JALAN LURUS: DISTORSI REALITAS LEWAT KONSENSUS

Konsensus, permufakatan bersama melalui kebulatan suara, ternyata bisa mendistorsi realitas melalui permainan tanda-tanda yang melampaui (hyper-sign) hingga menyebabkan tanda-tanda tersebut kehilangan hubungan dengan realitas yang direpresentasikannya. Konsensus, yang dihasilkan melalui gagasan abstrak, ternyata bisa membentuk kesadaran diri (self-consciousness) bahkan secara komunal, padahal kesadaran tersebut hanyalah palsu.

Senyawa dusta dan kebenaran, pembauran kepalsuan dan keaslian, ternyata membungkus konsensus yang pada dasarnya merupakan fasilitas untuk memudahkan pelaksanaan agenda politik hingga menghasilkan keputusan. Konsensus telah memalsukan “tiang listrik” menjadi “batang pinang” dan sebaliknya. Konsensus telah mengaburkan batasan “perempuan” dan “laki-laki” baik secara fisik dan batin. Konsensus juga yang membuat sekelompok lelaki menyakini bisa menyamai metanarasi tujuh pemuda ashhabul kahfi yang tertidur selama 309 tahun dalam gua. Dan konsensus juga telah membantu perekayasaan “batu dibungkus kain” dapat disebut “seekor anjing” untuk menemani sekelompok lelaki tersebut di dalam goa.

Pendistorsian realitas hasil dari konsensus itulah yang muncul terus-menerus dalam pementasan teater berjudul Jalan Lurus yang merupakan naskah Wisran Hadi di panggung Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat, Jumat malam, 20 Desember 2013. Pementasan tersebut disutradarai Prel T (Syafril), produksi Teater Eksperimental Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, merupakan rangkaian agenda Festival Desember (Mengenang Wisran Hadi 1945-2011) yang diselenggarakan oleh Lembaga Kebudayaan Ranah bekerjasama dengan program Rumah Budaya Nusantara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Chaos, Bangun-Hancurnya sebuah Konsensus
Di panggung, Prel T selaku sutradara seakan ingin menghadirkan bangunan deskriptif dalam naskah Jalan Lurus secara utuh. Sebelas (11) lelaki parlente berpakaian rapi dan seseorang aktor lain yang nantinya akan melakukan kamuflase dalam beberapa peran dihadirkan. Sebuah tiang listrik—menyerupai batang pinang dalam permainan panjat pinang—didirikan di tengah panggung. Puluhan katong plastik berisi gulungan kertas koran digantung di awang-awang panggung. Musik dengan tabuhan drum ala upacara kemiliteran. Termasuk teror ledakan petasan di awal hingga akhir pertunjukan seakan mengambil ruang mewakili istilah Edward Norton Lorenz tentang efek kupu-kupu (butterfly effect) dalam teori chaos, yang menjadi penanda ketergantungan peka pada kondisi awal, di mana perubahan kecil pada suatu tempat dalam sistem non-linear dapat menyebabkan perubahan besar dalam keadaan kemudian.

Ledakan petasan di bagian awal seakan menjadi penanda bahwa persoalan masih belum ada dan konsensus awal akan dimulai dalam pementasan Jalan Lurus. Konsensus pertama yang dipersoalkan dalam pementasan ajalan lurus dengan hadirnya sebuah tiang di atas panggung. Para aktor berebut untuk memaknai apakah tiang tersebut merupakan tiang listrik atau batang pinang, dan kepentingan beberapa orang akhir mempengaruhi pikiran keseluruhan aktor hingga konsensus memalsukan tiang tersebut sebagai tiang listrik.

Ledakan petasan pertama pada pementasan Jalan Lurus, selayaknya dalam fenomena efek kupu-kupu mengenai sebuah sistem yang tergantung terhadap kondisi awal, memang terjadi. Ledakan-ledakan petasan selanjutnya menghancur konsensus-konsensus yang disepakati oleh aktor di atas panggung, hingga kondisi tersebut kembali lagi pada kondisi awal dalam menghasilkan konsensus dan kemudian konsensus tersebut terus dihancurkan melalui tanda ledakan petasan selanjutnya. Tiang yang dipalsukan melalui konsensus sebagai “tiang listik” disepakati menjadi “batang pinang”, hingga konsensus diragukan dan kesepakatan berubah lagi membuat “batang pinang” menjadi “tiang listik”, lalu menjadi “batang pinang” lagi, lantas “tiang listrik”, dan konsensus pada akhirnya tetap mengaburkan pemaknaan dan absen kesepakatan.

Dalam hal ini, Prel T melalui pementasan Jalan Lurus yang disutradarainya seakan berusaha untuk terus menegasi tesisnya mengenai pementasan Jalan Lurus dua puluh (20) tahun yang lalu (1993) di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, yang disutradarai sendiri oleh Wisran Hadi sebagai perwakilan estetika teater posmodern Indonesia. Penghadiran laku dramatik oleh Prel T dalam Jalan Lurus seakan mewakili pandangan J.F. Lyotard dalam The Postmodern Condition (dalam Menolak Posmodern, Alex Callinocos, 2008) bahwa estetika posmodern sendiri  merepresentasikan  yang-tak-bisa-dilukiskan dalam representasi itu sendiri; estetikanya adalah estetika yang menyangkal penghiburan (solace) dari pada bentuk-bentuk yang baik (good forms), konsensus mengenai cita rasa yang baik yang memungkinkan dimiliki secara kolektif perasaan nostalgia terhadap sesuatu yang-ter-jangkau (the unattainable); estetikanya adalah estetika yang mencari wujud-wujud penyajian yang baru, bukan dalam rangka menemukan kenikmatan darinya, namun dengan tujuan untuk menanamkan rasa yang semakin kuat mengenai yang-tak-bisa-dilukiskan.

Bagaimana pertunjukan Jalan Lurus menanamkan rasa yang semakin kuat mengenai yang-tak-bisa dilukiskan? Barangkali dengan memanfaatkan secara penuh istilah “konsensus” dalam naskah Jalan Lurus sehingga membuat kita (penonton) sendiri, dalam istilah Lyotard, “…bersedia untuk menyambut gembira ketidakmampuan kita untuk mengalami realitas sebagai sebuah totalitas yang tertata dan integral”. Nyatanya, penonton Jalan Lurus barangkali benar begitu adanya.  Menyambut dengan gembira bangun dan hancurnya secara berulang (hingga menjadi kabur) sebuah konsensus yang pada dasarnya adalah ksepakatan yang sudah tertata.

Konsensus sendiri, yang secara penuh merupakan, tanda-tanda yang melampaui merepresentasikan yang-tak-bisa-dilukiskan. Kita sendiri mengenal istilah konsensus dalam masa pemerintahan Orde Baru sebagai alat indoktrinasi ideologi, yang berdasarkan tujuan dari konsensus nasional, dan hal tersebut dianggap sebagai upaya mencapai stabilitasi politik untuk mencapai pembangunan nasional. Konsensus bertahun-tahun hadir menjadi tanda yang di dalam pementasan Jalan Lurus dimaknai sebagai usaha untuk perekayasaan realitas. Dan kita menerima rekayasa realitas itu sebagai realitas penuh kesadaran.

Konsensus representasi pemerintahan Orde Baru yang seringkali muncul dalam pementasan Jalan Lurus dan memang peranan penting dalam pementasan tersebut. Selain istilah tersebut, istilah “Bapak”, “Ibu Bapak”, “Ajudan Bapak”, “Pelicin”, “tas”, “di atas”, “instruksi” menguatkan konsensus sebagai representasi dari politik pada masa Orde Baru.

Praktik Seni Posmodern
Praktik seni posmodern dalam banyak hal,  cenderung mengasi penolakannya terhadap perubahan politik secara revolusioner. Lyotard mengasosiasikan ‘rasa nostalgia akan yang-keseluruhan dan yang-satu-satu,…rukunnya konsep dan realitas yang bisa diinderawi (the sensible), rukunnya hal-yang-abstrak (the transparent) dengan pengalaman yang dapat dimomunitasikan dengan ‘teror… fantasi untuk menguasai realitas.

Dan Prel T dalam ranah wacana jauh hari untuk mengukuhkan Jalan Lurus, mulai dari pementasan disutradarai oleh Wisran Hadi (1993) hingga dilanjutkan pementasan yang disutradarainya sendiri (2013) sebagai perwakilan dari estetika teater modern Indonesia. Sebelum pementasan Jalan Lurus (2013), Prel T menegasi konsep tersebut melalui penemuan idiom-idiom estetik posmodern seperti pastiche, parodi, kitsch, camp, dan skizofrenia, yang menurut Prel T membongkar atau mendekonstruksi tidak saja modernitas seni teater sebelumnya, tetapi sekaligus modernitas budaya (tinggi) atau modenisme itu sendiri.

Kesimpulan estetika pastiche, disimpulkan dari perwujudan “idiom estetik permainan panjat pinang”, yang merupakan suatu bentuk imitasi murni atas rujukan dari penekanan relasi persamaan, yang dapat dikatakan bertujuan penghargaan (apresiasi) seni (budaya) posmodern atas rujukan sebagai suatu bentuk budaya tradisi dengan memproduksinya kembali menurut konteks budaya kini. Selanjutnya estetika parodi, wujud sebagai “idiom estetik plesetan panjat pinang”, yang merupaka suatu bentuk representasi palsu (false representation) dari penekanan relasi perbedaan dengan rujukan, yang bertujuan mereproduksi budaya dan sekaligus mengkritik tetapnya mendekonstruksi modernitas budaya, dan sosial-politik yang selama ini menjadi metanarasi “kekuasaan” yang menghegemoni.

Konsensus dianggap merupakan perwakilan dari estetika kitsch, wujud dari “idiom estetik delegitimasi budaya setuju” melalui hiperealitas demokrasi. Estetika camp, ditemukan dalam perwujudan dari perubahan identitas seksual pada karakter seorang aktor dalam Jalan Lurus yang seketika disepakati dalam konsensus bisa saja menjadi laki-laki atau tiba-tiba menjadi perempuan. Kemudian idiom estetik dalam permainan bahasa Jalan Lurus, skizofenik, yang merupakan bentuk chaos baik secara dialog maupun formasi adegan pertunjukan, sehingga menciptakan proses permainan tumpang-tindih makna dan peristiwa.

Penemuan idiom-idiom estetik posmodern dalam studi Prel T terhadap pementasan Jalan Lurus yang disutradarai oleh Wisran Hadi itulah yang kemudian diasosiasikan lagi dalam Jalan Lurus yang disutradarainya. [Gurun Laweh, 26 Desember 2013]
 
 
Dimuat di koran Padang Ekspres, 29 Desember 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s