SARINAH

Pada pangkal ketiakmu aku temukan kota 

mengerut serupa kulit limau purut, Sarinah. 

Plaza empat puluh tingkat berarsitektur paruh 

unggas berdiri tegas. Pohon-pohon tumbuh 

hitam dengan daun tertabur serbuk garam. 

Kota dengan daratan tiap sebentar turun 

dikepung air naik ketika gerak gelombang 

ditarik bulan datang. Kota dengan dinding 

kedai kopi, kedai nasi, hingga kedai lemang 

memajang potret orang tua alim lagi bertuah 

buat menarik orang datang membeli barang. 

“Belikan kutang, uda.  Sehelai kutang baru 

dengan ragi kain sematang daging mengkudu.”

 

Dan bengkak dadamu itu serupa tandan kelapa 

muda dibuai-buai angin limbubu. Puncak sebuah

malam dengan tembakan laser gagal membikin 

bubar iringan awan bergumpal. Getar dadamu itu

hasrat purba kuda jantan disiarkan gelombang 

radio ke arah dusun paling dusun.  Aku temukan 

kota, Sarinah, dari pangkal ketiak hingga bengkak 

dadamu mengerut serupa seulas papan berulang 

terapung dan terbenam dipiuh deras arus muara. 

“Jangankan sehelai kutang, Sarinah. Di langit 

akan kuputus gantungan bulan, di laut akan 

kusauk gulungan gelombang, agar kutang 

seisi kedai itu kau bungkus kau bawa pulang!”

 

Leher panjangmu itu membuatku berdiri tegak

meneropong kota dari ketinggian. Aku melihat 

kaum  penggila emas penggila suasa memberi 

nama-nama asing untuk setiap gundukan tanah

pasir terungguk, serta batu-batu terserak. Kaum 

dengan kegemaran memandang air tergenang.

Mereka berhimpun dimana ada air tergenang

merencanakan siasat bercinta paling gila sambil 

mengudap goreng pisang raja. Segala padamu 

adalah takdir dari kota ini, Sarinah. Kota dengan 

sepasang patung bengkuang gadang  terjepit 

kerampang ditegakkan di gerbang kedatangan

dan gerbang kepergian. “Kulit dalam bajuku 

mengerut, uda, kutang baru dengan lingkaran 

logam pelancar aliran darah dan pengencang 

kulit dijual murah di kedai sebelah.”

 

2015

Dimuat Koran Tempo, Minggu, 29 Maret 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s