MEMBELI JANTUNG PISANG

–percakapan dengan  Deddy Arsya   

Ke pasar Aiaangek
jantung pisang itu hendak dibeli.  

Dan aku jalan pagi
menurun dari Pandaisikek.  

Truk-truk pengangkut sayur melaju mengelabut
angkot bermuncung panjang itu turunkan penumpang sembarangan
penjujung sekarung sawi di kejauhan terjungkal masuk sawah.
Sungguh, pagi serasa derik patahan roda pedati,  pagi
dengan angin bergerak terburu menyudu pangkal tembusuku.  

“Istriku, barangkali di sini tanah terlalu gembur
lobak kita tanam uratnya busuk
pucuknya busuk. Hari ini berapa harga sekaleng susu anak?” 

Ke pasar Aiaangek
Jantung pisang itu hendak dibeli.  

Dan aku jalan pagi menurun
dari Pandaisikek.  

Gadis berpipi merah memainkan musik dari ponsel di tengah pasar
seorang garin surau kulihat mengembangkan lapak daun tembakau toke-toke datang dari kota mengepakkan uang ke urat batang pisang.
Dan gunung itu, tiap pagi seperti terlilit sorban orang baru pulang haji
lilitan yang tiap pagi pula seakan mencekik leherku.  

“Ke kota, istriku, kita akan ke kota dengan matahari yang lebih garang dari tempat ini. Hari ini berapa harga sekaleng susu anak?”         

September 2014

Dimuat di Riau Pos, 28 September 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s