SUSI DAN MASYARAKAT DEMOKRASI KONSERVATIF

Dimuat di Koran Padang Ekspres, Sabtu, 8 November 2014.

susiMemutuskan merajah tubuh dengan tato adalah sebuah pilihan sulit dibandingkan untuk menikah, tulis Avianti Armand, seorang arsitek sekaligus penulis fiksi. Pertama, pemilihan gambar tato bisa berjuta, belum lagi memilih letaknya, dan tato akan melekat seumur hidup apabila sudah dirajah. Dan apabila ingin dihapus, pasti akan membekas, sedang menikah bisa jadi kita cuma punya pilihan satu atau dua, dan kalau pernikahan bubar, cerai mungkin tak akan bikin bekas permanen.

Pengandaian antara tato dan menikah mungkin cuma candaan di status sosial media, dengan memakai logika, dimana dua pilihan berbeda dibenturkan secara bersamaan. Avianti, dan barangkali banyak lagi orang lain, mengeluarkan logika sederhana itu sebagai antitesis terhadap kebanyakan pernyataan negatif orang-orang yang sebetulnya belum tertuji atas dilantiknya Suci Pudjiastuti dalam kabinet Jokowi-Jusuf Kalla, sebagai mentri Perikanan dan Kelautan.

Paradigma masyarakat yang dibangun atas tatanan nilai demokrasi sejauh ini yang digadang-gadangkan dapat menjunjung nilai kebebasan berpolitik secara setara ternyata tidak bisa membuat kebanyakan orang bernalar-berlogika dengan baik. Terbukti, ketika Susi Pudjiastuti dilantik, reaksi negatif lebih dulu muncul atas tampilannya ketimbang mencari tahu lebih lanjut siapa dia dan pencapaiannya. Barangkali ada yang salah dengan cara kita memandang, porsi negatif lebih dahulu muncul dibanding positif.

Suci Pudjiastuti seakan menjadi fenomena sosial masyarakat pasca problematika politik usai kemelut tak terduga kubu-kubu partai politik di Indonesia dalam masa jelang pemilihan presiden hingga pelatikan presiden. Ia seakan menjadi satu tubuh yang mengusik tatanan nilai-nilai dan norma-norma sosial yang sejauh ini terbangun dalam pikiran masyarakat. Ia satu-satunya menteri nyentrik ketika pelantikan di Istana Kepresidenan. Dengan rambut berwarna merah marun, memakai sunglasses, ia seakan menyedot perhatian banyak orang. Ditambah lagi ketika awak media memburu dirinya seusai penatikan tersebut dan melihat Susi Pudjiastuti sedang asyik-masyuk merokok, sehingga keesokan harinya, pemberitaan media-media baik televisi dan koran seakan membuat pemberitaan lain terabaikan.

Menteri Kelautan dan Perikanan dalam Kabinet Kerja tersebut memang telah menyita banyak perhatian masyarakat. Sekaligus seakan menjadi tamparan. Orang-orang mulai mencari tahu siapa Susi? Apa benar dia cuma tamatan SMP? Tato di kaki kanannya bergambar apa?  Rokok merek apa yang suka dihisapnya? Pertanyaan-pertanyaan yang terkadang memunculkan praduga-praduga negatif, klaim, sekaligus ketakutan, dan termasuk caci-maki. Ketakutan tersebut bertambah ketika dalam Pidato Pelantikan Presiden Jokowi, 20 Oktober lalu, memberi pernyataan secara visioner dan tidak langsung bahwa kementrian yang dikepalai oleh Susi Pudjiastuti akan menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia ke depan: ”Samudera, laut, selat dan teluk adalah masa depan peradaban, masa depan dan tulang punggung ekonomi kita”.

Para Juru Ukur Iman mulai menasehati Susi Pudjiastuti dengan menghimbau untuk memakai jilbab, sedang mereka tidak pernah menasehati para politisi atau kepala daerah berjilbab dengan perilaku jauh dari yang terlihat. Para teknokrat mulai gelisah dikarenakan seorang perempuan hanya menempuh pendidikan wajib belajar sembilan tahun menjadi menteri, sedang mereka tidak berkaca pada diri, inovasi atau pembaharuan apa yang sudah mereka lakukan sejauh ini. Para profesor dan guru besar di bidang kelautan mulai gelisah mempertanyakan apakah Susi Pudjiastuti akan bisa membuat perubahan di bidang tersebut, sedang mereka berdiri di menara gading perguruan tinggi dan tidak pernah turun mengupayakan perubahan. Para guru, ibu-ibu rumah tangga, ketakutan dengan tato di kaki Susi Pudjiastuti, ketakutan dengan gayanya merokok dan tampil seadanya, tamatan SMP, tapi mereka tidak takut dengan sistem pendidikan yang membuat anak-anak mereka berlaku tidak jujur pada saat ujuan akhir. Semua merasa kena tampar.

Sebagian orang tidak peduli apa potensi diri Susi Pudjiastuti, kerja dan gebrakan apa yang akan dilakukannya, termasuk turut mengawal pekerjaan Susi Pudjiastuti di kementian, yang merupakan salah satu potensi besar di negara maritim ini. Orang-orang tidak peduli, yang jelas kehadiran Susi Pudjiastuti telah merusak tatanan nilai, moral, perilakunya dianggap tidak mencerminkan seorang menteri dan orang berpendidikan. Lantas seperti apakah orang berpendidikan dan bermoral tersebut?

Dalam sebuah talkshow bersama Rhenald Kasali, guru besar dan ekonom Universitas Indonesia, Susi Pudjiastuti pemilik perusahaan PT ASI Pudjiastuti Marine Product yang mengekspor hasil-hasil perikanan dan PT ASI Pudjiastuti Aviation yang bergerak di bidang penerbangan dengan bendera Susi Air tersebut, membeberkan alasannya memutuskan untuk undur diri ketika kelas dua SMA.

Pernyataan menarik dari Susi Pudjiastuti adalah ketika ia mengatakan bahwa sekolah bukan tempat yang cocok bagi dirinya, dan ini harus digaris bawahi, bagi dirinya. Ia merasa sekolah bukanlah yang selama ini tempat yang ia cari. Bukan berarti ia tidak pintar, ia mengatakan bahwa dirinya selalu mendapat ranking pertama dari sekolah dasar hingga menengah pertama. Naluri bisnis, enterpreneur, barangkali lebih menarik bagi dirinya ketimbang bersekolah dengan sistem pendidikan yang menurutnya tidak sesuai dengan dirinya. Sebuah pilihan yang pelik, dilema, ia juga menyatakan bahwa sempat setahun tak bersapaan dengan oang tuanya gara-gara pilihan tersebut.

Pilihan Susi Pudjiastuti untuk undur dari sekolah mengingatkan saya akan Andri Rizki Putra, lulusan cum-laude Fakultas Hukum Universitas Indonesia, yang menjalani SMA selama satu tahun dan memutuskan undur dari sistem pendidikan yang dirasa tidak sesuai dengan dirinya. Ia lebih memilih ujian Paket C untuk memasuki perguruan tinggi ketimbang harus menjalani pendidikan formal di SMA. Meski Rizki memilih untuk mencari solusi bagi dirinya untuk terus bersekolah, namun ada persamaan antara Andri dan Susi, yakni berani memutuskan pilihan keluar jalur yang selama ini sudah diyakini oleh masyarakat kita sebagai jalur yang harus dan mesti ditempuh.

Berapa banyak orang-orang selain Susi, termasuk Rizki yang kini menjadi founder Yayasan Pemimpin Anak Bangsa yang merupakan unschooling untuk pendidikan anak miskin dan kurang mampu tersebut, di Indonesia?  Barangkali banyak, mereka berhasil dan melakukan gebrakan di dunia yang mereka minati, tapi tidak muncul akibat pandangan negatif masyarakat yang sedari mula sudah memberi cap bahwa mereka yang tidak berijazah adalah suatu aib.

Paradigma masyarakat, termasuk asumsi-asumsi, atas Susi Pudjiastuti barangkali seperti disebut Yasraf Amir Piliang dalam buku Sebuah Dunia yang Menakutkan sebagai histeria politik dan panik kekuasaan (2001:82). Pandangan negatif masyarakat tanpa sengaja telah terbangun dari tiga puluh tahun kehidupan politik Orde Baru dengan image-image politik penuh kesemuan.  Dimana sistem politik Orde Baru dibangun dari paradigma pengetahuan penyeragaman (uniformity). Tidak hanya penyeragaman kata, tapi juga penyeragaman warna; tidak hanya penyeragaman pakaian, tetapi juga penyeragaman pikiran; tidak hanya penyeragaman buku, tetapi juga penyeragaman perilaku.

Kemunculan Susi Pudjiastuti seperti istilah Yasraf dengan deteritorialisasi sebagai petanda kebangkitan masyarakat akar rumput. Dimana semua harus diberi tempat, semua harus diberi saluran bagi pelepasan hasratnya, yang diatur lewat sebuah aturan main baru (rule of play). Susi Pudjiastuti seakan sebuah gambaran dari terobosan politik, ekonomi, hukum dan kultural dalam upaya memberikan ruang hidup bagi teritorial-teritorial baru politik, ekonomi dan kultural.

Jabatan Menteri Kelautan dan Perikanan bagi Susi Pudjiastuti seakan apa yang disebut Yasraf sebagai deteritorialisai pada tingkat ruang kekuasaan, dimana ruang-ruang kekuasan yang sebelumnya bersifat represif, eklusif dan penuh horor, harus diambil-alih oleh ruang-ruang kekuasaan yang lebih ingklusif, lebih akomodatif dan lebih dialogis.

Tapi sebagian masyarakat tidak peduli, seakan absen, bahwa pola perubahan tingkat kekuasaan tersebut adalah sebuah rencana pembaruan—terobosan yang perlu diuji dalam negara demokrasi. Kegerahan atau keberangan orang-orang atas nilai-nilai yang dianggap tidak betul dari Susi Pudjiastuti tanpa sengaja telah mengubah sebagian masyarakat menjadi orang-orang konservatif dalam demokrasi.

Lyman Tower Sargent dalam Ideologi Politik Kontemporer mengambarkan beberapa penanda mengenai kaum konservatisme dalam demokrasi. Termasuk (1) pertentangan dalam perubahan; (2) penghormatan tradisi dan suatu ketidak-percayaan terhadap alasan manusiawi; (3) penolakan penggunaan pemerintah untuk meningkatkan kondisi manusiawi dan ambivalensi terhadap kegiatan pemerintah; (4) menyokong kebebasan individu namun bersedia membatasi kebebasan; (5) orang yang anti dengan pendapat bahwa semua orang sederajat dan ketidak percayaan terhadap sifat manusia.

Dan ini satu soal lain, kita kini berada pada masyarakat konservatif dalam demokrasi, seperti pada beberapa poin di atas yang diungkapkan Lyman. Boleh jadi Susi Pudjiastuti akan melakukan perubahan, membuat terobosan baru di kementrian yang ia pimpin, tapi masyarakat konservatif hanya akan peduli citraan yang tampak: Susi merokok, Susi bertato, Susi cuma tamat SMP…

Di balik hiruk-pikuk, ketakutan orang-orang akan nilai-nilai yang dipandang secera serampangan terhadap Susi Pudjiastuti, banyak juga orang-orang bernalar-berlogika dengan baik memandang bahwa ini petanda sebuah perubahan dalam birokrasi negara. Dalam artian, kini terlihat bahwa menghadap menteri kini bukan lagi momok yang menakutkan, menteri juga orang biasa, yang bisa diajak ngopi bersama. Orang-orang bernalar dan berlogika dengan baik, tanpa melihat sesuatu dari kulit saja, yang menunggu gebrakan dan perubahan yang dilakukan Susi Pudjiastuti di kementrian yang ia pimpin. Kabinet “Kerja”, Susi Pudjiastuti sebuah gambaran “Kerja” sejak dari dalam pikiran.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s