CUKUR RAMBUT

Telah aku cukur segala rambut dari kepala 

hingga pangkal paha. Agar hari datang  

tidak lagi seperti kucing bermuka buruk 

dan agar hari pergi tidak lagi serasa paku 

ditakik pada batok kepalaku. Dan kini 

di atas punggung sapi berjanggut aku mulai 

duduk membaca kitab, mengatamkan hikayat

meluruskan cara membangun kalimat 

dari reruntuhan kata yang selalu pandai 

berkhianat. Kata yang memisahkan telapak 

kuda dari tungkainya, yang telah menukar letak 

pantat dan kepala keledai, yang menyusun rasi 

bintang berbentuk orang mengangkang, dan

membuat kematian paling indah agar pantas 

digelak-tawakan.

 

Di atas punggung sapi berjanggut aku duduk

dan kini telah kutuntaskan kitab tentang orang 

alim orang keramat berlari di atas danau dengan 

pangkal jubah tak sedikitpun basah. Kukhatamkan 

hikayat tentang kampung ditenggelamkan 

semalam hujan dan kapal terbakar di tengah 

lautan dalam. Lantas kutulis sebaris sajak 

tentang orang pandir berlari telanjang bulat 

sehabis kalah bertaruh judi dadu. Kutulis sajak 

ketika sapi berjanggut menggetarkan gelambir 

perut dengan lidah terus melipir. Sehabis-habis 

suara kuteriakkan nazam tentang cinta terlarang 

seorang saudagar kain dengan perempuan 

penjual gambir. Telah aku cukur segala rambut 

dari kepala hingga pangkal paha. Agar seketika 

kutunggangi sapi berjanggut segala bentuk

kepandiran telah lebih dulu kubuat terenggut.

 

2015


Dimuat Koran Tempo, Minggu, 29 Maret 2015

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s