MEMBACA “DALAM LIPATAN KAIN”

Ulasan mengenai buku “Dalam Lipatan Kain” ini ditulis R.Abdul Aziz, mahasiswa UPI, Bandung. Anggota ASAS UPI. Diterbitkan halaman seni-budaya koran Padang Ekspres, Minggu, 12 April 2015.

Selain pengkaji, pembaca adalah orang yang tidak bisa berbuat apa-apa dengan bahasa yang diposisikannya sebagai objek, itulah pandangan Bourdieu yang menyamakan persepsinya dengan Bally. Dalam membaca kumpulan puisi terbaru Esha Tegar Putra berjudul “Dalam Lipatan Kain” terbitan Motion Publishing (2015) saya berupaya menempatkan teks sebagai objek untuk dianalisis dan harus mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan terdekat.

Meminjam ungkapan Barthes tentang ruang otonom ‘teks’ bahwa kematian pengarang telah terjadi ketika ‘teks’ itu diberi label dan diedarkan untuk dikonsumsi. ‘Aku’ yang berada di dalam ‘teks’ bukanlah aku seorang pengarang, melainkan aku ‘teks’. ‘Teks’, sebelum diberi label ‘puisi’ adalah sebuah ruang hampa yang diciptakan. Sebab ketika teks diberikan identitas, ketika itu pula ruang hampa ini seolah-olah terisi. Lalu apa yang menarik dari teks dalam buku puisi “Dalam Lipatan Kain” yang dinamai puisi oleh Esha Tegar Putra ini?

Teks yang bekerja sebagai puisi ini, telah meringkus perhatian saya. Mula-mula, permainan bunyi yang tercipta dari benturan antar diksi. Lalu melahirkan frasa-frasa metaforik yang membentuk imaji. Walaupun terkadang ada yang mudah dan ada yang sulit dijangkau.

Bagaimana prosodi (kajian tentang persajakan) dalam sebagian besar puisi “Dalam Lipatan Kain” ini bekerja? Pertama teks dibiarkan liar dengan gaya penceritaannya. Mulai dari persinggungan antara diksi dan bunyi. Memang diakui, bahwa diksi yang akan menghasilkan bunyi (rima dan irama), bahwa suara akan dipenjarakan bahasa, dan bahasa telah berangsur-angsur terkurung dalam teks. Namun di sini, terdapat ruang ‘bunyi’ yang lebih besar dari persoalan pilihan diksi. Bunyi, seolah-olah menjadi ruang yang akan menguatkan gagasan—saya enggan menyebut ‘permainan’ bunyi.

Bunyi di “Dalam Lipatan Kain” ditempatkan bersama diksi untuk mengambil alih ruang gagasan. Dari persinggungan antara diksi dan bunyi, terlahir hipokin (kata yang memiliki citraan ganda). Hipokin ini tidak selalu tercantum secara tersurat, sebab hipokin ini bekerja untuk membangun suasana. Di sana terdapat simbol,  inilah yang dimaksudkan ‘yang mudah terjangkau’ dan ‘sulit terjangkau’. Rujukan ini di istilahkan simbol yang harus dicaritahu dari teks sebelumnya. Semacam alusi, namun lebih mendekatai geno-text (istilah semantis) atau rujukan silang dari semacam budaya dan sosial demi membantu pendekatan yang terlalu terisolir. Bagaimana kerja metafor? Metafor “Dalam Lipatan Kain”, bukan tidak bekerja dan bukan sebagai penghias semata. Namun pembangun suasana, yang entah mengapa, memiliki keunikannya tersendiri.

Lihat saja puisi berjudul Rumah di Atas Gelombang (hal. 13). Diksi dan paduan bunyi begitu terasa dalam bait pertama: /Rumah kami/ rumah di atas gelombang gadang/ getar lantai, getar badai/ dingin palang, dingin retakan karang/ hempasan pintu, hempasan lambung perahu/. Diksi dan bunyi sendiri berdampak pada imaji suasana yang ingin disampaikan. Dapat diperhatikan bagaimana bunyi sengau “ng” di antara satu larik dan saling mengisi di larik selanjutnya, juga paduan bunyi “a, i dan u” yang berdampak pada pembangunan suasana dalam menjalin imaji. Secara sepintas imaji telah mengisi lebih dahulu, lantas dikuatkan oleh bunyi.

Begitu pula pada bait kedua ketiga dan keempat dalam puisi itu. Metafor bekerja untuk mempertegas suasana; suasana rumah kami yang berada di atas gelombang. Lalu repetisi dalam sajak dilakukan pada bait kelima sebagai penguatan suasana. Namun apakah hanya suasana saja yang ingin disampaikan?

Bakthin pernah berujar, adalah sifat dari setiap parodi untuk menukar tempatkan nilai-nilai. Gaya yang menjadi sasaran parodi, menyorot elemen-elemen tertentu. Sementara elemen-elemen lain di dalam bayang-bayang: parodi selalu diplesetkan ke berbagai arah, dan plesetan (bias) ini didiktekan oleh sifat bahasa parodi, sistem logat strukturnya yang sangat berbeda.

Kata kuncinya adalah dikte dari sistem logat. Maka perlu dicari kemungkinan strtuktur bahasanya. Pada larik puisi Rumah di Atas Gelombang selanjutnya: /… Pijar lampu/ menghamburkan sisik ikan. Sembulan kapuk dari bantal/ seakan kiriman gatal dari asin air dangkal/.  Apakah ini yang dimaksud dengan sistem logat? Saya akan meminjam istilah geno-text, satu bait pantun minang dari kumpulan tulisan schoolschriften yang ditulis oleh mantan siswa  siswi Sekolah Radja di Fort de Kock (Bukittinggi):  /Basingalik mamanjek kapuak/ Tageleng deta di kapalo/ Alang sarik biduak ka masuak/ Tatagun sajo di kualo./  Walaupun menggunakan bahasa Minang, bagaimana dapat diindentifikasi logat yang serupa dilakukan dalam puisi?

Kemesraan antara logat (Bahasa Minang) dan bahasa (Bahasa Indonesia) bersanding saling mengisi dalam kumpulan puisi “Dalam Lipatan Kain”. Lalu apakah terlalu personal dan tidak terjangkau? Barangkali tidak. Dalam kasus teks puisi “Rumah di Atas Gelombang” tetap dapat dinikmati dengan cukup baik, walaupun keparodian yang dimaksud Bakhtin belum atau tidak didapatkan oleh pembaca keumuman pada puisi ini. Bagaimana dengan teks puisi selanjutnya?

Kita bisa melihat dalam puisi berjudul Di Kedai Hau (hal. 34). Masih seperti teks sebelumnya,  diksi dan bunyi masih kentara menjalin kemesraan. Hanya saja, frasa metaforik yang kelak beranak metafor lebih menguatkan suasana. Misalnya: /angin demam tinggi/  sebuah hipokin. Hipokin terjadi akibat terdapatanya analogi ciri citraan pertama dengan gambaran yang lain yang terepresentasikan akan membuahkan metafora. Diksi “angin” telah tergambarkan sebagai citraan yang dapat dirasakan, lantas dipadankan dengan diksi “demam” yang identik dengan manusia. Apakah ini personifikasi? Ini belum menjadi personifikasi. Sebab, personifikasi arahannya tercipta bukan hanya dari aforisma sebuah frasa (bukan terlahir dari sebuah frasa) melainkan dari bentuk yang memang sudah dijalin dari larik atau bait sebelumnya.

Pada bait selanjutnya dalam puisi Di Kedai Hau: /Tapi di sini kita tidak mesti tahu/ apa arti kuah kaldu dengan/ jantung sapi yang disayat seperti dadu. Oh, hari baru!/. Parodi dengan sengaja ditampakan pada larik ini. Barangkali majas satir yang mewakili keparodian tersebut. Bagaimana ‘kita tidak mesti tahu’ lantas tiba-tiba saja datang ‘Oh, hari baru’ yang bila dilanjutkan pembacaannya akan benar-benar merujuk pada kesatiran. Namun saya akan memberi petanda yang bisa diamati baik-baik. Diksi ‘hari baru’, entah mengapa, diksi ini hampir mirip seperti tanda yang harus diterjemahkan. Sebab, teks tidak memberi rujukan yang konkret tentang esok, lusa ataupun waktu yang akan datang. Diksi (leksikon) bekerja seperti beberapa menit yang lalu. Atau beberapa jam sebelum teks ini diselesaikan. Semacam peristiwa yang biasa, namun meminjam istilah Nirwan Dewanto: belum terjangkau oleh bahasa.

Saya menemukan diksi itu, dan menemukan diksi ‘hari lalu’. Dan anehnya, diksi ‘kemarin’ atau ‘esok’ hanya menjadi semacam waktu yang tidak pasti dan berbeda dengan gagasan ‘hari lalu’ dan ‘hari baru’. Lihat pada puisi berjudul Kelahiran Dendang (hal. 11): …“Kemari, Dendang, kemari/ akan kupiuh putaran jam sebelum orang-orang sadar/ kemarin adalah besok”/ Dan pada puisi berjudul Kuranji Joged Palinggam (hal. 63-64): …Seperti /kemarin masih baru, kau dan aku adalah hari lalu, di/ tahun berat, di geriap kota yang terus membahasakan/ ingatan…/. Selanjutnya terbaca juga pada puisi berjudul Pada Sebuah Malam (hal. 98-99): /…Segalanya mendadak berungkap hari lalu/ /serasa kemarin masih baru./

Kain dan Simbol Budaya

“Dalam Lipatan Kain” diambil dari judul salah satu puisi Esha Tegar Putra dalam kumpulan tersebut dengan judul yang sama. Dan membaca puisi Dalam Lipatan Kain (hal. 93) tersebut bisa mengarahkan kita pada sebuah nilai filosofis budaya. Lihat saja pada pada bait pertama puisi tersebut: /Kutemukan kembali namamu/ dalam lipatan kain/ seolah-olah menjadi hal yang biasa. Namun, pada bait selanjutnya /dengkurmu, jatuhan bulu matamu, potongan kukumu/ dengung kalimat terakhirmu sebelum pohon angsana itu/ tercabut dari pangkal./ menjadi semacam hal yang spesial. Rujukan /-mu/ disini menjelma seseorang yang begitu istimewa dengan memerantarakan /kain/. Namun apakah benar? Kain-kah? Atau mu-kah yang menjadi hal istimewa itu?

Bila merujuk pada judul, seakan-akan Kain-lah yang menjadi perantara. Namun, bila melirik secara teks keseluruhan, maka Kain telah mengemban nilai filosofisnya tersendiri, dan seseorang yang dikurung dalam ‘mu’ menjadi penguat suasanannya. ‘Kain’ dan ‘kamu’ memang sulit dijangkau secara alusi. Apakah nilai Kain dalam budaya? Saya harus meminjam geno-text kembali. Seperti yang ditulis Esha Tegar Putra pada pembuka buku tersebut: “…“Kain” lebih pada helaian benda yang dihidupkan untuk menjadi penghubung beragam peristiwa dalam hidup seseorang. “Kain” akan hadir suatu waktu dalam masa bahagia, dalam malam-malam mengharubiru, dalam tahun-tahun dengan kangen tak tertanggungkan, dalam tragedi paling buruk dan bahkan kematian sekalipun. Kain hadir dalam berbagai peristiwa dengan berbagai laku pula. Setiap laku kain akan membuat orang-orang harus sadar kehadirannya…”

Pengembanan nilai filosofis budaya disimbolkan dalam sehelai Kain, kehadiran simbol ini mengutip Aminudin adalah “Hubungan simbol yaitu kesadaran batin penafsir terhadap bentuk ekspresi, kode, bentuk perlambangan terlebih lagi sistem tandanya terkenali dan tertandai lewat simbol. Perbedaannya simbol kebahasaan pada tataran bentuk ekspresi, kode dan bentuk perlambangan merupakan hasil tindak rekreatif penanggapnya. Sedangkan simbol pada tataran sistem tanda merujuk pada hasil simbolisasi bentuk perlambang yang sifatnya konkret.”

Maka, simbol Kain yang dimaksud adalah simbol dalam tataran sistem. Sistem yang diringkus ke dalam sebuah simbol Kain dalam kebahasaan. Dalam istilah Hegellian proses pemahaman dan penangkapan itu terbentuk lewat communicative persona sebagai bentuk komunikasi internal yang terjadi dalam dialog batin yang tersublimasikan dan dilandasi oleh dunia pengalaman dan pengetahuan komunikan (penerima pesan).

 Abdul Azis, enulis puisi, cerpen dan esai. Mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, dan bergiat di ASAS UPI.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s