YETTI A.KA, NALURI PEREMPUAN, DAN PERISTIWA SUREAL

Khazanah dunia cerita pendek (cerpen) Yetti A.KA adalah tanggungan sekaligus beban moral narator dalam menerima lantas menuliskan kisah-kisah penuh dengan sisi gelap, kesakitan, dan mimpi-mimpi buruk dalam dunia perempuan. Dunia serba dilematis dipenuhi peristiwa serba-berkemungkinan dengan friksi serta pertarungan kesadaran dan ketaksadaran dalam alam pikiran dan dalam alam bawah sadar perempuan. Setidaknya citraan seperti itu selalu muncul hampir pada ketigabelas cerpen dalam kumpulan cerpen Yetti berjudul Satu Hari yang Ingin Kuingat (SHyIK) terbitan UNSApress (Agustus, 2014).

Satu-Hari-yang-Ingin-Kuingat

Citraan dari peristiwa dalam kumpulan cerpen Yetti tersebut sekilas membuat saya mengingat citraan sureal(is) dalam karya pelukis perempuan termahsyur dunia kelahiran Meksiko, Frida Kahlo (1907-1954). Semisal lukisan berjudul “Self Portrait with Thorn Necklace and Hummingbird” (1940) tentang gambaran diri Frida dengan leher berdarah terlihit dengan kalung dari akar atau ranting berduri dan seekor burung kolibri hitam mematuk ujung kalung. Dalam lukisan tersebut kupu-kupu serta capung terbang dan hinggap di tatanan rambut Frida, kucing serta kera hitam dibagian belakang Frida, dan latar dedaunan subur. Dalam beberapa lukisan potret diri Frida lain juga seringkali muncul kupu-kupu, bunga-bunga, daun-daun, namun citraan muram selalu bermain di ketika potret-potret diri tersebut dipandang.

Saya tidak hendak mengatakan Yetti merespon secara interteks lukisan-lukisan Frida, namun bagian terpenting dalam pembacaan saya adalah Yetti muncul dengan cerpen-cerpen dipenuhi peristiwa sureal, sebagaimana Frida juga memunculkan citraan sureal dalam lukisan. Dalam cerita-ceritanya, Yetti seakan menjadi narator yang menampung lantas menanggungkan kesakitan-kesakitan dalam peristiwa rekaannya, peristiwa yang seakan dekat dengan dirinya, peristiwa yang harus dan patut diceritakannya. Begitu pula ketika Frida melukis, “I paint my own reality, I paint because I need to…” kata Frida.

Dan ternyata masih ada citraan kebun bunga, mawar, pepohonan serta dedaunan, kupu-kupu dan burung-burung, taman serta hutan di antara mimpi paling menakutkan seorang perempuan. Meski ketakutan dan mimpi buruk bersimaharajalela hingga memunculkan kupu-kupu dengan sayap robek (cerpen Kupu-Kupu Tanalia, hal.1-8, Seekor Kupu-Kupu dalam Kebun Bunga Tanalia, hal.9-15), ketakutan pada hutan kecil di belakang dengan binatang berbahaya (cerpen Dua Orang Asing, hal.25-32), kelopak mawar merah mengambang bersama banjir besar (cerpen Mawar Menyiram Mawar, hal. 59-67), pohon berdaun lebat menjadi latar gambar seorang anak tergantung dengan tali besar di leher (cerpen Lubang Dada Ibu, hal. 69-75), halaman dengan tanaman dan pepohonan tiba-tiba raib menghilang (cerpen Hati Milia, hal.93-39). Dari perihal itulah barangkali kenapa tiba-tiba sekilas citraan lukisan Frida muncul ketika saya membaca cerpen-cerpen Yetti.

Sebab dalam peristiwa sureal perempuan barangkali masih menggunakan imaji mengenai keindahan, kenyamanan, ketenangan, yang sudah tertanam dalam alam bawah sadar sekaligus guna memunculkan citraan ketakutan dan kemuraman.
Beberapa Peristiwa Sureal
Peristiwa maupun citraan sureal dalam sebuah karya seni barangkali salahsatu media terpenting dalam melakukan kajian memahami psikoanalisa Sigmund Freud. Jika pada media visual seperti lukisan bercorak sureal, citraan serta simbol-simbol menjadi kunci dalam menafsir represi atas kestidaksadaran—dalam psikoanalisa Freud mengukuhkan gagasan mendasar bahwa semua pikiran dan perilaku sadar adalah proses ketaksadaran yang diringkas dalam frase pikiran yang tidak sadar—akan termanifestasi dalam perilaku tidak sadar seperti keseleo lidah, kekelirian perilaku, fantasi, serta mimpi.

Proses tekanan psikologis tersebut memunculkan harapan, impian, cita-cita, keinginan, perasaan senang atau tidak senang, pengalaman traumatis, kecemasan neurotik (anxiety), ketakutan (phobia) dalam kehidupan pribadi dan sosial. Proses tersebut memunculkan semacam dorongan psikis sebagai energis psikis disebut juga dengan libido, dengan kata lain, libido mempengaruhi sangat kehidupan seseorang hingga memunculkan perilaku tidak sadar. Libido sebagai faktor utama dan penting dalam perilaku seseorang. Dorongan-dorongan semacam itulah dimunculkan dalam citraan sureal.

Cerpen-cerpen Yetti dalam SHyIK memunculkan perihal tersebut. Sebagian besar peristiwa yang dihadapi tokoh-tokoh serta perilaku tokoh-tokoh dalam kumpulan tersebut memperlihatkan dorongan-dorongan mendasar pada manusia atau dorongan primitif (Freud menyebut dengan Id), berusaha menerabas sistem pengontrol (Ego) dan merabas pula pembatas semua dorongan naluriah manusia yang berpegang teguh pada prinsip norma dalam sistem sosial (Superego). Dorongan Id sebagai dorongan primitif berpinsip pada kesenangan (preasure principle) menjadi dominan dalam hampir sebagian besar cerpen Yetti—atau usaha menuju bentuk kesenangan. Kemurnian dorongan Id sebagai dorongan murni, belum tersentuh kebudayaan, dan berada pada ketaksadaran seakan terus melakukan perlawanan dan meniadakan Ego serta Superego. Hal tersebut seringkali muncul akibat kesakitan-kesakitan psikis tokoh sehingga memunculkan perilaku, tindakan, serta peristiwa sureal dalam cerpen-cerpen Yetti. Seakan pembebasan terhadap dorongan Id mendapat tempat ternyaman dalam dunia sureal.

Lihat bagaimana ketegangan persoalan “kupu-kupu” terjadi antara seorang ibu (Masya) dan anaknya (Tanalia) berusia duabelas tahun (cerpen “Kupu-Kupu Tanalia”, hal. 1-8 dan cerpen “Seekor Kupu-Kupu dalam Kebun Tanalia”, hal. 9-16). Persoalan “naluri kehidupan” (pemeliharaan dan seksualitas) yang sama kuatnya dengan “naluri kematian” (agresi dan destruksi diri) muncul dalam dua cerita yang saling berhubungan ini. Perilaku Masya terhadap Tanalia menggambarkan perilaku sadar dalam ketaksadaran, karena dalam perilaku sadar Masya terpendam perilaku ketaksadaran sehingga mempengaruhi perilaku sadar.

Perlakuan Masya melarang Tanalia menyukai kupu-kupu adalah perihal dorongan ketaksadaran akibat mimpi-mimpi buruk dari masa lalu yang menyebabkan kesakitan psikis Masya. Sehingga diri Masya merasa harus melakukan “pemeliharaan” yang malah menimbulkan ketegangan terhadap psikologi anaknya. Tanalia yang tanpa disadari merasa terenggut dari dorongan prinsip mendasar kehidupan, yakni “kesenangan” terhadap kupu-kupu, dan ketegangan itu memunculkan peristiwa sureal. Lihat bagaimana dorongan ketaksadaran Masya pada Tanalia: “Mama tidak suka kupu-kupu, Nalia. Kau ingat?” ujar Masya meruntuhkan harapan Tanalia. Membuat Tanalia langsung masuk dalam selimutnya dan tidak mau bicara lagi. Ia bahkan diam saja ketika Masya mengucapkan selamat tidur dengan suara rendah. Ia menyukai kupu-kupu. Masya justru membencinya. Mungkin cuma mamanya yang membenci kupu-kupu di dunia ini. (hal.2)”

Ketakutan psikologi Masya dengan ketaksadarannya melakukan perlindungan terhadap Tanalia dapat ditafsir dari kemunculan mimpi-mimpi dari masa lalu Masya. Dalam psikoanalisa Freud, tafsir mimpi ini dapat menginterpretasikan bangunan psikologis yang menunjuk pada aktivitas psikis dalam alam bawah sadar yang sarat makna dalam alam sadar. Ketakutan psikologi Masya terlihat dalam narasi berikut: “…Kupu-kupu. Lelaki penyuka kupu-kupu, itu. Ia yang mengaku datang dari sebuah hutan. “Kau suka kupu-kupu?” tanya lelaki itu. Masya berumur enambelas—seorang gadis kesepian waktu itu… Lama-lama lelaki itu sering datang pada Masya membawa rombongan kupu-kupu yang banyak sekali… Sekarang ia berpikir, pasti saja semua itu hanya halusinasinya saat remaja dulu. Ia tersihir ketika itu. Juga saat lelaki itu mengajaknya mencari kupu-kupu pada tengah malam. Ia tahu kupu-kupu tidak terbang malam hari, tapi ia tak peduli. Ia keluar lewat jendela saat orang tuanya tertidur. Berkali-kali ia melakukannya bersama lelaki kupu-kupu… Ia ingat betul enam bulan setelah itu, ia merasakan sesuatu tumbuh dalam tubuhnya… (hal.3-4)”

Ketakutan-ketakutan ketika Tanalia menyukai kupu-kupu membuat Id menerobos keluar tanpa hambatan Ego dan penjagaan Superego. Ia tidak peduli apakah ketakutan psikis (phobia) terhadap lelaki dengan kupu-kupu tersebut dapat menimbulkan efek psikologi lain terhadap anaknya yang penyuka kupu-kupu. Sampai dalam cerpen tersebut sebuah peristiwa sureal lain muncul, ketika kehendak asali anaknya “kehendak untuk kesenangan” dipenuhinya bukan dengan realitas melainkan manipulasi, Masya kehilangan Tanalia. Kehendak Tanalia untuk memiliki kebun bunga dengan harapan kupu-kupu datang kesana dipenuhi dengan taman bunga di dinding kamar. Tanalia masuk secara sureal ke dalam kebun manipulasi tersebut, bermain besama kupu-kupu di dunia sureal, dimana Masya tidak dapat menjangkaunya.

Penerabasan Id terhadap Ego juga terjadi pada cerita-cerita selanjutnya, misal pada cerpen berjudul “Dongeng Laba-Laba” (hal.17-23)” dengan tokoh Duri yang pada usia 40 tahun umurnya seakan berhenti pada usia 15 tahun dan suka berdongeng mengenai laba-laba dan merasa ayahnya adalah seekor laba-laba. Duri yang suka menciptakan dongeng, terlebih terhadap sahabatnya Nino, dengan mengandaikan Nino juga mempunyai ayah seekor laba-laba seperti dia.

Atau tokoh perempuan “Aku” dalam cerpen “Satu Hari yang Ingin Kuingat” (hal.33-39) yang dengan menunggu pesan singkat dari seorang lelaki yang senang bertanya: “Apakah kau masih pacarku hari ini?” Tokoh “Aku” yang terus menunggu meski ia sesadar-sadarnya tahu tidak akan ada pesan singkat atau telpon. Ia menunggu hanya demi pemuasan hasratnya dan merasa nayaman dengan penungguan tersebut. “Aku” menganggap ingatan bermain dalam pikirannya adalah perihal kenyamanan sebab dengan mengingat ia tidak akan kehilangan apa-apa: “…karena itu aku masih di kafe X, di meja nomor 19 dengan segala sesuatu yang kuingat. Dengan mengingat maka aku tidak akan kehilangan apa-apa. Seharusnya begitu. Seharusnya aku tenang dan tidak perlu berpikir melakukan hal-hal mengerikan yang bisa saja kulakukan.” (hal.39). Namun peristiwa sureal terjadi ketika tokoh “aku” bercerita dalam narasi bahwa: “Tadi siang itu aku mendengar orang menjerit saat seseorang perempuan menabrakkan diri ke mobil yang sedang melaju di jalan raya—tepat di depan kafe X. Aku tidak tahu siapa perempuan itu sampai kulihat meja nomor 19 sudah kosong dan begitu sunyi” (hal.39). Dalam peristiwa sureal ini terjadi tarik menarik antara kehendak naluriah tokoh “aku” dengan “naluri kehidupan” ketika ia merasa harus menunggu dengan “naluri kematian” ketika ia merasa frustasi pada penungguannya.

Dorongan kehendak sekaligus penolakan yang terjadi pada tokoh “aku” tersebut dalam psikoanalisa diistilahkan sebagai introversi. Dimana ketika masuknya libido (ditunjukan dengan pengarapan “aku” menerima pesan atau telpon) ke alam fantasi (“aku” menganggap dirinya bisa saja melakukan hal-hal mengerikan) menyebabkan penyaluran energi oleh fantasi semakin besar sehingga mendesak untuk terwujud dalam realitas sehingga terjadi konflik antara fantasi dan Ego tertarik ke alam bawah sadar.

Peristiwa tersebut mengasosiasikan kehendak “aku” bisa melakukan hal-hal mengerikan dengan “seseorang melabrakkan diri ke mobil”. “Aku” dan “seseorang” tersebut memang sama-sama duduk di kafe X meja nomer 19. Inilah peristiwa sureal yang terjadi dalam cerpen tersebut.

Cerpen “Tentang Lemari Piring, Cangkir, Mangkuk, Mug dan Lain-lain” (hal.41-49) adalah salah satu bagian terpenting dalam kumcer SHyIK dalam membuktikan bagaimana dunia sureal dibangun dari benda yang akrab dengan keseharian. Dalam cerpen tersebut narator turut memberi tanggungan psikis pada benda-benda semisal lemari piring, cangkir, mangkuk, dan mug. Benda-benda yang dianggap menyimpan beragam peristiwa bahagia dan kesakitan orang-orang yang memakainya, dan bahkan tanggungan itu (semisal kenangan) bahkan dianggap lebih bisa terwakilkan dari benda-benda tersebut dibanding orang-orang yang menggunakan benda tersebut: “Kalau kau ingin tahu tentang apapun yang terjadi di rumah ini, Deori, kau hanya perlu membuka lemari piring; melihat dengan benar setiap benda yang ada di dalamnya; setiap warna mulai pudar, setiap noda melekat, setiap sumbing dan retak. Lemari piring itu bisa bercerita lebih dari yang bisa diingat orang-orang…” (hal. 41).

Dalam cerpen ini tindakan-tindakan tidak terduga dari manusia dibangun dengan cara sederhana. Konflik psikologi tokoh dalam cerpen ini membuktikan bahwa usaha untuk meraih kebahagian adalah naluri yang benar-benar mendasar dari manusia. Lihat bagaimana “aku” dalam cerpen tersebut bercerita pada Deori bagaimana ibu Deori pergi bersama seorang lelaki dengan profesi kolektor. Lelaki yang dibawa oleh ayah Deori ke rumah mereka dengan harapan lelaki tersebut bisa didekatkan pada tokoh “aku”, dikarenakan ayah Deori tahu tokoh “aku” mencintai ayah Deori namun ia lebih memilih menikahi perempuan lain (ibu Deori).

Perbenturan antara upaya bertahan hidup (life instinct—diistilahkan dengan Erros) dan dorongan kematian (death instinct—diistilahkan dengan Thanatos) dalam dorongan naluriah Id turut dihadirkan dalam cerpen “Tentang Lusia” (hal. 77-84). Tentang bagaimana seorang perempuan meninggalkan realitas hidupnya, pergi ke sebuah kota dan menginap di sebuah hotel, tempat lelaki yang berjanji akan bersetia dan menunggunya. Peristiwa penungguan inilah yang memunculkan Erros, sebagaimana perempuan tersebut rela bertahan pada tempat yang sebanarnya tidak akrab dengannya, dalam kondisi penungguan yang tidak pasti. Tetapi pada akhirnya Erros dibenturkan pada Thanatos secara sureal, dan Thanatos mendapat tempat ternyaman dalam naluriah tokoh Lusia.

Dalam cerpen tersebut diceritakan, setelah beberapa peristiwa di hotel tempat Lusia menginap dan menunggu seorang lelaki, peristiwa yang membuatnya dekat dengan lingkungan hotel (misal resepsionis, penata taman, tamu hotel lainnya) sebuah kejadian tak terduga hadir pada akhir cerpen tersebut: “Kemarin, pagi-pagi sekali petugas kebersihan hotel menemukan tulisan di pintu kamar 205: KAMI LETIH DENGAN PERASAAN KAMI SENDIRI. Kamar itu begitu sunyi. Begitu mencekam. Hingga seseorang, barangkali tamu yang berniat mencari penginapan, berteriak kering persis di bawah jendela 205.” (hal.84). Narasi pada akhir cerpen tersebut mengasosiasikan adanya sebuah dorongan kematian (Thanatos), dan itu terjadi di kamar tempat Lusia dan lelaki yang ditunggunya menginap.

Yetti memang salah satu cerpenis yang secara tematik menggarap persoalan perempuan. Hampir semua tokoh-tokoh utama dalam cerpennya adalah perempuan, meski dalam beberapa cerpen, misal tokoh dalam cerpen “Dua Orang Asing” (hal. 25-32) adalah tokoh laki-laki. Namun pergulatan-pergulatan psikologi yang muncul dari pikiran perempuan tetap mendominasi. Tema-tema psikologi perempuan, tindakan-tindakan tak terduga dari perempuan, keinginan-keinginan mendasar dan alamian perempuan, dan perihal lain seputar dunia perempuan menjadi kekhasan tersendiri dari cerpen Yetti. Karena ia menggarap tema-tema tersebut seoalah ia sebagai narator yang menanggungkan peristiwa tersebut. “Saya menulis realitas terdekat dengan diri saya, saya menulis karena membutuhkannya,” barangkali gubahan prinsip Frida Kahlo dalam melukis menggambarkan bagaimana prinsip Yetti menulis.***

versi pendek dari tulisan ini telah dimuat di koran Padang Ekspres, Minggu, 22 Februari 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s