PEMBUKA LIPATAN KAIN

Penerbit Katabergerak (Motion Publishing) meminta saya menuliskan pembuka untuk kumpulan Dalam Lipatan Kain_abucopypuisi “Dalam Lipatan Kain” yang akan terbit pertengahan Maret 2015 ini. Dalam buku ini terdapat 87 puisi pilihan saya rentang waktu 2009 – 2014. Dan saya membaginya dalam lima sub-tema: “Rumah di Atas Gelombang”, “Kota dalam retakan tempurung”, “Oslan & Lagu Palinggam”, “Tentang Anggun Nan Tongga”, serta “Dalam Lipatan Kain”. 

Lahir, tumbuh dan besar, di negeri dimana kata-kata mengambil peranan penting dalam segala lini kehidupan membuat saya harus berpandai-pandai dalam memilah pengucapan pada orang dan harus lihai lagi sigap memaknai ucapan orang. Setiap kata dikeluarkan dan diterima mesti dengan kesepadanan pikiran dan perasaan.

Perihal tersebut tidak pernah diajarkan dimanapun oleh siapapun. Sebab kosakata dalam kitab bahasa ibu saya, berikut kaidah pengikat penggunaannya, akan muncul dan terserap dengan sendirinya seiring pergaulan dalam masyarakat. Teramat mustahil seseorang di negeri saya pandai berkata lihai memaknai kata tanpa masuk ke lingkaran pergaulan masyarakat yang merupakan leksikon bergerak.

Dalam lingkaran itulah orang-orang mencipta kalimat mujarab bin ajaib, hasil tatanan ulang pembongkaran kosakata dari kitab bahasa segala mungkin. Mereka menata, mengulas-jahit, menambal-sulam, memadu-padu, bahkan jikalau perlu mempelintir kata hingga makna sebuah kata harus rela terlempar untuk kemudian dimasuki oleh makna lain. Proses menata kata-kata tersebut terjadi terjadi dimana saja, kapan saja, dan dalam situasi apa saja.

Di lepau kopi seorang tukang panjat pohon kelapa menunggu kawan sekaligus lawan bicaranya yang seorang garin surau untuk menciptakan bangunan kata-kata hingga tertawa. Mereka saling berbalas, menggali lalu memadu-padankan kata-kata untuk kemudian tertawa terpingkal-pingkal sampai tidak kuat menahan kencing. Di sebuah pesta pernikahan serombongan perempuan sedang mengerjakan pekerjaan dapur saling menertawakan diri sendiri dengan bangunan kata-kata terdengar menggelikan bahkan mengharukan.

Di sebuah gelanggang permainan dan pesta orang muda, seseorang menafsirkan lagak dan perilaku kawannya yang sedang dimabuk asmara, menafsirkan dengan kalimat yang membuat kawannya tersebut serasa ingin membenamkan diri ke laut dalam. Bahkan dalam dendang yang dilagukan seiring alunan saluang, kata-kata dilepaskan, agar bisa bermain di ruang jantung di ruang hati orang banyak. Kata-kata dihidupkan, membuat orang-orang terpaksa gelak dalam haru, membuat orang-orang terus pulang sebelum pergi, orang-orang membunuh untuk menghidupkan, orang-orang ingin karam seketika mengapung.

Dalam suasana begitu mula saya menulis puisi. Ketersadaran atas ruang, yang kemudian hari saya pahami bahwa orang-orang di sekeliling saya ternyata terus-terusan memproduksi metafora untuk didistribusikannya lewat lingkaran pergaulan dalam masyarakat. Metafora yang tanpa sengaja kemudian diselipkan dari pepatah dan petitih, dari pantun hingga lagu, dari ucapan haru-biru yang jika dikata bisa membuat orang-orang berkali berimajinasi untuk bunuh diri, sampai umpat-sumpah-serapah yang bahkan boleh dikata-diistilahkan binatang pun tak sanggup mendengarkan.

Ketersadaran atas ruang seperti itulah yang membantu saya untuk masuk ke ruang puisi. Dan buku puisi “Dalam Lipatan Kain” di tangan pembaca sekalian ini adalah bagian dari itu, bagian dari proses saya menulis puisi beranjak dari ruang yang menjadi pokok hidup keseharian saya, pokok hidup keseharian orang-orang di sekitar saya.

Bagi orang kampung saya sendiri “kain” punya makna tersendiri. Bukan sekedar gulungan hasil tenunan dengan berbagai corak dan ragi bertumpuk-berhimpit di kedai-kedai tekstil. Bukan sekadar pakaian baru selesai dijahit, hasil rancangan desainer ternama, akan dikenakan untuk sebuah hari bahagia. Juga bukan sekadar pakaian terlipat rapi dan tersusun elok dalam lemari menunggu disorongkan ke badan untuk menghadap ke orang ramai memperlihatkan status sosial kita. Kain bukan sekadar itu semua.

“Kain” lebih pada helaian benda yang dihidupkan untuk menjadi penghubung beragam peristiwa dalam hidup seseorang. “Kain” akan hadir suatu waktu dalam masa bahagia, dalam malam-malam mengharubiru, dalam tahun-tahun dengan kangen tak tertanggungkan, dalam tragedi paling buruk dan bahkan kematian sekalipun. Kain hadir dalam berbagai peristiwa dengan berbagai laku pula. Setiap laku kain akan membuat orang-orang harus sadar kehadirannya.

Saya berterimakasih untuk kawan berdiskusi-bercerita, Deddy Arsya, Pinto Anugrah, Heru Joni Putra, Fariq Alfaruqi, M. Aan Mansyur dalam tahap akhir perampungan buku puisi termasuk untuk “Dalam Lipatan Kain” ini. Katabergerak (Motion Publishing), melalui Mbak Reni, dengan ketelatenannya membaca dan memeriksa naskah puisi saya dan membantu saya dalam ‘melipat’ serakan peristiwa puisi di dalamnya.

Puisi dalam buku ini ditulis kurun waktu 2009-2014, sebagian besar pernah dimuat di halaman puisi berbagai media cetak dan secara tidak langsung para redaktur media tersebut telah melakukan kurasi awal terhadap puisi saya—meski tidak semua puisi dimuat di media tersebut masuk ke dalam buku ini. Juga pada Nirwan Dewanto dalam beberapa kesempatan melakukan diskusi dan membuat saya melakukan pembacaan ulang terhadap puisi-puisi saya beberapa tahun belakangan.

Salahsatu ruang yang barangkali tidak terpisahkan dalam proses berpuisi saya adalah (Komunitas) Kandangpadati, terima kasih untuk para penghuninya, orang datang orang pergi. Juga Yusrizal KW, Nasrul Azwar, Ery Mefri, S Metron M, Gusriyono, Ganda Cipta, Fatris M Faiz, dan kawan-kawan Teater Ranah, Rumah Teduh, HMJ Sastra Indonesia Universitas Andalas, dan rekan-rekan sepergaulan saya di Padang.

Kegemaran saya mendengarkan lagu Minang, terutama lagu-lagu sebelum dekade 1980-an, membuat saya menyediakan satu bagian khusus dalam kumpulan ini untuk pelaku musik Minang. Terimakasih Oslan Husein, Tiar Ramon, Nuskan Sjarief, Elly Kasim, Nurseha Orkes Gumarang, Orkes Kumbang Tjari, dan sederet karya musisi lain yang sering saya dengarkan. Hormat saya pada musisi tradisional Minang, tukang saluang dan pendendangnya, yang secara tidak langsung, terus membuat saya teransang untuk berpuisi.

Pada akhirnya “Dalam Lipatan Kain” akan dibuka pembaca, lembar demi lembar, dan puisi demi puisi akan merantau menjalani nasibnya sendiri-sendiri. Terimakasih tak terhingga tentunya buat pembaca, “Dalam Lipatan Kain” saya serahkan, sepenuh hati sepenuh diri.

Esha Tegar Putra
Kalumbuk, Padang, Desember 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s