MAGEK MANANDIN, KESUNYIAN RANTAU DAN KANGEN KAMPUNG

1
Dengan menunggangi kuda, Magek Manandin, pemuda gagah dari Saniangbaka itu menuju Singkarak. Malam belum sempurna gelapnya. Derap ladam di kaki kuda tunggangannya membahana dan terdengar sampai jauh. Hanya dengan sebelah tangan Magek Manandin memegang tali kekang, sebelah tangan lagi mengapit ayam jantan bernama Biriang Balang, bakal diadu di Singkarak. Dengan percaya diri magek terus berkuda keluar dari kampung.

Darah mudanya tak tahan mendengar undangan khusus dari Rajo Duo Baleh untuk menghadiri gelanggang pencarian jodoh adiknya, Puti Nilam Cahayo.   Magek Manandin tidak tahu kejadian apa yang bakal menunggunya di Singkarak. Yang jelas, ia harus datang, sebab inilah kesempatannya memperlihatkan kepiawaiannya dalam berjudi pada Rajo Duo Baleh, kuasa Singkarak. Di Saniangbaka, siapa pemuda tak kalah oleh Magek Manandin dalam sabung ayam? Dalam bermain judi dadu? Ia bintang gelanggang dari Saniangbaka, muda, gagah, serba piawai dalam permainan anak nagari. Dan memang, sedari kecil magek sudah lihai dalam segala permainan itu, ia dimanja oleh kedua orang tuanya, Datuk Bandaro dan Puti Linduang Bulan.

 

Di Singkarak, di keramaian gelanggang Rajo Duo Baleh, semua orang terkesima melihat pemuda gagah dari Saniangbaka itu. Para tamu undangan dari nagari-nagari lain ciut nyali. Mereka yakin, Magek Manandin akan memenanggi segala permainan, dan gelanggang pencarian jodoh untuk Puti Nilam Cayaho yang sudah tujuh bulan berjalan akan ditakhlukkan pemuda dari Saniangbaka itu. Tapi nasib berkata lain, Magek Manandin takhluk dan dikalahkan di setiap permainan oleh Rajo Duo Baleh yang dikenal licik dan lalim oleh semua orang. Ayamnya, Biriang Balang, kalah taji dengan ayam Rajo Duo Baleh. Begitu juga dalam permainan judi dadu, semua taruhan Magek Manandin habis, kuda tunggangan, ayam aduan, bahkan kain sarung salempang lehernya dan pakaian di badanpun habis  di gelanggang.

Magek Manandin memang hanya berniat untuk berjudi serta memperlihatkan kepiawaiannya pada Rajo Duo Baleh dan seisi gelanggang di Singkarak. Tidak untuk memperbutkan Puti Nilam Cahayo. Sebab di Saniangbaka, tunangannya Puti Subang Bagelang, seorang gadis berlaku elok berparas cantik anak Rajo Kuaso yang tak lain adalah mamaknya sedang menunggu dengan cemas.   Tapi magek tidak pulang. Berhari-hari lamanya.

Sampai suatu hari, ketika Rajo Kuaso selaku mamak Magek Manandin pergi ke Singkarak hendak mencari sapi untuk pembajak sawah, ia dikagetkan oleh perawakan Magek Manandin. Kemenakannya itu terikat di pondok ronda dekat kandang sapi. Rajo Kuaso malu besar ketika mengetahui pemuda tak berbaju itu adalah kemenakannya sendiri. Dan memang, malam ketika semua taruhan Magek Manandi habis di gelanggang Rajo Duo Baleh, ia lari masuk perkampungan di Singkarak tanpa pakaian. Ia tidur dalam kandang sapi sehingga pemilik sapi mengira Magek Manandin adalah maling. Magek dipukuli beramai-ramai, dimandikan dalam kubangan, dan diikat di pondok ronda.   Kemana muka Rajo Kuaso hendak disurukkan? Ia merasa kemenakannya sendiri telah mencorengkan arang ke keningnya, malu terhadap orang kampung, dan Magek Manandin diseret pulang ke Saniangbaka dengan pukulan dan tendangan seperti seorang maling.

Rajo Kuaso merasa hukuman belum cukup untuk Magek Manandin yang telah mempermalukan keluarga. Ia menganggap kemenakannya itu harus dipancung untuk menghapus malu pada semua orang. Melihat perlakuan mamak terhadap kemenakannya, Puti Linduang Bulan dan Datuk Bandaro, selaku orangtua Magek Manandin bersedih dan terus-terusan meminta permohonan maaf pada Rajo Kuaso. Tapi Rajo Kuaso merasa perbuatan Magek Manandin sudah kelewatan, hukum pancung harus tetap dilaksanakan.  

Di Saniangbaka, orang-orang cuma bisa menyaksikan, hukuman mamak pada kemenakannya itu. Meski itu hukuman pancung sekalipun. Siapa bisa menolong meringankan hukuman Magek Manandin dari kehendak Rajo kuaso untuk memancung? Tidak seorangpun, tidak juga kedua orang tua Magek Manandin, tidak juga orang kampung yang cuma bisa berbisik dan melempar gunjingan atas kemalangan yang terjadi pada Magek Manandin. Dengan pedang janawi Rajo Kuaso berusaha memancung kemenakannya itu, tapi pedang di tangannya patah, leher Magek Manandin tidak luka atau gores sedikitpun. Entah tuah apa yang ada di badan Magek Manandin sehingga Rajo Kuaso kehabisan akal bagaimana cara memancung kemenakannya.  

Dibuang ke lurah dalam dimana tak seorangpun bisa keluar dari sana, lurah penuh mambang, lurah penuh orang bunian dan binatang buas, adalah satu-satunya cara agar Magek Manandin terpisah dari semuanya. Terpisah dari orang tua, tunangannya, terpisah dari orang-orang kampung, dan mantagi Rajo Kuaso akan ada lagi di hadapan semua orang. Dan memang, Magek Manandin dibuang ke lurah dalam, dibuang dari segala hal meski permohonan maaf telah berulangkali ditujukan pada mamaknya itu.  

Di lurah dalam, dalam kesepian yang teramat, Magek Manandin belajar banyak hal. Begitu juga tentang pergerakan waktu, dimana ia tidak bisa berbalik ke masalalu untuk mengubah peristiwa memalukan itu tidak terjadi. Ia merindukan orangtua, tunangannya Puti Subang Bagelang, juga merindukan suasana kampungnya Saniangbaka. Dan doa juga pengharapan adalah obat mujarab bagi Magek Manandin di kesunyian tak terperi dalam lurah. Juga keajaiban, seekor burung nuri, milik Puti Taruih Mato, adik dari Rajo Songsong Barat, kemenakan Sambah Di Lautan, di negeri Aia Gilo adalah pengharapan Magek Manandin untuk berkomunikasi dengan dunia luar dan untuk menunjukkannya jalan keluar dari lurah dalam. Dan kisah Magek Manandin, pemuda gagah dari nagari Saniangbaka inipun berbuah segala yang baik pada akhirnya. Sebagaimana kaba dikabakan.

2
Secara ringkas saya tulis lagi kaba Magek Manandin pada tulisan ini dengan beberapa gubahan secara prosaik. Kaba yang mungkin sudah dilupakan oleh sebagian orang, atau malahan mungkin sebagian besar orang muda tidak tahu lagi. Kaba ini pada zamannya berkembang dalam tradisi lisan (oral tradition) dan sudah pernah diterbitkan beberapa kali dalam bentuk buku ditulis oleh Sutan Pangaduan dalam bahasa dan logat Minang. Kaba Magek Manandin dalam bentuk buku pernah diterbitkan Tsamaratul Ichwan, Bukittinggi, sampai cetakan XI, hingga tahun 196I. Departemen Pendidikan & Kebudayaan, dalam Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah juga pernah meneribitkan Kaba Magek Manandin dan terakhir dari data yang saya dapat hingga tahun 2009 penerbit Kristal Multimedia, Bukittinggi, juga telah menerbitkan hingga cetakan ketiga.  

Bukan cuma karena selaku penggiat sastra, tapi selaku orang Saniangbaka, saya menyukai bahkan saya merasa harus mengagumi setiap jalinan cerita dalam kaba Magek Manandin.  Terutama untuk setting cerita kaba tersebut berada di kampung dimana saya tumbuh besar. Saya tidak paham juga kenapa beberapa orang menganggap kaba tersebut sebagai bangunan wacana buruk sebab di dalamnya diceritakan seorang pemuda gagah dari Saniangbaka yang suka berjudi, mengadu ayam, lantas dibuang. Barangkali karena kaba dituntut untuk menjadi otoritas komunal karena kaba ditujukan bagi publik umum sehingganya kebenaran-kebenaran di dalam kaba tersebut telah menjadi kebenaran komunal dan membenarkan segala sesuatu di dalamnya.  

Saya teringat sebuah tulisan Yasraf Amir Piliang, dosen Pascasarjana Fakultas Seni Rupa dan Disain ITB, dengan judul Aura Kaba, Narasi Rupa. Tulisan yang ditujukan untuk penghantar sebuah pameran seni rupa dengan judul BAKABA oleh Komunitas Seni Sakato di Jogja National Museum (JNM), Jogja, 17-23 Februari 2010 tersebut mengulas bagaimana kaba dimaknai secara sempit dan luaspengertian secara sempit, kaba menunjuk pada satu jenis sastra lisan Minangkabau. Kaba merupakan sebuah bentuk seni tradisi, yaitu ungkapan estetik indigenous yang mengandung nilai informasi dan pesan di lingkungan budaya setempat. Dalam pengertian luas, kaba dimaknai sebagai segala bentuk kabar atau perkabaran, baik kabar pribadi, sesama teman, dalam media, pesan militer, dalam pendidikan; baik yang berlangsung di lingkungan keluarga, kelompok, komunitas, masyarakat, negara bahkan umat manusia. Dalam pengertian luas, kaba merupakan manifestasi dari hasrat manusia untuk berbagi, bertenggang rasa, berempati dan berinteraksi satu sama lainnya.  

‘Kaba’ (kabar) adalah mekanisme kultural yang memanifestasikan esensi manusia sebagai homo homini socius, terang Yasraf Amir Piliang dalam tulisan tersebut. Sapaan A kaba? (Apa kabar?) adalah ungkapan terdalam rasa sosial dan kencintaan sesama manusia. Kita mungkin tak perlu menanyakan atau memberi kabar seseorang, tanpa dorongan rasa sosialitas dan kebersamaan itu. Kaba, dengan demikian, adalah sebuah mekanisme sentral dalam arsitektur sosial, yang melibatkan bahasa, rasa, nalar dan imajinasi. Inilah yang membedakan manusia dari hewan, yaitu pada kapasitas pemahaman dan ‘imajinasi’ tentang ‘kebersamaan’ sebagai manusia. ‘Bakaba’ (berkabar atau ‘memberi kabar’) menunjukkan keniscayaan rajutan alam sosialitas manusia, yang merasa perlu saling berkabar satu sama lain secara sosial. Yasraf  juga menegaskan bahwa sebagai sebuah wacana, kaba dibangun di dalamdan hanya di dalampraktik sosial (social practice), yaitu praktik ‘bakaba’, yang digelar di dalam ‘ruang sosial’ tertentu (social space): pasar, lapau, surau, dangau, tempat pertunjukan dan upacara adat. Di ruang-ruang sosial itulah komunitas melakukan ‘pertukaran’ atau ‘transaksi bahasa’, sebagai cara untuk mentransfer pengetahuan (adat, agama, sosial), dan tentunya untuk memahami dan memaknai dunia.  

Salah satu tulisan dari Yasraf Amir Piliang tersebut yang membuat saya semakin mengagumi bahkan harus mengagumi bagaimana tradisi bakaba dibangun dari zaman lampau sebagai praktik penghadiran wacana. Dan kaba Magek Manandin selaku kaba menceritakan seorang anak muda dari Saniangbaka dan berlatarkan Saniangbakasebagai kaba yang disejajarkan dengan klasifikasi kaba tareh runuik seperti kaba Cindua Mato oleh Emral Djamal, peneliti dan budayawan Minangkabaumembuat saya mengagumi ketegangan-ketegangan cerita dan bangunan wacana di dalamnya.  

3
Di luar persoalan ke-alpa-an terhadap kaba Magek Manandin, di luar persoalan wacana di dalam kaba tersebut, ada ingatan menarik yang membuat saya menghubungkan tulisan ini dengan kaba tersebut. Saya menganggap bagian dari diri Magek Manandin itu adalah saya, adalah teman sebaya saya semasa di kampung, atau barangkali mereka yang pernah merasa menjadi bagian dari kisah Magek Manandin. Tidak semua buruk tentang Magek Manandin. Ia bukan hanya konotasi untuk judi dadu, sabung ayam, tapi ia seakan menjadi kesepian bagi seorang yang diasingkan.  

Magek Manandin adalah mereka yang terasing atau meng-asing-kan diri ke tempat-tempat yang jauh, bisa jadi rantau, oleh sebab karena sesuatunya. Lurah dalam, tempat pengasingan Magek Manandin, mengingatkan saya pada manifestasi rantau tempat teman-teman sebaya saya satu-persatu mulai meninggalkan kampung. Ke rantau, meski di riuh-rendahnya suasana kota besar di seluruh pelosok Indonesia ini, tetap ada kesunyian seperti yang dirasakan Magek Manandin. Kesunyian itu adalah bagian dari kangen pulang ke kampung, bermain di tepian batang air atau pematang sawah, bergurau di lapau, atau berkumpul-kumpul dengan rombongan di Beringin Kapalo Labuh, Balai Gadang, Balai Lalang, Balai Batingkah, dst.   Seperti juga Magek Manandin, saya, teman sebaya saya semasa dikampung barangkali benar merasa bagian dari kisah dalam kaba tersebut.

Penghukuman, atau barangkali sebuah keharusan yang membuat kita harus bakirok dari kampung halaman. Setiap mengingat kaba tersebut ingatan saya selalu dibawa ke kampung, Saniangbaka, dan sensasi itu memberikan kebahagian tersendiri. Bahkan ketika mengingatnya ada kegetiran, ketakutan, tapi lebih banyak lagi kelucuan yang membuat saya tersenyum bila mengingat ketika teman-teman sejawat masih ramai di kampung.   Lucu bila mengingat saya, juga teman-teman sejawat saya, pernah kasmaran dan menyukai seorang gadis di kampung dan dia menunggu dengan penuh pengharapan tapi cinta di hari lalu itu tidak kunjung kesampaian. Kasmaran ini juga dirasakan Magek Manandin pada tunangannya Puti Subang Bagelang.

Lebih lucu lagi, bila mengingat perangai jika sudah berkumpul bersama-sama, dan terkadang anggapan buruk melekat dan mengharuskan saya, juga teman-teman sejawat saya, pergi meninggalkan kampung ke rantau-rantau yang jauh sebagai bagian penghukuman sosial. Inilah kenapa saya merasa kita dekat dengan kaba Magek Manandin, kaba yang saya rasa adalah bagian dari diri kita dan berbagai hal bisa dimaknai dalam kisahnya.   Rantau barangkali adalah tempat riuh (dengan limpahan materi) yang sebenarnya paling sunyi. Saya merasakan itu juga, meski saya tinggal di Padang, boleh dikata tidak jauh jaraknya dengan kampung dibanding kawan-kawan sejawat saya yang terkadang sudah belasan tahun putus komunikasi dengan saya dan tidak jelas lagi dimana rantaunya. Seringkali juga saya merasa seperti Magek Manandin dihukum di lurah dalam, ingin pulang ke kampung tapi tidak tahu jalan pulang, dan berharap sesuatu menunjukkan jalan. ***  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s