MENGURAI RELASI MANUSIA DENGAN ALAM

Ulasan buku ini terbit di halaman Buku, koran Padang Ekspres, Minggu, 12 April 2015.  Judul Buku: Ekofenomenologi | Penulis: Saras Dewi | Penerbit: Marjin Kiri | Catakan: I, Maret 2015 | Tebal: xiv + 128 halaman, 14 x 20,3 cm | ISBN: 978-979-1260-42-8.

Cover Buku Ekofenomenologi, Saras Dewi

Sebatang pohon ketapang besar berusia puluhan tahun tumbuh tinggi menjulang di halaman sebuah sekolah dan ada seorang anak perempuan kecil teramat sayang pada pohon tersebut. Ia gemar duduk di bawah pohon itu, membaca buku, mengerjakan tugas sekolah, berteduh sambil menyentuh guratan kasar kulit pohon atau sekedar menikmati angin lewat.

Anak perempuan kecil itu harus kecewa ketika suatu ketika pohon tersebut akan ditebang dengan alasan pelebaran bangunan sekolah. Besar keinginan untuk mempertahankan agar pohon tersebut tetap tumbuh, tapi argumen lemah seorang anak kecil, pastilah tumbang lewat istilah pamungkas: pembangunan.

Kecintaan anak perempuan kecil itu terhadap pohon ketapang sekaligus kekecewaan karena pohon tersebut ditebang terus mengusiknya sampai dewasa. Hingga ia menulis sebuah buku sebagai reaksi terhadap kehancuran yang terjadi pada alam, bertajuk Ekofenomenologi, ia menganggap karya yang mengurai disekuilibrium relasi manusia dan alam tersebut adalah argumen tertunda dari kegagalannya mempertahankan sebatang pohon ketapang masa lalu.

Perempuan kecil dan ingatan soal pohon ketapang itu, adalah milik Saras Dewi. Dosen sekaligus Ketua Prodi Ilmu Filsafat Universitas Indonesia yang juga merupakan pelantun lagu Lembayung Bali. Pengalalaman masa lalu Saras memang telah membawanya jauh dalam kecintaan terhadap alam. Ia kerap terlibat dalam aktivitas lingkungan, termasuk penolakan terhadap reklamasi kawasan hijau di Teluk Benoa (Bali) dan turut menyuarakan penolakan pembangunan pabrik semen di Rembang.

Perihal kesadaran dan keinginan Saras kecil mempertahankan kelangsungan hidup sebatang pohon, seperti ditulisnya dalam pengantar buku Ekofenomenologi, mengingatkan saya pada film fiksi ilmiah besutan sutradara James Cameron pada tahun 2009 berjudul Avatar. Keinginan yang sama dari suku bangsa Na’vi khususnya klan Omaticaya di Planet Pandora untuk mempertahankan pohon-pohon besar di hutan planet mereka. Pohon-pohon besar mereka akan dirobohkan manusia dikarenakan tepat di bawah pohon-pohon besar itu terdapat sumber mineral baru untuk menopang industri di Bumi.

Bagi suku bangsa Omaticaya sendiri pohon-pohon besar itu adalah kehidupan mereka. “ibu” dari segala “ibu”, penghubung kehidupan illahiah mereka, tempat mereka tinggal, tumbuh dan berkembang mempelajari seluk-beluk dunia mereka. Pohon-pohon besar tersebut saling terhubung satu dengan lainnya. Dan jika kedatangan manusia dari Bumi hendak merobohkan pohon-pohon untuk mengambil mineral maka sistem kehidupan di planet Pandora dan kelangsungan kehidupan suku bangsa Na’vi yang masih alamiah tersebut akan kacau-balau. Maka mereka mempertahankan, melakukan perlawanan, menghadang segala usaha manusia untuk mengacaukan sistem kehidupan mereka.

Setidaknya bagaimana kesadaran suku bangsa Na’vi dalam film Avatar, untuk mempertahankan pohon dan hutan mereka, hampir sama dengan pembahasan Saras dalam buku Ekofenomenologi yang membicarakan bagaimana relasi manusia dengan alam. Bagaimana keterhubungan manusia dengan alam dan bagaimana seharusnya manusia berlaku pada alam.

Fenomenologi Lingkungan

Fenomenologi lingkungan merupakan suatu teorisasi yang dirancang pasca terjadinya kerusakan alam. Keterbatasan dari pembahasan etika lingkungan menunjukkan betapa pentingnya perenungan filosofis, dalam hal ini perenungan fenomenologis. Fenomenologi lingkungan adalah suatu metode fenomenologi yang menyorot secara partikular relasi subjek dengan lingkungannya.

Sebagai suatu metode, fenomenologi lingkungan merupakan bagian dari perkembangan filsafat kontemporer, yakni metode pemikiran yang menjadi reaksi terhadap krisis-krisis yang dihadapi oleh manusia. Fenomenologi lingkungan membahas krisis kemanusiaan berkaitan dengan relasinya dengan alam yang semakin memburuk. Melalui metode ini dipertanyakan kembali problem humanitas, bahkan menyatukan kembali humanitas yang selama ini terpisah dari alam. Sesuai dengan disiplin fenomenologi, tema sentral dari metode pembahasan Saras dalam buku Ekofenomenologi adalah memahami relasi di antara subjek dengan dunianya.

Saras menekankan pada tiga tokoh utama yang membahas persoalan fenomenologi, yakni Edmund Husserl, Maurice Merleau-Ponty, dan Martin Heidegger. Selain itu, disertakan pula pembahasan beberapa penafsir dari teori-teori fenomenologi, seperti Neil Evernden dan Erazim Kohak.

Melalui fenomenologi, dalam buku tersebut, Saras berupaya meneliti hubungan ontologis manusia dengan alam secara lebih mendalam dan radikal. Ia menganggap rekonstruksi terhadap kerusakan alam saat ini perlu dilakukan pencarian pemahaman ontologis tentang alam sebab persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan melalui pandangan etis yang praktis saja.

Buku tersebut berupaya menawarkan sebentuk ontologi baru dengan sorotan spesifik, yakni relasi antara manusia dan alam. Ontologi sejauh ini, dalam tradisi Filsafat Barat semenjak pemikiran Cartesian,  di mana manusia dan alam dijelaskan secara terpisah melalui ontologi berbeda dianggap dalam penelitian Saras tidak memberikan relasi yang benar terhadap hubungan manusia dan alam. Pola tradisi Filsafat barat memberikan pemahaman mengenai subjek adalah manusia yang memiliki interioritas kesadaran, sementara itu alam adalah objek yang tidak memiliki interioritas dan bekerja secara mekanistis. Begitu juga persoalan etika lingkungan, dalam buku tersebut, dianggap masih gamang dalam menjelaskan alam sebagai sebuah entitas.

Dalam pandangan Saras, ekologi maupun etika lingkungan ditengarai masih terjebak dalam dikotomi antara ekosentrisme dengan antroposentrisme. Meskipun narasi lama mengenai gerakan ekologi dan etika lingkungan telah dengan tepat menunjukkan berbagai kerusakan alam dan kemerosotan lingkungan hidup akibat aktivitas-aktivitas manusia yang mengutamakan kepentingannya sendiri. Tetapi pandangan dunia yang antroposentrik tetap menjadi pangkal ketimpangan relasi antara manusia dengan alam sekitarnya. Dikotomi tersebut membuat gerakan ekologi dan etika lingkungan selalu kesulitan dalam menjelaskan kepentingan manusia di dalam kerangka hidup bersama alam.

Menguak Disekuilibrium

Kemampuan berakal budi sering digunakan sebagai pembenaran manusia untuk menjadi penguasa dari alam. Akal menjadikan manusia sebagai spesies yang terpilih, dalam etika lingkungan dikenal diskriminasi berdasarkan spesies, yakni spesiesme (Saras Dewi mengutip Environmental Ethichs Today, Peter S. Wenz, hlm. 88, USA: Oxford University Press, 2001). Perihal akal budi menjadikan manusia merasa lumrah melakukan eksploitasi terhadap alam berlandaskan kemampuan rasional manusia.

Pengalaman masa lalu Saras menjadi salah satu contoh kasus bagaimana kuasa manusia menumbangkan sebatang pohon besar tanpa melalui pertimbangan etis. Atau dalam narasi besar persoalan keberlangsungan hidup alam yang dibawa dalam film Avatar, manusia merasa berhak menumbangkan pohon-pohon, untuk menggaruk mineral yang berada di kedalaman tanahnya. Peroslan tersebut merupakan pandangan antroposentrik dengan dalil bahwa alam hanya berharga dalam konteks kegunaannya terhadap manusia.

Saras dalam buku Ekofenomenologi mengutip Aldo Leopold, seorang penggagas etika lingkungan, yang menyatakan bahwa konsep konservasi seringkali digiatkan karena kepentingan dan keuntungan manusia semata. Melalui konsep ‘Etika Tanah’ Leopold menjelaskan bahwa meskipun sebagian besar ekosistem adalah makhluk non-rasional atau non-manusia, tidak berarti ekosistem tersebut diluputkan dari pertimbangan etis.

Buku Ekofenomenologi menyatakan telah terjadi persoalan disekuilibrium dimana ketika pemisahan ontologi alam dan manusia maka akan terjadi sebuah ketimpangan. Manusia sebagai pelaku menyebabkan serta membiarkan ketimpangan ini terjadi. Disekulibrium merupakan kebalikan dari ekuilibrium, dimana menandakan suatu kondisi di mana dua substansi yang ada, yang berbeda dan juga berlawanan tetapi saling berpengaruh, dapat bertahan dalam titik stabil.

Disekuilibrium terjadi karena manusia mendominasi dan mengeksploitasi alam. Melalui telaah fenomenologi lingkungannya dalam buku Ekofenomenologi Saras hendak menunjukkan bahwa restorasi ke titik ekuilibrium dimungkinkan terjadi bila perombakan pemahaman tidak saja berhenti pada titik etis, tetapi terus mengakar hingga perombakan ontologis.

Tidak akan ada pintu ke masa lalu, kembali ke Saras kecil dengan kekuatan argumentasi Saras kini, yang barangkali bisa mempertahankan sebatang pohon kesayangannya tidak jadi  ditebang. Tetapi, telaah dalam Ekofenomenologi, barangkali bisa menghadapkan kita pada permenungan yang membuat ribuan atau bahkan jutaan pohon dan alam masa depan terselamatkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s