DI HADAPAN GULAI KAMBING

Kau tahu, harum gulai dalam kuali itu
adalah petaka.

Kapal-kapal gadang datang, merapat, menurunkan mesiu
menghadapkan moncong meriam ke arah kota karena harum
gulai dalam kuali itu.

Mereka kaum penggila tanah, kaum penggila rempah
telah menggadaikan mimpi buruk mereka
bersama arus di laut dalam, di angin samun
dalam gelombang terkutuk.

Tapi kita duduk
menghadap harum gulai menggelegak
kambing berdaging lunak, segelas mentimun serut
nasi wanginya alamak ditanak pakai daun pandan
dan musik mengharu biru tentang cinta bertahun tidak menjadi.

Aku mengutuk berkali-kali
mengumpat pada diri sendiri bahwa akan kusesap
gulai petaka ini seperti kusesap pangkal lehermu di masa lalu.
Aku katakan pula padamu, gulai ini telah membuat kaum
penggila rempah sebagian besar menyempurnakan nasibnya
mati dengan selangkangan mendingin. Dan aku akan
menyempurnakan nasibku pula, berdiri tegak
dengan daging selangkangan merah padam
setelah tunai menyantap gulai.

2015

Dimuat di koran Riau Pos, Minggu, 8 Februari 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s