DAN ANGIN ITU

Dan angin itu bergerak lagi
ke arah sini
ke arah retakan lama kota ini.  

Tiang lampu dipukul batu
tujuh kali
dingin menyisip cepat
ke dinding
dengan lumut menghitam
ke atap
dengan genteng tak rapi lagi.  

Meski aku percaya
setiap gerak angin datang
ke arah sini
telah kau titipkan
kersek suara kelambu.
Setiap gerak angin itu pula
aku merasa waktu tidak lagi
memiliki tanda seru.  

Hingga kabel yang berayun
ikut abai
lampu-lampu sepanjang jalan
turut mangkir
pada jam yang bergetar
setiap malam bertukar.  

Dan tiang lampu dipukul batu
masih tujuh kali
dingin melilit sigap
ke pintu
dengan gelupas bercak lumpur
ke jendela
dengan kaca buram debu.

Angin itu bergerak lagi
sementara waktu
masih begini.  

Padang, 2014

Dimuat di Lampung Post, 9 November 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s