KOMUNITAS, REGENERASI, DAN FESTIVAL SASTRA

10394101_4558404773806_974818285367122111_n

Pada saat kedatangan Hary B Koriun ke Padang sebagai pengarang undangan dalam agenda Padang Literary Biennale (PLB) 2014 (19-21 September), saya berjanji menemaninya bercerita, tentang banyak hal mengenai gairah berkesusastraan di kota saya. Saya ingin mengetahui juga dari Hary B Koriun mengenai perkembangan kawan-kawan di Pekanbaru. Tapi kami tidak kunjung menemukan waktu tepat. Mulai dari terkendala cuaca, terkendala keruwetan tugas-tugas saya saat festival tersebut diselenggarakan, dan berbagi waktu dengan anak yang umurnya baru satu bulan.

Pertanyaan-pertanyaan yang saya simpan dan ingin saya pertanyakan pada Hary B Koriun sedikit menemukan jawaban ketika Ia berbicara bersama Neni Muhidin dari Palu (Sulawesi Tengah) pada sesi dengan tema “komunitas sastra dan literasi”, hari terakhir penyelenggaraan PLB di Rumah Kopi Nunos. Waktu yang sebentar memang, lebih kurang dua jam, tapi berbagai persoalan dikuak oleh Hary B Koriun mengenai perkembangan sastra termasuk komunitas sastra di Pekanbaru. Juga Neni Muhidin dari Palu, Ia bicara banyak soal maju-mundurnya kesusastraan dan komunitas di daerahnya.

Beberapa orang bertanya, “Hary B Koriun, bukankan di sesi lain? Bukankah seharusnya ia berbicara soal proses kreatif novel-novelnya?”. Tapi beberapa persoalan terjadi di agenda yang baru kali pertama kami adakan dengan mengundang belasan penulis dari luar daerah dan penulis dari Sumbar Sendiri. Tidak hanya soal kesiapan penyelenggara, soal cuaca dengan hujan lebat yang tetap kami syukuri, juga beberapa penulis undangan yang kami undang dan sudah kami persiapakan tema diskusinya tiba-tiba tidak bisa hadir.

Perubahan tema dan pergantian pembicara pun saya siasati dengan cepat, kebetulan saya salah seorang yang memprogram tema-tema diskusi dan menyesuaikan tema tersebut dengan penulis yang akan kami undang. Saya bicarakan perubahan itu Heru Joni Putra, Fariq Alfaruqi, dan Pinto Anugerah, kawan-kawan saya di Komunitas Kandangpadati (Lembaga Kebudayaan Ranah) yang merupakan payung dari agenda PLB—dari pertimbangan kami Hary B Koriun pastilah kenal persoalan komunitas di Pekanbaru.

Dan memang, ketika saya hadir pada sesi Hary B Koriun dan Neni Muhidin, beberapa pertanyaan di benak saya mengenai perkembangan kesusastraan dan komunitas di beberapa daerah saya temukan jawabannya. Hary B Koriun sedikit-banyaknya juga memahami perkembangan kesusastraan di Padang, karena ia juga pernah berproses di sana, dan bisa memberikan perbandingan. Tidak semuanya memang pertanyaan yang saya simpan selama ini terjawab. Untuk itulah saya menuliskan catatan ini, sebagai pemantik, dengan harapan ketika tulisan ini dibaca akan ada balasan dari kawan-kawan di Pekanbaru khususnya.

Komunitas dan Regerasi

Pada rentang waktu akhir 2008-2009 saya membaca di media sosial, Sekolah Menulis Paragraf membuka ruang belajar bagi generasi muda di Pekanbaru—meski pada akhirnya saya tahu Komunitas Paragraf sebenarnya sudah berdiri sejak tahun 2006. Saya berusaha mencari tahu program-program sekolah menulis itu termasuk juga siapa insiatornya. Keseluruhan inisiator saya kenal lewat karya mereka, beberapa di antaranya sempat bertemu: Marhalim Zaini, Hary B Koriun, Budi Utami, Olyrinson.

Memperhatikan tumbuh dan berkembangnya sebuah komunitas sastra di daerah lain adalah salah satu kegemaran saya. Dengan memperhatikan itu saya juga bisa belajar dan mengambil banyak hal untuk kemudian berbagi di kota saya. Sesekali saya kunjungi komunitas-komunitas tersebut untuk mempelajari program-program mereka—saya bahkan datang berdiskusi soal program ke komunitas besar seperti Komuntitas Ininnawa (Makassar) dan Tikar Pandan (Banda Aceh). Begitu juga dengan Komunitas Paragraf, saya berusaha memperhatikan kegiatan kawan-kawan meski hanya lewat media sosial.

Komunitas Paragraf beberapa tahun belekangan bisa saya baca rekam jejaknya lewat karya kawan-kawan yang bergiat di sana. Saya membaca karya-karya Guri Gidola, Cahaya Buah Hati, Jeni Fitriasha, Anju Zasdar, Mamad Hidayat, Refila Yusra, May Moon Nasution, Zurnila Emhar CH, Cikie Wahab, Febbie Fortinella Rusmoyo, dll—salah seorang penulis kritik saya kenal juga Desi Somnalia barangkali pernah ikut berdiskusi bersama Komunitas Paragraf. Karya-karya mereka tersebar di berbagai halaman sastra koran daerah dan nasional.

Bagi saya, ini adalah sesuatu yang menarik, bahkan teramat menarik untuk diperbincangkan. Regenerasi penulis adalah sebuah persoalan pelik di daerah. Bahkan di beberapa daerah saya ketahui bahwa renegerasi penulis sastranya tidak terjaga dengan baik sebab sastrawan yang umumnya telah mapan (atau telah lebih dulu berkarya) tidak mau, enggan, bergabung memperbincangkan karya dengan penulis muda. Saya tidak tahu, apakah dikarenakan eksklusifitas dari sastrawan mapan sehingga membuat segalanya berjarak.

Terkadang saya sempat cemburu—bagi saya kecemburuan yang baik mesti dijaga—program Sekolah Menulis Paragraf bisa mengasah dan menjaga kelangsungan berkarya banyak penulis baru. Karya-karya mereka bertebaran dengan bidata berkolofon “Komunitas Paragraf”. Sama halnya dengan usaha yang dilakukan kawan-kawan di Padang beberapa tahun lalu, tertera kolofon Komunitas Daun, Komunitas Ilalang Senja, Komunitas Kandangpadati, dst. dan pada akhirnya hilang begitu saja meski secara personal orang-orangnya masih berkarya.

Inisiasi pendirian Komunitas Paragraf saya pikir sudah membuahkan hasil dalam beberapa tahun belakangan. Mungkin kawan-kawan di Pekanbaru tidak menyadari itu. Kegelisahan para pendiri Komunitas Paragraf untuk memperlancar regenenasi penulis karya sastra dengan membuat ruang alternatif sudah menemukan jalan sendiri. Ibarat kata orang kampung saya, kajinya sudah menurun, sebab berapa penulis-penulis muda sudah hadir dengan ciri khas karya mereka sendiri. Di halaman-halan sastra koran dan buku sastra orang-orang kini tidak hanya kenal nama-nama seperti Taufik Ikram Jamil, Fakhrunnas MA Jabbar, Marhalim Zaini, Budi Utamy Olyrinson, Hary B Koriun, dst. sebagai penulis dari Pekanbaru, Riau.

Tapi setelah kaji menurun ada lagi kaji mendaki sedang menunggu, mempertahankan regenerasi tersebut adalah satu soal sulit. Regenerasi yang muncul seketika saja untuk hilang selama-lamanya. Kecemasan ini ada juga pada saya, pada kawan-kawan di Padang tentunya.

Festival Sastra

Dari persoalan komunitas dan soal regenerasi saya ingin beralih pada sebuah perayaan bernama festival. Perayaan yang menurut saya harus ada di kota-kota atau di daerah yang menginginkan regenerasi penulisnya terus ada. Tidak semua festival-festival besar di Indonesia, atau di luar negeri yang bisa memberikan apresiasi dengan mengundang semua penulis-penulis daerah. Tapi dengan sebuah festival sendiri, setidaknya kita bisa memberi ruang apresiasi pada kawan-kawan di daerah sendiri yang belum berksempatan diundang festival lain di luar daerah.

Saya mengenal Anugerah Sagang di Pekanbaru, tapi itu soal lain menurut saya, peristiwa lain di luar festival sastra. Korea-Asean Poet Literary Festival (KAPLF) II pada tahun 2011 yang diadakan di Pekanbaru barangkali bisa menjadi sebuah rujukan penting sebuah festival sastra. Festival yang menurut saya sangat besar, dengan mengundang penyair dari berbagai negara, dan konten-konten menarik dalam rangkaian acaranya—dan saya berkesempatan menjadi salah satu undangan pada waktu itu.

KAPLF II juga merupakan salah satu pusat pembicaraan saya ketika PLB digagas pada awal tahun 2012. Selain itu kami bicarakan juga festival sastra seperti Bienal Sastra Salihara, Ubud Writers & Readers Festival, dan Makassar International Writers Festival. Dari festival-festival-festival besar itulah kami berpikiran bahwa sudah sepantasnya di Kota Padang ada festival sastra. Meski tidak sebesar festival-festival sastra yang saya sebut itu, tapi harus ada, untuk menjaga iklim berkesusastraan di kota saya itu. Agar masyarakat di kota tersebut tahu bahwa regenerasi penulis karya sastra terus tumbuh di kota itu—upaya agar masyarakat tahu dengan karya mereka.

Saya punya pengalaman menarik ketika menghadiri undangan KAPLF II—perihal ini saya ceritakan juga pada Hary B Koriun pada sesi diskusinya di PLB. Sewaktu kedatangan saya ke festival tersebut, di depan hotel bintang lima yang disediakan panitia, saya disambut oleh seorang yang tidak pernah saya duga-duga. Orang itu, adalah Pak Rida (K Liamsi). Dengan memakai jas, sepatu khasnya, ia menyalami saya dan membuat saya senyaman mungkin sebagai undangan. Bahkan ketika saya mengurus perpindahan kamar hotel, Pak Rida pun turut membantu mengkonfirmasikan pada panitia lain. Saya berpikiran pada waktu itu barangkali Pak Rida berusaha menjaga festival tersebut sampai pada hal-hal yang kecil. Menjaga agar berjalan dengan baik, pelayanan baik, sehingga tamu-tamu nyaman dengan kehadirannya langsung di lapangan.

Dari beberapa hari kehadiran saya di KAPLF II, saya melihat festival tersebut memanglah peryaaan besar. Tamu-tamu dilayani dengan baik, menginap di hotel bintang lima, diajak berkeliling daerah-daerah di Riau, konten-konten acaranya menarik dengan melibatkan banyak seniman. Tentu saja saya cemburu dengan festival yang benar-benar membuat para sastrawan (undangan) dilayani sebagai tamu kehormatan.

KAPLF II tentu sebuah festival berbeda, festival milik bersama, yang daerah atau negara mana saja di Asia ini bisa mengadakannya tergantung kesepakatan dan kesanggupan para inisiatornya. Tetapi setelah KAPLF II saya tidak melihat lagi sebuah festival sastra di Pekanbaru (barangkali saya luput). Dan saya sempat berpikir, kenapa orang-orang mudanya tidak berinisiatif untuk membuat sebuah festival?

Festival yang saya maksud di sini berbeda dengan festival serupa Temu Sastrawan Indonesia, Pertemuan Penyair Nusantara, dan pertemuan-pertemuan lainnya yang menunggu seratus persen digelontorkannya dana dari anggaran pemerintah. Festival yang tidak terlalu bertumpu pada kehadiran banyak sastrawan, dirayakan semampunya, tapi mempunyai efek besar pada keberlanjutan semangat orang muda untuk terus berkarya.

Saya kira Pekanbaru punya kekuatan. Perusahaan-perusahan besar berdiri, mall-mall besar, hotel-hotel mewah, semua serba berkecukupan saya rasa daripada kota saya—bahkan di kota saya, ibukota provinsi, terminal bus saja tidak ada. Dan barangkali kawan-kawan di Komunitas Paragraf bisa mewujudkan ini, sebuah festival sastra milik sendiri, tema pilihan sendiri, pengkurasian sendiri, dan hal-hal teknis lainnya milik sendiri. Kian banyak festival sastra (seni lainnya) di negeri ini, tentu akan membahagiakan.

Esha Tegar Putra, penyair, tinggal di Kota Padang.

Dimuat di halaman esai koran Riau Pos, Minggu, 5 Oktober 2014 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s