SAJAK DAHULU

Kangen geletar angsana sebelum patah dan aku masih bersajak seperti dahulu, cintaku.

Seperti dahulu,

terus meremas pangkal tembusu.

Dan sajak, tiga ribu malam maut sudah mengasah pedang
jauh ke seberang selat itu
aku memandang sebuah kemerdekaan dalam pecahan kulit kerang, dalam retakan cangkang umang-umang,   dalam ledakan buih yang sebentar di buruk piuhan limbubu.

Kangen gelatar angsana sebelum patah, cintaku
dan aku bersajak masih seperti dahulu.

Seperti dahulu,

terus memeram isi dada lebam membiru.

2014

 

Dimuat Koran Tempo, Minggu, 11 Mei 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s