RIDA K LIAMSI, DARI DERU OMBAK SEKANAK HINGGA STOCKHOLM

Dalam pidato Peraih Nobel Sastra, Pada 13 Desember 1972, Pablo Neruda berkisah tentang perjalanannya suatu ketika menyusuri tempat-tempat terpencil di belantara rimba raya pegunungan Andes demi menemukan perbatasan negerinya (Chili) dengan Argentina. Dari kesunyian rimba tak bertepi, hamparan salju, kuda-kuda tumpangan terbenam hanya dengan kepala menyembul di permukaan sungai, hingga ritual magis pengembala sapi di tempat keramat tengah hutan diceritakan Neruda dalam pidato berjudul Menuju Kota Agung tersebut.

“Saya mengisahkan sesuatu tentang peristiwa di masa lalu, mengenang kembali sebuah kejadian yang tak terlupakan, itu karena dalam perjalanan hidup saya entah dimana saya selalu mendapat dukungan yang diperlukan: sebuah formula yang menanti saya,” terang Neruda mengapa dirinya bercerita tentang perjalanan itu dalam pidatonya saat meraih Nobel Sastra. Dari penjalanan itulah, Neruda menemukan komponen-komponen untuk menyusun puisi. Ia merasa dirinya menerima sumbangan dari tanah dan jiwa. Dan ia meyakini bahwa puisi adalah sebuah tindakan, sekelebat atau khidmat, dimana kesunyian dan solidaritas, aksi dan emosi, kedekatan pada diri sendiri, pada umat manusia, dan pada manifestasi tersembunyi alam masuk ke dalamnya (puisi) sebagai rekan sederajat.

Banyak hal lain dikatakan Neruda dalam pidato tersebut, bukan hanya soal pemaknaannya tentang perjalanan, tapi lebih pada persoalan esensial hubungan penyair, puisi, dan ruang yang menghidupkan keduanya itu. Tapi pada bagian terakhir dalam pidato tersebut sangat menyentuh, “saya datang dari tempat gelap, dari tanah yang terpisah dari negeri lain oleh kontur tajam geografisnya,” kata Neruda.

Ia menganggap dirinya adalah penyair  paling tak dikenal dengan puisi yang bercorak kedaerahan, pedih dan kuyup tersiram hujan. “Tapi saya percaya pada manusia,” tegasnya dengan mengakhiri pidato mengutip kata-kata Rimbaud: hanya dengan kesabaran membara kita akan menakhlukkan kota agung, yang akan memberi cahaya, keadailan, dan martabat bagi segenap umat manusia. Neruda menganggap, dari ungkapan Rimbaud tersebut, dengan demikian puisi tidak akan dilantunkan dalam kesia-siaan.

Bagian dari narasi pidato Neruda ini saya tuliskan lagi setelah membaca buku puisi pilihan Rida K Liamsi dalam dua bahasa (Indonesia–Inggris) berjudul Rose, terbitan Yayasan Sagang, 2013. Dalam artian, bukan hendak menyamakan proses kreatif atau capaian Rida K Liamsi dengan Neruda, tetapi ada beberapa bagian penting dari ungkapan Neruda yang hendak saya sandingkan dengan hantaran Sutardji Calzoum Bachri, yang memang menuliskan bukan sebagai kritik puisi, melainkan sebagai kesan seorang penyair terhadap penyair lain. Dan agaknya, memang saya tidak bisa melepaskan diri dari keterikatan hantaran Sutardji, berulang, sebelum dan sesudah membaca buku kumpulan puisi Rose.
Sutardji menulis kilasan tentang puisi Rida K Liamsi dengan menyatakan antusiasnya terutama karena sejak awal kepenyairan, Rida K Liamsi mengusung semangat perpuisian yang bertolak dari akar budaya Melayu Riau yang dijadikan pangkal jati diri dari upaya pencapaian puitiknya. “Sebagaimana kebanyakan para penyair dari Riau, puisi Rida sangat kental dengan warna lokal Riau,” tulis Sutardji. Tapi bukankan peneraan “warna lokal” yang diterakan Suratdji hanya akan memberi batasan terhadap pembacaan puisi Rida K Liamsi? Sebagaimana istilah warna-warna lokal lain yang juga serinng kali diungkapkan kritikus dan seakan menghambat universalitas di dalam puisi-puisi yang ditulis oleh penyair dari beragam daerah.

Warna Lokal
Rose, buku puisi menghimpun 55 puisi Rida K Liamsi dari tahun 1970 hingga 2010. Tiga puluh (30) tahun pergulatan puitik Rida K Liamsi dipilih lalu dihimpun dalam buku puisi tersebut. Saya membayangkan bukan karena judul-judul puisi “Bulang Cahaya” (hal.9), “ Tempuling” (hal.34), “Kemejan” (hal.42), “Jebat” (hal.80), dan beberapa puisi lain dengan pilihan-pilihan diksi yang jarang diucapkan dalam bahasa Indonesia sehari-hari lantas sebuah puisi dibatasi dengan istilah “warna lokal”.

Seperti Neruda dalam kutipan pidato di atas yang menyebutkan dirinya adalah penyair  “paling tak dikenal dengan puisi yang bercorak kedaerahan, pedih dan kuyup tersiram hujan” atau ia dengan rendah diri menyatakan “datang dari tempat gelap, dari tanah yang terpisah dari negeri lain oleh kontur tajam geografisnya,” maka pemaknaan warna lokal dalam istilah Sutarji terhadap buku puisi Rida K Liamsi saya pikir adalah sebuah penilaian dini seorang penyair terhadap penyair lain—meski Sutardji mengakui memperhatikan Rida sejak masa awal kepenyairannya.

Saya membayangkan ingatan dan pengharapan seorang penyair puisi “Ombak Sekanak” (hal.48) digagahi secara paksa dengan pewarnaan lokalitas, atau puisi “Dan Sejarah Pun Berdarah” dengan merekonstruksi kisah Tun Teja hanya akan dibatasi dengan pemaknaan (sejarah) lokalitas yang tentu hanya akan berpihak pada kekuasaan. Pada tahapan ini, saya memungkiri istilah warna lokal itu, baik yang diterakan Sutardji terhadap puisi-puisi Rida K Liamsi atau komentar kritikus terhadap penyair dari daerah lain.

Rida, Kenangan dan Perjalanan
Hampir sebagian besar puisi Rida K Liamsi dalam buku Rose memungut perca-perca kenangan di hari lalu, sebagian besar lagi merupakan catatan perjalanan dari suatu tempat ke tempat lain. Dari suasa negeri dengan kedekatan personal penyairnya hingga negeri yang barangkali aromanya baru saja dihirup udaranya.

“Ombak Sekanak” merupakan salah satu puisi dalam buku Rose yang menurut saya merupakan upaya untuk menghimpun lagi fragmen-fragmen puitik dari kenangan masa lalu. Puisi yang ditulis dengan kolofon 2001/2003 ini seakan hendak ditegasi oleh penyair, bahwa ada sesuatu dari masalalu yang harus dipungut lagi, masa lalu yang bingung dan masa depan yang entah.

O, Ombak sekanak/ Angin barat/ gelombang barat/ Laut sekanak/ ombak sekanak/ Kemana kita/ akan pergi/ Pergi/ Seperti sepotong sabut/ Terombang ambing/ Terkapung kapung/ di pucuk/ ombak/ di pucuk buih/ di pucuk angin/ di rasa ingin/ dirasa dingin/ di rasa sansai/ di rasa lepai….

Puisi, barangkali tidak akan mengekalkan sesuatu dari masa lalu secara utuh, tapi ada semacam pengharapan dalam puisi “Ombak Sekanak” Rida K Liamsi. Sesuatu yang dulu seperti sepotong sabut, terombang ambing, terkapung kapung di pucuk ombak hingga di pucuk angin,  semua itu (pernah) di rasa sansai.

Saya pernah mendengar tentang debur ombak Sekanak itu, tapi belum pernah ke daerah tersebut, dan dalam puisi di atas Rida K Liamsi seakan memberi penegasan bahwa memang ada sesuatu kesakitan orang-orang, barangkali masyarakat, yang dulu pernah menempati dan merasakan angin kiriman ombak sekanak. Rida K Liamsi mungkin salah satu di anatara mereka yang merasakan. Dan memang, dalam biodata yang saya dapat di buku terbaru Rose, Rida berasal dari Dabo Singkep, Kepulauan Riau, dan ia memulai karir dari seorang guru, jurnalis, hingga enterpreneur. Seniman, atau tepatnya sastrawan, adalah bagian lain dari karir Rida, karir yang barangkali tidak akan terhenti selagi energi puitik hadir dan ditajaknya dari hari ke hari.

Sebagian besar lain puisi Rida K Liamsi memang adalah puisi perjalanan. Saya membayangkan setiap tempat yang ia singgahi, ia serap suasananya, ia gali sebuah peristiwa yang pernah terjadi di tempat tersebut. Lihat saja puisi “Di Stockholm” (hal.72), “Di Seberang Gedung Putih” (hal.76), “Nguyen” (hal.98), Sanghai Baby” (hal.108), “Di Great Wall” (hal.112), “Perjalanan” (hal.150), hingga “Cerita-Cerita dari Korea” (hal.222).

Memang pada puisi “Cerita-cerita dari Korea” (hal.222-234) saya membaca bagaimana puisi mengisi sebuah perjalanan. Bukan hanya perjalanan yang kosong. Sepuluh (10) fragmen ditulis Rida K Liamsi dalam satu judul puisi. Seakan seorang penyair mendatangi sebuah negeri yang sebelumnya hanya ia lihat dalam televisi, negeri yang dipenuhi cerita “tentang perang” dan “ancaman misil berhulu nuclear” tulis Rida.

Meski gamang, aku datang, dengan puisi, mantel dan sweater musim dingin./ Di televisi cerit tentang perang dan ancaman misil berhulu/ nuclear, masih jadi berita mutakhir. Di laut kuning, sang penjaga dunia berkonvoi dengan meriam ternganga…./ Meski gamang, aku datang, dengan instrumentalia atas nama/ cinta… tulis Rida dalam “Cerita-cerita dari Korea” fragmen satu. Meski ada kegamangan, tapi dengan puisi kegamangan untuk datang ke sebuah negeri yang asing itu bisa ditepis. Begitulah Rida menuliskan ceritanya.

Rida menuliskan, dalam puisi, bagaimana di sebuah negeri orang-orang tetap percaya dalam membangun sebuah janji, dengan puisi menyemai damai, dengan puisi mendekati sahabat. Orang-orang membaca puisi di ruang tertutup, di gedung kesenian, di kampus, di café, semua itu ditulis dalam fragmen kedua “Cerita-cerita dari Korea”. Agaknya puisi naratif yang cukup panjang ini memang ditujukan untuk menghimpuan kelebat suasana perjalanan dalam puisi.

Saya sempat bertanya-tanya, kenapa Rida K Liamsi memberi judul Rose untuk buku puisi tersebut. Lantas saya berusaha untuk memaknai lagi puisi Rose di dalam buku tersebut yang terdiri dari lima fragmen ditulis sepanjang tahun 1977-2008. Saya berusaha menjangkau “Rose” yang barangkali memang pengganti bunga, atau “Rose” barangkali seseorang. Tapi saya urung menjangkaunya, saya membaca, dan saya membayangkan ada sesuatu yang tak sudah dengan “Rose” barangkali karena itulah Rida K Liamsi memberi judul buku tersebut “Rose”. Satu kata yang barangkali lama diingat-ingatnya dalam puisi.

Tidak semua puisi Rida K Liamsi bisa saya jangkau dalam tulisan pendek ini. Tulisan ini hanya sebuah pembacaan awal dan belum menukik pada hal yang paling esensial di dalam puisi. Sebuah apresiasi atas ketelatenan dan kepatuhan Rida K Liamsi dalam menulis karya sastra hingga usianya mencapai 70 tahun.

Satu hal, kenapa tulisan ini hadir. Saya membayangkan suatu ketakutan ketika Sutardji, barangkali tidak hanya kali ini, mengikat karya seorang penyair dengan lokalitas. Tapi pembacaan tentu bisa beragam, apalagi tafsir. Saya barangkali juga Rida K Liamsi, tetap meyakini anggapan Neruda yang mengatakan bahwa puisi adalah sebuah tindakan, sekelebat atau khidmat, dimana kesunyian dan solidaritas, aksi dan emosi, kedekatan pada diri sendiri, pada umat manusia, dan pada manifestasi tersembunyi alam masuk ke dalamnya (puisi) sebagai rekan sederajat. Dan bisa jadi karena itu buku puisi Rose itu lahir.

Dimuat di koran Padang Ekspres, 10 Desember 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s