SEBELUM SUBUH

Air jatuh sebelum subuh
menderu seng, meresap loteng
seperti musik sedih ditembakkan ke udara lewat corong.  

Dari lubang angin melereng itu aku tatap juga langit
menebak barangkali bintang sebenarnya terus bergerak
bintang terlontar, beralih, tapi tidak mengalih pandangan kita.  

Derai air jatuh sebelum subuh
melerai laron, mencederai balkon
seperti denting terakhir pada gelas sebelum pecah berderai.  

Dan lewat kisi-kisi yang tak rapi itu aku menebak hari esok  

bisa jadi esok serupa mata kuda tertutup dengan gerak kaki
menerabas batu, kaki bergetar, tapi jalur musti terus ditempuh.         

Sebelum subuh
aku membayangkan hari baru menunggu
terompet permulaan, almanak lama dibakar, hari penuh debar!  

Padang, 2014

Dimuat di Lampung Post, 9 November 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s