PADANG LITERARY BIENNALE: “KOTA DALAM RETAKAN TEMPURUNG”

10411891_4391174153145_7057877423793590838_n

Saya memegang seutas tali dengan rentang panjang delapan meter sambil menulis tengah malam. Satu ujung tali saya genggam erat, ujung lain terikat pada buaian rotan anak saya. Saya menulis, memegang tali, dan terus mengingat puluhan anak muda berjaga malam untuk mewujudkan sebuah festival sastra. Saya menulis, mengutuk diri sendiri, mengutuk ‘kota ini’, kota yang seperti berada di dalam retakan tempurung, dan saya memandang mimpi-mimpi dari arah retakan itu—mimpi-mimpi bergelantungan di langit benderang. Saya mengutuk berkali-kali hingga saya sadar keajaiban tidak akan pernah datang dari kutukan demi kutukan.

Saya teruskan menulis, masih sambil memegang tali dan menariknya pelan berulangkali, mengingat surat dari seorang sahabat dari timur sana yang belum saya balas. Ujung tali yang saya pegang mengingatkan jarak saya dan sahabat itu. Setiap tarikan pada tali saya bayangkan keinginan saya untuk mengajaknya ke Padang, namun tarikan itu tidak sampai-sampai (atau mungkin belum sampai).

Sahabat saya itu Kiki Sulistyo, penyair, salah seorang undangan kami di agenda Padang Literary Biennale 2014 yang akan berbicara persoalan komunitas sastra di daerahnya, Lombok. Saya dan beberapa penggerak PLB sudah jauh hari berencana mengundangnya, ia bersemangat hadir, namun pada akhirnya ia tidak bisa datang karena sesuatu hal. Ia jelaskan dalam surat yang dikirimkannya pada saya beberapa hari sebelum agenda PLB 2014 berlangsung dari tanggal 19-21 September kemarin.

Surat dari Kiki Sulistyo menjadi pesakitan bagi saya, tantangan juga bagi kawan-kawan penggerak PLB ke depannya. Sebab kami yakin, jika Kiki datang tentu ia akan berbicara berbagai hal persoalan komunitas dan geliat sastra di daerahnya sana. Sebagaimana Neni Muhidin dari Palu dan Hary B Koriun dari Pekanbaru bercerita dalam sesi “membicangkan komunitas literasi dan sastra di beberapa daerah” pada tanggal 21 September lalu di rangkaian diskusi PLB 2014—seharusnya di sesi itu juga ada Kiki Sulistyo.

Surat dari Kiki Sulistyo tentu pribadi sifatnya, ditujukan pada saya, mengenai kenapa ia tidak bisa datang ke PLB 2014. Tapi persoalan yang dihadapi Kiki adalah persoalan bersama, tidak hanya terjadi di daerahnya, juga di Sumatera Barat beberapa daerah lain. “…Undangan dari Bung kami cetak dan beberapa kawan menyebar di daerah domisilinya masing-masing untuk mencoba permohonan bantuan. Beberapa kantor dinas dimasuki. Bahkan hingga ke Bupati dan Wakil Bupati. Tapi seperti kekhawatiran yang menyelip di antara harapan, semua itu tak menemu jawab yang pasti. Birokrasi adalah meja ping-pong dan kami adalah bolanya,” tulis Kiki dalam suratnya.

Surat itu membuat perasaan saya campur aduk. Kiki dan beberapa teman di daerahnya sudah berupaya untuk datang ke PLB 2014 yang menurut mereka adalah sebuah peristiwa penting untuk. “Waktu pertama kali Bung menelpon, saya sedang berada di Bangsal. Duduk di sebuah warung kecil di pelabuhan penyeberangan menuju Gili Trawangan itu. Sungguh, ah, betapa saya sudah lama ingin mengunjungi kota yang banyak melahirkan sastrawan ternama itu”, tulis Kiki. Ia membuat saya berpikir melompat jauh ke depan untuk mencarikan solusi dari persoalan-persoalan yang banyak dihadapi sastrawan ketika diundang dalam agenda kesusastraan.

 

PLB, dari Gagasan hingga Tantangan

Saya tidak ingin berharu-biru dalam menuliskan catatan ini, tidak pula berharap orang-orang membaca dengan sendu dan iba hati. Tapi saya dan kawan-kawan penggagas PLB tentu belajar dari surat dari Kiki, dari pelaksanaan agenda yang sudah berlangsung beberapa hari lalu. Sebagaimana PLB digagas pada awal 2012 lalu, melalui Komunitas Kandangpadati, kami merasa sebuah festival sastra harus ada di kota Padang. Festival bermartabat, dimana para sastrawan mendapat tempat berapresiasi—karena tidak semua sastrawan Sumbar mendapat kesempatan hadir di festival-festival besar di Indonesia—kami ingin sebuah festival dengan garapan yang lain dan punya ciri khas tersendiri, festival yang ditunggu banyak orang. Kami juga punya harapan sebuah festival dimana masyarakat berbahagia menikmati karya-karya dari sasrawan dari Sumbar—karya-karya mereka menyebar di koran-koran dan buku, namun masyarakat tidak banyak mengetahuinya.

Menghadirkan festival tentu berat, karena tidak semua festival besar (di Indonesia) bisa bertahan meski dalam sokongan dana besar. Karena itulah PLB pada 2012 digagas dengan semangat swadaya. Dimana para sastrawan hadir dengan bantuan lembaga, komunitas, pemerintah, atau donatur di daerah mereka.

Dan pada 28 April 2012, PLB 2012 terlaksana dengan sederhana. Belasan penyair muda Sumbar baca puisi, beberapa perwakilan komunitas bermain musikalisasi puisi, dramatisasi, dan musik: mulai dari Bengkel Seni Tradisi Minangkabau, Ranah Teater, Teater Rumah Teduh, Nan Tumpah, IAIN Imam Bonjol. Beberapa perlengkapan dipinjam dari Teater Langkah FIB Unand. Unit Kegiatan Seni (UKS) Unand mendukung kami dengan meminjamkan sound-system. Semua penghuni Kandangpadati memanajemeni acara senderhana ini, bahkan tetangga-tetangga sebelah kontrakan meminjamkan kursi. Beberapa orang kolega menjadi donatur, membawa kue, kopi, dan ada yang meluangkan waktu keahlian memasak. Tak diduga-duga, meski hanya agenda pembacaan puisi dan apresiasi dari sore hingga malam, tapi hampir 350-400 orang hadir secara bergantian untuk mengapresiasi agenda tersebut.

Semangat itu yang dibawa dalam pelaksanaan PLB 2014. Dengan usaha untuk terus mewujudkan festival ini ada, para penggagas yang notabenenya tergabung dalam Komunitas Kandangpadati dan Lembaga Kebudayan Ranah mencari tim untuk memanajemeni agenda ini. Kami mengajak beberapa anak muda kota Padang, dengan mengajukan Lolly Elysha Fauzy sebagai Direktur Program, untuk memilih timnya—yang tentu tidak bisa diurai satu-persatu—dalam ‘eksekusi’ acara, sedangkan konten acara (termasuk konten diskusi sastra dan sastrawan undangan) dijaga oleh Heru Joni Putra, Fariq Alfaruqi, dan Pinto Anugrah, dll.

Kurenah Kato; Kato Puisi Kato Manyimpan, Kato Curito Kato Manggabaan” sebagai pengikat tematik acara pun didapat dari falsafah Minangkabau. Meski dalam perjalanan beberapa konsep dan konten awal diganti dengan cepat karena keterbatasan biaya dan persoalan lain. Pada awalnya, kami berharap sastrawan undangan PLB 2014 akan kami inapkan di rumah-rumah para sastrawan, seniman, budayawan, dan tokoh penting Sumatera Barat (termasuk kantor komunitas) yang berada di Padang. Semisal rumah alm. Wisran Hadi, Rusli Marzuki Saria, Mestika Zed, Gusti Asnan, Ery Mefri, dll, dengan harapan para sastrawan undangan tersebut pada waktu rehat bisa berbincang dengan penghuni rumah tentang sejarah dan kebudayaan Minangkabau. Tapi memang keinginan tersebut harus diundur mewujudkannya karena terkendala beberapa hal.

Dalam pelaksanaannya, sebagaimana harapan kami bahwa PLB 2014 pelan-pelan akan membuka jaringan seluas-luasnya dengan lembaga dan komunitas seni (termasuk penerbit buku) di luar Sumbar, niat kami pun disambut beberapa pekerja seni dan sastrawan undangan dari luar daerah. Misalkan Nirwan Dewanto dan Ayu Utami dari Komunitas Salihara, Okky Madasari dari Asian Literary Festival, Ollin Monteiro dari Arts for Women, Aan Mansyur dari Makassar, Hary B Koriun dari Pekanbaru, Ni Made Purnama Sari dari Bali, Neni Muhidin dari Palu, merekalah yang mengisi konten-konten rangkaian diskusi dan apresiasi yang direncanakan—termasuk pengarang, sasrawan, dan penyair Sumatera Barat seperti Maya Lestari GF, Rio SY, Ramoun Apta, Mahatma Muhammad, dll—dibantu Zelfeni Wimra, Yetti Aka, Mila K Sari dalam memoderatori beberapa sesi diskusi.

Dari upaya penggagas dan volunter, beberapa komunitas dan grup musik pun bisa hadir, dengan kelapangan-hati dan atusiasme mereka mendukung PLB. Tentu ini adalah suatu bentuk apresiasi bahwa mereka mendukung sepenuhnya agenda ini, meski masih dalam tahapan swadaya. Juga para sponsor dan donatur dengan kelapangan hati dan pengertian mereka.

Keberlanjutan PLB

Catatan ini saya kembalikan pada surat Kiky Sulistyo, tentu kami berharap PLB kedepannya didukung banyak orang sehingga harapan PLB menjadi festival bermartabat bisa diwujudkan. Kota Padang sebagai salah satu daerah yang melahirkan banyak sastrawan dari masa ke masa tentu sudah selayaknya membantu mewujudkan itu. Tidak hanya pemerintahan saja, melainkan seniman, sastrawan, swasta, dan donatur lainnya. Dengan hal ini tentu festival sebuah bisa menghargai undangan dengan tidak perlu merepotkan mereka harus mengupayakan kedatangan sendiri.

Kerja festival memang adalah kerja keberbahagiaan, namun bukan itu saja. Kerja festival juga harus menimbang jauh ke depan dan mendatangkan manfaat bagi banyak orang. Dengan festival para satrawan bisa mendapat ruang apresiasi, satrawan termasuk komunitas bisa mendapat jejarinng luas dan membuka akses ke berbagai penjuru daerah, dengan festival sebuah kota menemukan cirinya tersendiri, dengan festival masyarakat juga mendapatkan berkah, dengan festival yang digarap baik tentunya.

PLB mesti banyak belajar pada festival-festival besar di Indonesia untuk menemukan dirinya sendiri. Ubud Writers & Readers Festival misalnya bisa membuka jaringan ke seluruh penjuru dunia dan membuat daerah Ubud diramaikan wisatawan pada saat festival tersebut, misalnya. Atau Makassar International Writers Festival dengan kerja jeraringnya mampu mengharap sebuah festival dengan konten-konten acara yang menarik dan mampu membuat pemerintahan kota dan donatur-donatur di Makassar ikut merasa festival tersebut milik mereka. Bienal Salihara yang tiap tahun mengundang banyak sastrawan dengan tema-tema yang mengagumkan. Tentu, PLB akan belajar dari festival-festival besar itu sampai memukan formatnya sendiri. Dan Asian Literary Festival di Jakarta yang juga menghadirkan banyak para pengarang dan sastrawan.

PLB 2014 sudah berlangsung, semua orang punya pandangan, apakah sudah berhasil atau belum tentu semua tentu mempunyai kesan tersendiri. Dan PLB 2016 sudah menunggu untuk dilanjutkan kerjanya.

Saya ingin menutup catatan ini dengan mengutip lagi bagian dari surat sahabat saya Kiki Sulistyo: “Matahari merayap di ketinggian. Jam beranjak menuju siang. Bakarti, dusun tempat tinggal saya, sedang dihajar kekeringan. Suatu keadaan yang harus dihadapi setiap tahun. Saya berharap ada hujan, menghapus panas, menghanyutkan rasa cemas… Mudah-mudahan kita bersua di lain ketika.” Terima kasih untuk orang-orang yang telah mewujudkan PLB 2014 tanpa terkecuali.

 

Esha Tegar Putra, Penyair, Penggagas Padang Literary Biennale.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s