“MEGA-MEGA” ARIFIN C. NOER: ANTARA MEMBIAR DAN MENGHELA WAKTU #HELATEATER

Minggu, 21 April 2015, saya menonton pertunjukan teater di Teater Salihara dengan naskah Mega-Mega karya Arifin C Noer. Pertunjukan ini dimainkan oleh Prodi Teater IKJ disutradarai Bejo Sulaktono. Setahu saya, pertunjukan ini sudah beberapa kali dimainkan Prodi Teater IKJ dengan sutradara sama (pernah di agenda Art Summit Indonesia Festival), meski saya tidak menyaksikan. Namun ini kali ketiga saya menonton pertunjukan dengan naskah sama.

Arifin C. Noer menuntaskan naskah Mega-Mega pada dekade gamang, pertengahan hingga akhir dekade 1960. Tahun-tahun dimana terjadi pergolakan besar dan mengubah arus perpolitikan Indonesia. Arifin mengangkat bagian dari momen tragik di tahun-tahun itu. Potret segerombolan orang miskin di ,lingkungan Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Di lingkungan itu mereka bertahan hidup, melangsungkan kegiatan sehari-hari, dan mengenang nasib buruk di hari lalu hingga berangan-angan tentang hari depan lebih baik. Tujuh tokoh rekaan Arifin dalam naskah tersebut adalah gambaran dari masyarakat kelas bawah dengan segala perangai, tapi kesamaan nasib membuat mereka saling paham kekurangan dan kelebihan masing-masing, paham bahwa hari depan harus dijelang.

Dan di Teater Salihara, Minggu, 21 April 2015, saya menonton Prodi Teater IKJ memainkan naskah tersebut. Tiap menonton pertunjukan ini saya selalu menunggu tokoh Ma’e  yang saya anggap sebagai pusaran mega-mega dalam lakon ini mengucapkan kalimat pamungkasnya: “Kita tidak pernah mendapatkan, tapi selalu merasa kehilangan”… (bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s