BUKAN FESTIVAL BUDAYA SERAMPANGAN

Tentang Padang Bagalanggang International Performing Arts Festival, dan beberapa festival seni-budaya lain di Padang, Sumatera Barat… | Dimuat di Padang Ekspres, Minggu, 9 November 2014.

 

bukan

Dengan memakai pakaian bagus, tua-muda, besar-kecil mulai berdatangan ke Ladang Nan Jombang. Gadis-gadis mengenakan gincu di bibir, sedikit celak di lingkar atas mata, dan parfum semerbak meninggalkan wangi di setiap pelangkahan. Ibu-ibu tua dan setengah baya berkain-sarung, bersongkok kepala, siap menunggu terdengar pengumuman dari pengeras suara untuk memasuki gedung pertunjukan. Begitu juga anak-anak, mereka berputar-putar sebentar di lingkungan Ladang Nan Jombang, melihat-lihat belasan lampu damar dihidupkan di atas tembikar dan kegirangan melihat orang ramai.

 

Gambaran peristiwa tersebut terjadi ketika malam pertama pertujukan Padang Bagalanggang International Performing Art Festival (Padang Bagalanggang) kedua, 26 Oktober lalu, di Ladang Tari Nan Jombang, Rimbo Tarok. Malam itu saya meyakinkan diri, pastilah sebagian besar dari orang-orang di Kampung Rimbo Tarok, tidak tahu betul apa agenda tersebut, siapa yang akan menari.

 

Saya juga meyakinkan diri, sebagian besar hadirin yang lain juga tidak akan mengira, bahwa ternyata koreografi tari dunia terus berkembang di luar dugaan mereka. Dan memang, malam pembuka tersebut sangat pamungkas, Rianto (Dewadaru Dance Company) tampil melalui koreografi Body Without Brain secara total dan mengesankan menari bersama seorang penari lain selama kurang lebih 45 menit.

 

Sesudah Rianto, penari asal Banyumas yang kini tinggal di Jepang tersebut selesai, tampil Blushing Poppy Dance Club dari Chicago, Amerika Serikat. Dengan koreografi berjudul dreamAdrift koreografer Nocole LaGette, penonton tetap bertahan selama kurang-lebih 55 menit, meski dalam kelambanan pola gerakan penari dan kesan kurang total.

 

Perhatian menarik yang terus mendapat porsi lebih saya malam itu adalah hubungan antara peristiwa agenda Padang Bagalanggang dan penonton. Iklim dan suasanya penonton pertunjukan kontemporer seakan sudah terbangun dengan baik. Mulai dari awal, ketika penyelenggara mengumumkan bahwa pertunjukan akan dimulai dan penonton dipersilahkan masuk. MC mengumumkan bahwa ruang tersebut bebas dari asap rokok dan tanpa dering ponsel, termasuk selama pertunjukan tidak ada penonton yang mondar-mandir keluar-masuk, semua tertib.

 

Di luar, sebuah layar besar melalui tembakan infocus pertunjukan di dalam pun bisa ditonton tanpa jeda. Panitia sudah mempersiapkan dengan baik, sebagai siasat apabila gedung penuh, atau jika ada penonton yang masih belum akrab dengan gedung teater dan ingin bersantai nonton sambil ngopi.

 

Peristiwa tersebut terus terjadi sepanjang penyelenggaraan Padang Bagalanggang yang saya ikuti, baik di Ladang Nan Jombang dan di Gedung Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB). Keakraban penonton dengan pertunjukan kontermporer di luar pemahaman mereka terhadap pertunjukan mulai tertepiskan. Penonton yang sebagian besar berangkat dan terbiasa dengan tontonan tradisi, dimana penonton bisa turut serta bercengkrama dengan pelaku pertunjukan, seakan terbiasa dengan segala peraturan. Mereka terus datang, dengan menggunakan laku seakan-akan pertunjukan yang berlangsung adalah randai dan saluang, dengan kebahagian bahwa akan ada amanat dan pesan moril yang akan mereka dapat dari pertunjukan tersebut. Meski pada akhirnya mereka akan membawa ketidak-mengertian dan satu pertanyaan penting: “Yang tadi itu tari ya?”

 

Mempertahankan Padang Bagalanggang

Membawa tajuk internasional dalam sebuah agenda seni pertunjukan memang adalah tanggungan berat. Tidak hanya membawa kekosongan tubuh pertunjukan namun membawa isi dari kebudayaan yang terus bergerak di dalam pertunjukan seni. BPNB Padang dengan beberapa orang kurator, telah berani mengambil risiko, menerabas batasan teritorial seni untuk dihadapkan pada publik di Kota Padang. Padang Bagalanggang seakan menjadi sebuah agenda penjembatan dimana sejauh ini masyarakat, juga pelaku seni di Kota Padang, susah mengakses pertunjukan seni dari beberapa negara lain.

 

Tigabelas kelompok seni pertunjukan (tari, teater, musik) turut serta dalam agenda tersebut dalam rentang waktu enam hari (26 November – 30 Oktober) adalah sebuah peristiwa kesenian patut diapresiasi. Mereka yang hadir, Kana Ote (Jepang), Rianto (Jepang-Solo), Natya Dance Theater Company (Chicago, Amerika Serikat), Blushing Poppy Dance Company (Chicago, Amerika Serikat), SU-EN Butoh Company (Swedia), Ileana Citaristi (India), Paul Adolphus (Australia), Anna Estelles (Spanyol), Teater Intro (Sumatera Barat), Sa’andiko (Sumatera Barat), Teater Ranah (Sumatera Barat), Impressa Dance Company (Sumatera Barat), Sanggar Seni Sending Kenayan (Sumatera Selatan).

 

Menghadirkan, meyakinkan, termasuk menajemen kelompok-kelompok seni pertunjukan dari beberapa negara tersebut bukanlah hal mudah. Masing-masing mereka, dengan membawa pertunjukan yang beragam, membawa kerumitan beragam pula. Terbukti ketika Padang Bagalanggang pertama, 2013 lalu, beberapa persoalan teknis menyangkut pertunjukan menjadi pemikiran tersendiri bagi panitia. Mulai dari kelengkapan artistik panggung sampai tata tertib penonton yang ketika itu dilaksanakan di Taman Budaya Sumatera Barat. Setidaknya tiga grup tari dari luar negeri dihadirkan pada waktu itu, T.H.E Dance Company (Singapura), Kahzan Dance Company (Singapura), Kobalt Work, Arco Renz (Brussels, Jerman), telah menjadi pelajaran penting bagi panitia dalam menyelenggarakan Padang Bagalanggang kedua kemarin.

 

Memang pada penyelenggaraan pertama tersebut hubungan antara penonton dengan pertunjukan belum terkoordinasi dengan baik. Penonton di Taman Budaya Sumatera Barat, sempat kaget ketika dalam sebuah pertunjukan undangan dari luar negeri tidak membolehkan mengambil foto pertunjukan (meski tanpa blitz)—meski peraturan seperti ini di beberapa daerah di Indonesia sudah tidak asing lagi. Ditambah lagi pihak Taman Budaya Sumatera Barat turut melakukan sensor terhadap penonton yang membawa makanan, dimana petugas keamanan mondar-mandir dari kursi ke kursi penonton selama pertunjukan berlangsung. Tapi hal tersebut tidak terjadi lagi ketika Padang Bagalanggang kedua diadakan di Ladang Tari Nan Jombang dan Gedung BPNB.

 

Dalam agenda Padang Bagalanggang kedua terlihat panitia, melalui penggabungan anggota BPNB dengan beberapa orang pekerja seni, mulai memperhatikan detail-detail kecil keterhubungan penonton dengan pertunjukan. Peraturan-peraturan selama pertunjukan mulai dibiasakan, infocus disediakan di luar ruangan untuk menyiasati batasan ruangan ditutup dan banyaknya penonton, dan beberapa hal teknis lain. Apresiasi memang patut diberikan karena usaha dari BPNB untuk memfasilitasi hadirnya agenda ini, terlebih keinginan untuk mempertahankan agenda ini. Sangat jarang memang, sebuah instutusi berani pasang badan untuk mengadakan agenda seni pertunjukan secara berkelanjutan, terlebih agenda internasional, secara serius.

 

Meminjam kalimat Joned Suryanto, Penggagas  dan Direktur Indonesia Dramatic Reading Festival (IDRF), di Koran Kompas (26/10) lalu, bahwa seni pertunjukan ini khusus dan penting digarisbawahi dibanding kesenian lain dikarenakan  seni pertunjukan lebih minim dukungan. “Jika seni rupa punya dukungan pasar (kolektor), film mampu meraup perhatian publik, dan sastra dapat menggelar hajatan tanpa penampil dan rombongan, seni pertunjukan nyaris jauh dari kesemudahan itu,” tulis Jonet. Ia juga menyatakan bahwa dalam seni pertunjukan kerumitan dan variasi bentuk membawa masalah sendiri, melengkapi raibnya segala dukungan dari negara, pasar dan masyarakat umum.

 

Mengkritisi Festival Lain

Pada tanggal 1 November 2014 lalu BPNB mengadakan Seminar Seni Pertunjukan di Basko Hotel dengan dua seni pembicaraan. Sesi pertama mengenai perkembangan seni pertunjukan di Sumatera Barat dengan panelis perwakilan dari BPNB, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumbar, dan pelaku seni diwakili Ery Mefri (Koreografer Nan Jombang Dance Company). Sesi kedua dihadirkan untuk mengkritisi sekaligus membicarakan semua pertunjukan selama Padang Bagalanggang dengan panelis Bre Redana (Koran Kompas), Yusrizal KW (Redaktur Seni dan Budaya Padang Ekspres) dan M. Ibrahim Ilyas (perwakilan kurator).

 

Menarik, dalam agenda yang turut dihadiri oleh perwakilan SKPD yang berkaitan dengan seni budaya, dosen, dan seniman tersebut ternyata sebagian besar tak hadir dan melihat satupun pertunjukan dalam agenda Padang Bagalanggang. Beberapa pertanyaan dilontarkan di sesi pertama dengan ketakutan-ketakutan bahwa seni dan budaya Minangkabau telah hilang dan lenyap ditelan perkembangan zaman dan ketakutan-ketakutan lain menyangkut susahnya mengadakan sebuah iven seni pertunjukan.

 

Barangkali benar memang pendapat Bre Redana dalam sesi kedua seminar tersebut, bahwa beberapa dinas terkait dengan seni dan budaya belum punya kesadaran penuh pentingnya membuat sebuah iven atau agenda seni yang bermartabat. Sejauh ini beberapa dinas terkait cuma menganggap agenda kebudayaan adalah agenda pelaporan, dimana anggaran sudah dibuat, dan kerja harus dituntaskan biar anggaran tersebut tidak berbalik ke kas negara. Agenda-agenda dibuat serampangan dan tidak memikirkan baik-buruknya bagi masyarakat, tidak mementingkan faedahnya bagi pekembangan seni dan budaya, yang penting agenda harus dilaksanakan sesuai juklak dan juknis dengan anggaran dana yang sudah disediakan.

 

Miris memang, jika mengambil contoh, Kota Padang punya agenda Festival Siti Nurbaya dengan dana ratusan juta tapi cuma bisa membuat agenda lomba manggiliang lado, membuat teh telur, lomba lagu minang, atau lomba mangukua karambia. Kesemua agenda tersebut seperti agenda tujuhbelas agustusan yang diadakan di kelurahan dan kecamatan. Miris juga melihat Taman Budaya Sumatera Barat punya agenda Pekan Budaya dengan dana yang cukup besar namun gaungnya tak terdengar dan dengan acara yang boleh dibilang tidak memperlihatkan kematangan dalam pandangan kebudayaan.

 

Ditambah lagi belum lama ini pemberitaan mengenai pengajuan dana Minang Fashion Week oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (kini ekonomi kreatif) memprogramkan 1 Miliar untuk agenda tidak jelas juntrungannya tersebut. Skala internasional juga dijadikan tameng oleh Burhasman Bur sekalu Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Boleh jadi Jember Fashion Carnaval harus menjadi tolak ukur bagi dinas tersebut, dimana pada awal agenda fashion dengan skala besar tersebut, tidak menggunakan dana besar. Jember Fashion Carnaval lebih menggarap masyarakat non designer sebagai kekuatan untama membangun agenda fashion tersebut hingga menjadi besar seperti sekarang.

 

Padang Bagalanggang juga boleh jadi satu contoh yang baik bagi banyaknya festival-festival dengan dana fantastis namun tak jelas di Sumatera Barat ini. Setidaknya, Kepala BPNP Padang, Nurmatias, berupaya mensinergikan lembaga yang ia pimpin dengan ide-ide yang ditawarkan oleh seniman, dan juga terbuka untuk sebuah kritik. Padang Bagalanggang dengan segala kekurangannya bisa jadi salah satu agenda percontohan dari lembaga-lembaga semacam Taman Budaya Sumatera Barat dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Barat dan Kota Padang, dalam menyelenggarakan sebuah agenda yang punya pandangan ke depan dan tidak kosong belaka.

 

Meminjam pandangan Bre Redana dalam seminar tersebut, bahwa keseriusan BPNP mengadakan Padang Bagalanggang tersebut terlihat ketika Kepala BPNB Padang “ikut berbaur bersama penonton, berdesak-desakan bersama penonton, dan ia selalu hadir menonton setiap agenda tersebut berlangsung”. Tidak seperti agenda seni dan budaya lain dimana kepala dinas atau perwakilannya memberi kata sambutan, lalu berkilah pergi tidak bisa menonton agenda yang diadakan oleh dinasnya, dengan alasan ada keperluan lain. Dinas-dinas atau instansi pemerintahan memang harus belajar banyak membangun jaringan pada agenda-agenda semacam Padang Bagalanggang dan satu agenda penting lain Sawahlunto International Musik Festival (SIMfes) yang punya keseriusan dalam membuat sebuah agenda seni dan budaya. Semoga agenda-agenda serius dan punya pandangan ke depan tersebut tetap bertahan!

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s