MERANTAU DIRI, MERANTAU PUISI

Tulisan ini telah dipublikasikan di halaman esai budaya koran Padang Ekspres, Minggu, 29 Maret 2013

Puisi adalah manifestasi dari merantau pikiran. Puisi bergerak, mengendarai kata-kata, dari satu tempat ke tempat lain dengan mengemban beban kultural sebagai tanggungan pokok. Tapi sejauh apapun puisi itu merantaukan pikiran, sejauh apapun tuan penyairnya turut merantaukan diri, kata-kata dan beban kultural dalam puisi tersebut tak akan pernah bisa melepaskan diri dari tanah asal. Tanah kelahiran dimana permulaan tuan penyairnya belajar memaknai sepatah demi sepatah katamelalui bahasa ibu (mother tongue).

 

Rantau pikiran dalam puisi ini bisa dimaknai dari puisi-puisi Riki Dhamparan Putra melalui kumpulan puisi terbarunya Mencari Kubur Baridin terbitan AKAR Indonesia (September, 2014). Riki selaku penyair kelahiran Kajai Talamau, Sumatera Barat, dalam kumpulan puisi tersebut seakan terus memperlihatkan pergerakan estetik puisi melalui perjalanan rantau. Ia mendedahkan setiap beban kultural dari tanah rantau ke dalam serat daging puisi, setiap peristiwa rantau, setiap desakan puitik rantau.

 

Riki secara sadar menggerakkan imaji puitiknya untuk terus menuliskan setiap inci tanah berikut kebudayaan rantau pijakannya. Sebagai seorang penyair kelahiran Sumatera Barat, dengan bahasa dan tradisi Minangkabau tempat Riki mula mengasah energi puitiknya, ia sepenuh diri menyerahkan intuisinya pada rantau. Pola kesadaran seperti ini adalah salah satu strategi pembawaan lahiriah seorang perantau dari ranah Minangkabau. Rantau berperan penting dalam perkembangan alam kehidupan seseorang. Perihal tersebut dapat ditinjau dalam konsepsi Minangkabau dan dalam struktur sosial kehidupan orang Minangkabau.

 

Taufik Abdullah dalam School and Politics : The Kaum Muda Movement in West Sumatera (1927-1933) membahasakan bahwa rantau bertindak sebagai alat memudahkan ketegangan yang muncul dari ketidakcocokan antara konsepsi Minangkabau tentang hubungan antara individu dan masyarakat, pada satu sisi, dan tuntutan struktur sosial matrilinealnya, pada sisi lainnya. Rantau bukan hanya sebuah pintu  gerbang untuk bisa memasuki alam tapi juga satu gerbang melalui mana orang-orang yang tidak puas di Masyarakat alam bisa mendapatkan jalan keluar.

 

Jalan kepenyairan Riki memperlihatkan pola rantau seperti dikatakan Taufik Abdullah. Proses kepenyairannya dimulai di kampung tempat ia dibesarkan, Kenagarian Lumpo, IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat dengan mendirikan Sanggar Welidtra bersama rekan-rekannya sesama siswa sekolah menengah. Denpasar, Bali, ia pilih sebagai rantau kepenyairannya pada tahun 1994 dengan bergabung diSanggar Minum Kopi asuhan Umbu Landu Parangi. 

 

Di Denpasar, dasar pijakan puitik melalui proses kreatifnya dari kampung ia asah. Pergerakan estetika puisinya oleh Umbu Landu Paranggi membuat Riki dijuluki Trisula Bali bersama dua rekan lainnya, yakni Raudal Tanjung Banua dan Wayan Sunarta. 

 

Lihat bagaimana Riki memulai meletakkan posisi puisi berjudul “Batas Rantau” dalam kumpulan puisi terbarunya. Puisi dengan kolofon tahun 2004 tersebut menjadi gerbang untuk pembaca mulai menelusuri rantau-rantau puisi Riki lainnya: “Ingin kudengar darimu akhir cerita// Hingga Sikilang aie bangih ombak mengombak serupa ombak juga/ Hingga durian ditekuk raja buah durian berduri juga/ Di manakah ada buaya hitam dagu/ Di manakah sirangkak nan tidak berdengkang?// Ingin kudengar darimu ketika pulang”.

 

Dari ke-55 judul puisi dalam buku Mencari Kubur Baridin, puisi “Batas Rantau” sebagai pembuka seakan menjadi diktum rantau kepenyairan yang dijalani Riki. Puisi tersebut diolah dari bangunan metafora yang menjadi kalimat puitik dalam Tambo Minangkabau mengenai batas-batas wilayah. Aku-lirik dalam puisi tersebut seakan mengajak pembaca ikut mengarungi rantau puisi Riki, sekaligus memberikan sebuah pertanyaan besar mengenai tanah-tanah dengan batas puitik sedang dibawa seorang penyair dengan menyusuri rantau antah-berantah.

 

Dari puisi “Batas Rantau” tersebut selanjutnya pembaca akan menemui beban kultural penyair dalam menjalani perantauannya. Bali menjadi salah satu titik citraan puisi Riki dan perihal tersebut bisa dibaca pada puisi kedua dalam buku tersebut berjudul “Tiang-tiang”. Juga dalam puisi “Tetap Kecil di Batur”, “Di Sebuah Tiang Kilometer”, “Memasak Ubud di Hari Nyepi”, “Patung Ubud Lukisan Ubud”, “Belajar Bahasa Indonesia di Hari Ngaben”, dan beberapa puisi lain.

 

Puisi “Belajar Bahasa Indonesia di Hari Ngaben” memperlihatkan bagaimana Riki turut merespon tradisi tanah rantau. Ia seakan melakukan ‘somasi’ kebudayaan melalui puisi tersebut terhadap salah satu upacara besar di Bali: Ngaben. //…kata sifat ngaben/ pesta// kata dasar ngaben/ kasta// kata bantu ngaben/ pariwisata// pepatah ngaben/ waktu lebih utama daripada uang.

 

Riki memperlihatkan bagaimana ia membangun rantau pikirannya dan melalui puisi. Ia juga memperlihatkan bagaimana pola menempatkan diri sebagaimana alam Minangkabau dengan tradisinya telah menjadikan seseorangsebagai manusia politik yang ‘bebas’. Puisi tersebut juga memperlihatkan bagaimana perananan rantau yang bukan hanya soal melanjutkan eksplorasi geografis dan pencarian material namun juga persoalan bagaimana seorang perantau mempelajari tempatnya berpijak dan hubungannya dengan orang lain. Sebagaimana dalam filsafat adat Minangkabau, bahwa merantau adalah salah satu cara untuk memenuhi hukum pokok agar individu dapat menundukkan diri sendiri pada kebesaran alam. Dengan meninggalkan nagari, atau alam Minangkabau, pemuda mempelajari tentang tempatnya sendiri di alam dan hubungannya dengan orang lain,” tulis Taufiq Abdullah.

 

Perjalanan budaya Riki ke Indonesia bagian Timur sebagaimana tertera dalam biodata dalam kumpulan puisi tersebut juga memperlihatkan bagaimana penyair merespon daerah-daerah yang ia kunjungi. Hampir sebagian besar puisi Riki menyerap citraan daerah Timur Indonesia dan puisi-puisi tersebut tidak hanya sekadar catatan perjalanan puitik. Lihat bagaimana Riki membangun suasana dalam puisi “Jalan ke Tilong”: “Pada Jejak yang pulang/ Aku tinggalkan untukmu jalan ke Tilong yang sunyi/ Pohon tuak seratus tahun dan wangi gula air/ Bocah-bocah berbahu kayu/ tertatih-tatih memikul derigen air…//

 

“Jalan ke Tilong” merupakan salahsatu puisi yang memperlihatkan bagaimana pola Riki memperlakukan rantau, atau daerah perantauan, sekaligus sebagai alam. Seperti adagium di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung yang selalu diamanatkan seorang perantau, seperti itulah Riki memperlakukan rantau-rantaunya. Riki menangkap lantas mengikat suasana rantau terhadap dirinya dan didedahkan dalam tubuh puisinya. Ia memperlakukan rantau sebagaimana ia memperlakukan alam dirinya dengan cara melihat sebagai ‘orang asal’ bukan sekadar ‘orang datang’ dengan sebuah kamera saku. “Cerita di Atas Kapal”, “Di Teluk Kupang”, “Di Bawah Patung Ina Boi”, “Surga Matamera”, “Tuan Ma”, “Lamahala”, merupakan beberapa puisi Riki lain yang datang dari citraan Timor.

 

Riki kerap juga mengeksplorasi cerita rakyat dari berbagai daerah dalam puisinya. Ia berusaha mengambil bagian terpenting dari cerita-cerita rakyat tersebut, yakni rasa penasaran dan pertanyaan-pertanyaan masyarakat tentang kebenaran dari cerita tersebut. Misalkan pada puisi “Mencari Kubur Baridin dan Suratminah”—dijadikan untuk judul kumpulan puisi—yang merupakan cerita rakyat populer di daerah Cirebon. Riki menggarap persoalan keinginan besar Baridin terhadap Suratminah. Rasa penasaran masyarakat akan kebenaran cerita tersebut berikut dengan pertanyaan masyarakat soal kuburan Baridin dan Suratminah dieksplorasi ke dalam bahasa puisi. 

 

Selain itu puisi “Limang” merupakan eksplorasi puitik terhadap kisah Malin Kundang yang mengawini putri nahkoda dari Makassar. Dalam cerita rakyat yang berasal dari Sumatera Barat ini perihal perkawinan Malin Kundang tak terlalu banyak dibahas. Hampir sebagian besar masyarakat mengapungkan persoalan kutukan terhadap Malin Kundang. Tapi Riki mengambil sudut citraan lain untuk dijadikan peristiwa puitik. Sudut yang juga jarang diolah oleh penyair lain.

 

Kumpulan puisi Mencari Kubur Baridin karya Riki Dhamparan Putra ini seakan menjadi bukti jalan rantau diri dan rantau puisi yang dipilihnya setelah kumpulan puisi pertamanya Percakapan Lilin (2014). Jalan kepenyairan Riki adalah jalan untuk menemukan alam pikiran untuk kembali atau mengembalikan sesuatu ke tanah asal, ke asal puisi.Sebab secara filosifis anggota dewasa alam Minangkabau, atau seorang perantau, diharapkan bertindak sebagai pemberi informasi sekaligus guru yang memungkinkan masyarakat untuk “mengambil yang baik (dari rantau) dan membuang yang buruk (di alam).

 

Rantau puisi memang tidak melulu dipenuhi dengan gemerlapnya kota, rantau puisi adalah perihal menyusuri dan memaknai apa yang sedang ada di hadapannya, di hadapan kita juga. //…Sedang di sepanjang jalan yang kulalui kini/ hanya ada orang mati/ tumbuhan mati/ binatang mati/ kota mati…/ tulis Riki dalam puisi “Cerita Mati Buat Kisanak AH”:

 

 

 

Esha Tegar Putra adalah alumni Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s