KARTOSOEWIRDJO DALAM PUISI

Di Tasikmalaya, 7 Agustus 1949, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirdjo selaku Imam dan Pimpinan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII). Tak lama kemudian Presiden Indonesia, Sukarno, mengirimkan Divisi Siliwangi dan satuan lain untuk menghancurkan gerakan tersebut.

Kartosoewirdjo, menurut sejarawan Bonnie Triyana, merupakan representasi dari salah satu keberagaman ideologi yang tumbuh dalam taman kebangsaan Indonesia. Dibesarkan oleh Tjokroaminoto bersama-sama Sukarno. Namun berpisah di penghujung jalan perjuangan dengan rekan indekosnya itu. Mohammad Iskandar, penulis esai “Sekarmadji Maridjan Kartosoewirdjo di Penghujung Perjalanan” beranggapan bahwa angan-angan mendirikan Negara Islam di Kepulauan Indonesia sudah dimiliki Kartosoewirdjo sejak ia masih menjadi pengurus Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) di akhir dekade 1930-an.

 Saya menulis dua ulasan soal buku puisi ini, satunya resensi ini, dimuat di Padang Ekspres, 15 Maret 2015.

Cover Kematian Kecil Kartosoewirdjo

Usaha pembasmian gerakan DI/TII atas perintah Sukarno berlangsung cukup lama, belasan tahun. Barulah tahun 1962 gerakan tersebut dilumpuhkan. Kartosoewirjo ditangkap oleh tentara Siliwangi pada tanggal 4 Juni 1962 saat bersembunyi dalam sebuah gubuk di Gunung Rangkutak, Jawa Barat. Dan akhirnya Kartosoewirjo diputuskan hukuman mati oleh Sukarno dan dieksekusi September 1962 di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara.

Namun informasi mengenai bagaimana cara Kartosoewirjo dihukum mati masih menjadi pertanyaan bagi banyak orang termasuk dugaan tempat eksekusi dan pemakamannya. Minimnya informasi tersebut barulah menemui titik-terang ketika Fadli Zon, politisi partai Gerindra, meluncurkan buku 81 foto jalannya eksekusi mati Kartosoewirdjo. Foto-foto dalam buku tersebut memperlihatkan bagaimana Kartosoewirdjo melakukan pertemuan terakhir dengan keluarganya, makanan terakhir yang disantapnya, perjalanan ke pulau, proses eksekusi mati, pemandian jenazah dan sholat jenazah, sampai proses pemakamannya.

Kartosoewirdjo adalah pengusung cita-cita besar, pemilik rasa cinta terhadap Tanah Air, tapi salah memilih strategi, setidaknya itulah anggapan jurnalis Ichwan Prasetyo. Kegetiran Sukarno atas eksekusi mati Kartosowirdjo juga dirasakannya, namun tindakan tersebut harus diambil sebagai seorang pemimpin: “Menandatangani hukuman mati, misalnya, bukanlah satu pekerjaan yang memberi kesenangan padaku. Ambillah misalnya Kartosoewirdjo. Di tahun 1918 dia kawanku yang baik. Di tahun 1920-an di Bandung, kami tinggal bersama, makan bersama, dan bermimpi bersama-sama…” kata Soekarno.

Kematian Kecil Kartosoewirdjo

Terkuaknya proses eksekusi mati Kartosoewirjo membuat cerpenis dan penyair Triyanto Triwikromo menulis buku himpunan puisi bertajuk “Kematian Kecil Kartosoewirdjo”. Buku tersebut berisikan 54 puisi yang merupakan pembacaan Triyanto bersumber pada beberapa buku, pemberitaan, termasuk foto-foto koleksi Fadli Zon. Triyanto menuliskan pada akhir buku puisi tersebut bahwa Hari Terakhir Kartosoewirdjo, koleksi foto dalam buku Fadli Zon tersebut, telah membantu dirinya dalam menghadirkan (dalam bentuk puisi) peristiwa eksekusi mati Kartoseowridjo di tiang penembakan.

Selain itu sumber buku Kahar Muzakar & Kartosowirjo, Pahlawan atau Pemberontak? Buku yang ditulis oleh Prof Dr Suwelo Hadiwidjodjo, Kartosoewirdjo, Mimpi Negara Islam, seri Buku Tempo terbitan Redaksi KPG, penolakan grasi terhadap Kartosoewirdjo dalam tulisan Cindy Adams Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat, dan tulisan Martin Lings mengenai Muhammad, Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, menurut Triyanto telah menjadi sumber tak kering-kering baginya dalam menulis puisi-puisi dalam buku kumpulan puisi Kematian Kecil Kartosoewirdjo.

Triyanto menggunakan pola puisi liris dalam menghadirkan kembali citraan hari-hari terakhir Kartosoewirdjo, dimulai dari puisi “Penangkapan” dan diakhiri dengan puisi “Kesaksian”. Tiga babakan dihadirkan dalam dalam buku tersebut seakan ingin membatasi ruang pembacaan: Awal (1 puisi), Antara (52 puisi, Akhir (1 puisi). Puisi-puisi dalam buku tersebut seolah menghadapkan kembali pada pembaca bagaimana Kartosoewirdjo tertangkap, dibawa ke tiang gantungan, dan kesaksian-kesaksian para regu tembak. Lihat bagaimana Triyanto menghadirkan suasana puitik dalam proses “Penangkapan” (hal.1) Kartosoewirdjo: “/Hutan biru menyembunyikan apapun, atau siapapun,/ yang bertabur fosfor dan aura kirmizi dari ancaman/ sedadu. Hutan biru menyembunyikan aku dari kutuk/ kematianku.// karena itu, kau, prajurit yang lemah lembut, jangan pernah/ merasa gampang menangkapku. Aku satwa yang dililit/ bersi berlapis salju. Peluru tak bisa menembus jantungku…//”

Dalam puisi-puisi tersebut Triyanto seolah ingin memasuki dunia Kartosoewirdjo sebelum eksekusinya, dunia para regu tembak, bahkan secangkir kopi, ganti baju, tiang gantungan sampai raut maut dicitrakan oleh Triyanto. “Aku belum mengenal raut maut saat kau mempercakapkan/ kematianku. Apakah ia berwajah kuda atau mutiara, apakah/ ia hijau muda atau biru tua, aku sama sekali tak berhasrat/ memandang matanya yang terus menyala, aku sama sekali/ tak ingin menyapa…” (Raut Maut, hal 7).

Lihat bagaimana Triyanto berusaha menghadirkan pengandaian-pengandaian dalam puisi “Kesaksian” (hal.103). Pada puisi tersebut dihadirkan semacam pandangan-pandangan dari komandan regu tembak, pemeriksa jenazah, pemandi jenazah, para pengubur, perawat jenazah, imam tentara, para pendoa, dan oditur. “Komandan Regu Tembak: Segalanya telah selesai. Tak/ perlu mempersoalkan apakah lelaki ini pemberontak atau/ pahlawan.// Pemeriksa Jenazah: Aku bersaksi mayat itu begitu harum.// Para Pengubur: Tugu kembalilah tugu. Senja/ kembalilah pada senja. Batu kembalilah pada batu./ Bianglala kembalilah pada biang lala…//

Kehendak Kartosoewirdjo dengan mendirikan Darul Islam telah membawanya ke tiang gantungan. Imam DI/TII ini memang adalah salah satu bentuk keberagaman pandangan di negera ini, keberagaman yang menginginkan ‘kemerdekaan’ dengan cara sendiri. Dalam buku puisi Kematian Kecil Kartosewirdjo, Triyanto mengutip pandangan Ahmad Sahal, Wakil Ketua Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Amerika-Kanada, yang mengungkapkan bahwa kehendak Kartosoewirdjo  mendirikan Darul Islam barangkali karena ia tidak sabar dengan manusia konkret, manusia dengan daging dan keringatnya seringkali kerdil, mementingkan diri sendiri dan munafik. Karena itu Kartosoewirdjo berusaha mengatasi kekecewaan itu dengan solusi yang (dibayangkan) sempurna dan jauh dari kekerdilan manusia konkret.

Paradoksnya, menurut Sahal, Kartosoewirdjo menginginkan “surga” di bumi. Padahal bumi manusia, sebagaimana yang dia alami sendiri, justru mengecewakan, sama sekali bukan surga, ini berbeda, misalnya, dengan tokoh-tokoh Islam lain pada zamannya yang tak menempuh jalan “pemberontakan”.

Dan puisi memang menghadirkan paradoks itu. Kematian Kecil Kartosowirdjo yang ditulis Triyanto telah menghadirkan semacam alternatif lain dari cara memandang sebuah peristiwa sejarah, tidak ada benar dan salah, kemungkinan-kemungkinan selalu tersimpan dalam bahasa puisi. ***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s