ANTARA NERSALYA & “AKU”-PUISI


Tulisan ini telah dipublikasikan di halaman buku koran Padang Ekspres, Minggu, 29 Maret 2015.

Nersalya Renata, penyair perempuan sekaligus aktris Teater Satu Bandar Lampung, beberapa waktu lalu menerbitkan sepilihan puisi dalam buku berjudul Lima Gambar di Langit-langit Kamar. Dalam buku tersebut terhimpun 55 puisi Nersalya yang ditulis rentang waktu satu dekade lebih. Puisi pembuka berjudul “Lingkaran” tercatat berkolofon 2001 dan puisi penutup berjudul “Garis” dengan kolofon 2013.

 

Kesabaran Nersalya dalam mengasah intuisi puitiknya terbaca dari sebagian besar puisi dalam buku tersebut. Tak ada ledakan diksi-diksi membahana. Tak ada liukan metafor-metafor njelimet. Suara-suara akupuisi Nersalya seakan muncul dari ruang kesederhanaan namun menyimpan beragam peristiwa. Ia seakan berusaha membekap getar bahasa, mengajak kata-kata mengembara ke bagian tersuruk di hari lalu, di mana ada sebuah ruang (barangkali rumah)nyaman yang telah mengendapkan peristiwa-peristiwa kecil dan selalu bergelayutan hingga hari depan seseorang.

 

Akupuisi Nersalya di satu sisi mengajak kita memasuki dunia kanak-kanak seorang perempuan. Bermain “dokter-dokteran” dengan “stetoskop plastik” pemberian seorang ayah (Stetoskop Plastik”, hal.27-28) . Fantasi tentang gambar di langit-langit kamar dimana ada gambar hati seorang lelaki berisi “3 kuntum bunga”, gambar “ibu mencium seekor katak”, “sebuah kanvas kosong”, dan fantasi lainnya (Lima Gambar di Langit-langit Kamar”, hal.35). Cerita tentang seorang “ibu” yang selalu menjadikan dirinya “rumah bagi ayah” dimana rumah tersebut “terus menerus ditinggalkan” untuk kemudian “dimasuki kembali oleh ayah” (“Rumah”, hal.36). 

 

Tentang “khayalan” untuk seorang “nenek” dimana seorang cucu seakan berharap “selembar uang plastik” yang “cukup untuk membayar tagihan telepon, listrik, dan belanja-belanji 30 tahun ke depan,” atau “robot untuk membersihkan rumah” barangkali agar nenek tidak perlu repot “memasak, mencuci, menyetrika, menyiram bunga”, hingga “dokter pribadi  yang selalu siap dan sabar” mendengarkan segala keluhan seorang nenek (Khayalan untuk Nenekku, hal. 51). Juga tentang cerita seorang cucu mengenai “mobil impian kakek”-nya (Mobil Impian Kakek, hal. 52-53).

 

Di sisi lain, aku-puisi yang perempuan kecil itu terus bertumbuh matang pikiran dan perasaan hingga mampu berpikir tenang memutuskan sebuah persoalan dalam ruang pribadinyaPerempuan itu terus bertumbuh dan mulai mempertanyakan persoalan hubungan illahiah manusia. Ia membayangkan “dosa-dosa” serta “doa-doa” barangkali “berputar seperti pusaran air” (“Lingkaran”, hal.12). Ia bayangkan dirinya jika mati kelak akan diawetkan dalam puisi (“Mati”, hal.38). Ia memberi tahu tentang ayahnya yang selalu mencari tuhan-tuhan lain sebab satu tuhan tak pernah cukup bagi ayaknya, “tuhan yang tak perlu dirayu-rayu dengan doa”, “tuhan yang bisa disematkan di jari manis”, “tuhan yang di tanam di pojok-pojok rumah”, “tuhan yang dapat dilarutkan dalam minuman”, dan beragam pengandaian tuhan lain (“Tuhan dan Ayahku”, hal.42-43). 

 

Perempuan kecil dalam puisi Nersalya terus bertumbuh, mempertanyakan tubuhnya sendiri dan meragukan berahi. Perempuan kecil itu juga tumbuh menjadi seorang ibu sebagaimana ibu yang turut dibahasakannya. Lihat bagaimana aku-puisi berlaku sebagai seorang “ibu” dalam puisi berjudul “Kepada Anakku”: aku mencintaimu/ jauh sebelum namamu kutemukan// telah kupilih ayah terbaik untukmu/ ayah yang membuat matamu berbinar/ setiap kali kau menatapnya/ ayah yang berwarna pelangi/ ayah yang kau sukai seperti permen dan coklat// aku bersumpah/ kau tak akan memiliki/ sebuah pisau yang menancap di kepalamu/ seperti yang kumiliki/ pisau yang ditancapkan ayahku… (hal.33)

 

Puisi “Kepada Anakku” tersebut memperlihatkan pertumbuhan aku-puisi Nersalya. Sebuah proses kematangan dari aku-puisi yang bermain dalam fantasi kanak-kanaknya hingga aku-puisi dengan naluriah dasarnya menjadi seorang ibu melakukan dorongan pemeliharaan terhadap anak. Nersalya dalam puisi tersebut seakan menggambarkan dua sudut dimana terletak kesakitan dan kebahagian. Dan aku– puisi menginginkan posisi seorang anak sejatinya musti diletakkan pada sudut kebahagiaan.

 

Kebahagiaan yang digambarkan dengan memilih “ayah terbaik”, “ayah yang berwarna pelangi” dan “seperti permen dan coklat” yang disukai  anak-nyaSi aku-puisi tidak menginginkan anaknya memiliki sebilah “pisau yang menancap” dalam kepalanya, “pisau” yang ditancapkan oleh ayahnya, yang membuatnya “tak mengenal warna”.

 

Kegemaran Nersalya, agaknya, memang menghadirkan ragam psikologi perempuan dalam puisi-puisinya. Melalui aku-puisi, ia seakan berusaha membangun apa yang disebut Sigmund Freud dalam psikoanalisa sebagai ciri-ciri kepribadian (personality traits). Gerak aku-puisi Nersalya terus memperlihatkan keterikatan, aku-puisi yang berkaitan. Perihal tersebut terlihat dari bagaimana satu puisi mempengaruhi puisi lain, seperti sebuah struktur kepribadian, dimana laku aku-puisi yang merupa perempuan kecil (masa lalu) dalam satu puisi akan mempengaruhi laku aku-puisi sebagai perempuan dewasa. 

 

Disadari atau tidak, Nersalya berusaha melengkapi kehidupan aku-puisinya dengan membangun fase-fase perkembangan kehidupan seksual (psichosexsual development). Fase-fase yang oleh Freud dibelah menjadi empat bagian (fase infantile, 0-5 tahun; fase latensi 5-12 tahun; fase pubertas 12-18 tahun; fase genitaldapat dibaca seutuhnaya dalam laku aku-puisi Nersalya. 

 

Lihat bagaimana fase infantile dimana seorang anak mulai mendapatkan pengalaman pertama dalam mengatur impuls-impuls dari luar, dan itu terlihat melalui posisi seorang “ibu”tak perlu kau perbaiki keran itu/ biarkan ibu terus menunggu/ air menetes/ sambil menjahit tubuhnya/ dengan garis-garis jelujur/ dan rapatkan titisan/ atau biarkan ia membayangkan/ air mengalir deras dalam kepalanya/ menghanyutkan ihwal lama tersimpan// (“Keran”, hal.15). Fase tersebut juga terlihat pada puisi “Rumah” yang memperlihatkan bagaimana akupuisi berlaku pada “ibu”, aku-puisi dengan ketenangan, yang tentunya didapat dari sosok seorang ibu.

 

Pada fase infantile ini pusat perhatian seorang anak juga tertuju pada perkembangan seksual, dan rasa agresi serta fungsi alat kelamin. Anak ingin tahu tentang seluk-beluk tubuhnya dan berhasrat mengeksplorasi tubuhnya sendiri serta berusaha menemukan perbedaan-perbedaan diantara dua jenis kelamin. 

 

Puisi “Stetoskop Plastik” memperlihatkan bagaiamana fase ini turut mempengaruhi aku-puisi Nersalyapagi itu kau membawa stetoskop plastik/ mainan baru/ oleh-oleh dari ayahmu// kau mengajakku ke gudang/ main dokter-dokteran//…kau telentang/ membuka celanamu dan memintaku/ memeriksa kelaminmu dengan stetoskop/…aku berikan stetoskop padamu/ tapi aku tak mau kau memeriksa kelaminku/ karena aku ingin bertanya dulu pada ibu/ mengapa kelaminku tak seperti kelaminmu. (hal.27-28). Salah satu puisi lain memperlihatkan laku aku-puisi sebagai seorang anak perempuan yang berusaha mengeksplorasi dan mempertanyakan persoalan dua jenis kelamin adalah berjudul “Hujan dari Dahan Pohon Jambu” (hal.13).

 

Puisi-puisi yang bercerita tentang “nenek” dan “kakek” memperlihatkan fase selanjutnya, yakni fase latensi, mempengaruhi psikologi aku-puisi. Fase ini merupakan periode teduh yang memperlihatkan aktifitas pergaulan seorang anak dengan orang lain. Fase ini turut membentuk rasa malu, aspirasi-aspirasi moral, serta pandangan estetis, dan perkembangan psikoseksual berkurang pada fase ini

 

Selanjutnya fase pubertas dan gentital terlihat dari puisi-puisi Nersalya berjudul “Coffe Break” (hal.17), “Sebotol Kenangan” (hal.19), “Angin Ngilu” (hal.23), dan beberapa puisi lain. Pada fase pubertas dorongan-dorongan libidal kembali muncul, namun jika dorongan tersebut dapat disublimasikan dengan baik, maka seorang anak akan sampai pada kematangan terakhir: yakni fase genital dimana segala kepuasan dianggap berpusat pada alat kelamin.

 

Fase-fase perkembangan kehidupan seseorang (dalam pandangan Freaudian) dapat dibaca seutuhnya melalui laku aku-puisi Nersalya. Ia memperlakukan aku-puisinya dengan penuh kesabaran dan menjaga pertumbuhan psikologinya mulai dari fase infantil hingga genital. Aku-puisi Nersalya pun dibuat tak gusar dalam berbicara persoalan cinta perempuan dalam masa puber hingga hasrat seksual seorang perempuan dewasa. Barangkali benar, puisi ibarat anak, dari kelahiran dan pertumbuhannya musti dijaga dengan baik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s