratus juri yang terdiri dari berbagai kalangan termasuk budayawan, seniman, teaterawan, sosiolog, antropolog dan masyarakat.

“Usaha kami setidaknya mem­buahkan hasil. Kami mendapat grup terfaforit,” kata Mahatma, sutradara naskah karya Arifin C Noer berjudul Orkes Madun I: Madekur dan Tarkeni dari Teater Nan Tumpah.

Kategori tersebut yakni sut­radara favorit, aktor favorit, musik favorit, tata lampu favorit, artistik favorit dan kostum favorit. “Sebenarnya ada perbedaan antara penilaian dewan juri dan panitia, kami agak sedikit kecewa, apakah kami mendapat grup terbaik dan terfavorit? Ini jadi perbincangan hangat,” kata Mahatma menje­laskan.

Perjuangan kelompok teater Nan Tumpah menuju Jakarta untuk mengikuti FTI tidak berja­lan lempang. Mereka menggarap naskah Orkes Madun I dengan 40 orang lebih. “Ke semuanya harus ikut, itu komitmen kami dalam berteater, dan kami melewati itu semua dengan senang hati,” terang Mahatma yang mengaku bahwa anggota dari kelompok tersebut mengikuti ajang tersebut pulang-balik dengan menggunakan bus. “Yang terpenting bagi kami adalah kebersamaan dalam tim. Ini porsi utama kami dalam menjaga hubungan baik di dalam kelompok,” tambah Mahatma.

[Catatan ini pernah dimuat di Koran Haluan, Minggu, 16 Desember 2012]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s