BUKITTINGGI

Seseorang akan berjaga lewat lubang
lubang panjang.  

Seseorang akan berjaga di reruntuhan pasir ngarai.  

Seseorang lain akan berjaga dalam gelombang radio malam.  

Dan aku mendengar gema lonceng
dari pucuk tiang jam gadang.  

Seseperti suara rel di penurunan lembah dipukul batu, berkali dan berkali bergaung mengenai jantung hati.  

“Di hadapan jam gadang mengapa orang-orang masih bertanya: jam berapa hari?” 

Mungkin memang gema lonceng
tidak memberi arti apa-apa
atau tidak berarti apa-apa
hingga di ketinggian ini
kota seakan dibunuh
lewat gairah lampu malam hari.
 
Seseorang dan seseorang lagi akan berjaga
di tiap pendakian, di tiap penuruan.  

“Jam berapa hari?” 

Padang, 2014

Dimuat di Lampung Post, 9 November 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s