PUISI DAN BANALITAS RUANG

Tulisan ini diterbitkan di halaman budaya Padang Ekspres, Minggu, 10 Mei 2015.

Lukisan Muhammad Taufiq (Emte) untuk puisi Menjadi Kemacetan di buku puisi Melihat Api Bekerja

Melihat Api Bekerja, merupakan buku puisi sekaligus buku rupa. Secara konsep buku tersebut merupakan paduan dari himpunan puisi M. Aan Mansyur sekaligus buku rupa (semacam menghadirkan pameran langsung ke hadapan penikmat seni ripa) Muhammad Taufiq (Emte). Meski puisi serta rupa dalam buku tersebut saling berkaitan, secara ide, karena dikonsep berbarengan, penyair dan perupa saling berinteraksi menghadirkan teks tertulis dan teks visual. Namun puisi dan rupa di dalamnya secara tidak langsung turut berdiri-sendiriir dengan kemadiriannya. Masing-masing hadir sebagai kekuatan masing-masing. Ulasan berikut barulah menyentuh bagian kecil dari buku tersebut, sebuah ruang dalam puisi M. Aan Mansyur namun belum menyentuh bagian dari lukisan Emte.

Ketika M. Aan Masyur merilis Melihat Api Bekerja sebagai bakal judul buku puisi terbarunya, saya langsung terbayang satu adegan dalam novel Norwegian Wood, karya Haruki Murakami. Adegan ketika tokoh Watanabe berkunjung ke rumah Midori di distrik Toshima. Saat itu terjadi kebakaran dekat rumah Midori. Mereka berdua naik ke lantai tiga rumah, tempat penjemuran, dan dari ketinggian itu mereka memandang daerah sekeliling. Mereka menonton kebakaran terjadi.

Melihat Api Bekerja telah mengantarkan pikiran saya ke bagian adegan yang saya anggap banal itu. Meskipun Aan tidak melakukan reproduksi teks terhadap adegan novel Murakami, tetapi teks puisi-puisi Aan sejauh pembacaan saya terhadap beberapa puisinya yang dimuat di halaman sastra media massa dan buku puisi sebelumnya, cenderung menegasikan banalitas ruang.

Aku-puisi Aan kerap lahir dari ruang dengan kepungan sistem yang kian lama kian memabukkan, menjenuhkan, mengikat erat tubuh dan pikiran. Sehingga aku-puisi dan tokoh lain dalam puisinya menciptakan realitas sendiri dalam kebanalan ruang itu. Aku-puisi terkadang berupaya mengasingkan tubuh dan pikiran dari keruwetan ruang. Aku-puisi sesekali berupaya menciptakan keberbahagiaan di luar keberbahagiaan yang dirasakan orang kebanyakan (mainstream). Sebaliknya, begitu juga ketika menciptakan kesedihan.

Dalam adegan Norwegian Wood dinarasikan suasana ketika Watanebe dan Midori santai minum kopi di lantai tiga rumah sambil melihat asap membumbung tinggi. Api melahap rumah tetangga. Mereka melihat api tersebut bekerja. Sirine mobil pemadam kebakaran meraung-raung. Orang-orang di sekitar kebakaran turut menonton api bekerja. Watanabe dan Midori masih sempat berciuman dalam situasi begitu.

Melihat Api Bekerja

Lukisan Muhammad Taufiq (Emte) untuk puisi Surat buat Ibu di Kampung di buku puisi Melihat Api Bekerja

Ketika saya mendapati buku puisi Melihat Api Bekerja (Gramedia Pustaka Utama, 2015), kecurigaan saya terhadap citraan lirikal puisi Aan menemukan sebuah hulu: citraan banalitas ruang. Aan memiuh lirikal puisi secara timpa-menimpa, meski kerap muncul aku-kamu-puisi yang apabila dibaca sepintas akan terkesan menyempit pemaknaannya, hanya hubungan kausalitas aku-kamu-puisi. Namun, ketika puisi Aan terus dimasuki, aku-puisi secara terang menjadi representasi dari peristiwa yang mewakili realitas ruang bersama.

Lihat bagaimana bait pertama puisi Melihat Api Bekerja (hal. 129) yang dijadikan judul pengait untuk keseluruhan buku: Di kota ini ruang bermain/ adalah sesuatu yang hilang/ dan tak seorang pun berharap/ menemukannya. Anak-anak tidak/ butuh permainan. Mereka akan/ memilih kegemaran masing-masing/ setelah dewasa. Menjadi dewasa/ bukan menunggu negara bangun./ menjadi dewasa adalah menu/ favorit restoran cepat saji.

 

Dalam bait tersebut “kota” telah menjadi ruang banal dan menciptakan manusia dengan ketidakberperasaan (senselessness)—meminjam istilah Yasraf Amir Piliang dalam Hantu-Hantu Politik dan Matinya Sosial (2003)—manusia yang tidak mampu lagi merasakan dan lahirlah “anak-anak” yang tidak lagi membutuhkan ruang “permainan”, yang membiarkan “ruang bermain” hilang dan tidak berharap lagi menemukan ruang kegembiraan tersebut. Manusia dengan cara berpikir yang dipengaruhi hasrat praktis seperti “restoran cepat saji” di mana mereka tidak lagi memerlukan permenungan, refleksi, dan sublimasi dalam menelaah eksistensi manusia dan kemanusiaan.

Pada bait kedua, puisi Melihat Api Bekerja seakan kian mempertegas sosok manusia yang hadir dalam ruang banal. Dibenturkannya kebutuhan dan mengenai hasrat besar manusia akan “pagar” (rumah) ketimbang “pendidikan”. “Sekolah” seakan hanya jadi ruang beristirah dari kesuntukan perkelahian di “rumah”: Para tetangga lebih butuh pagar/ tinggi daripada pendidikan. Sekolah/ adalah cara terbaik untuk/ istirahat berkelahi di rumah. Anak-/ anak membeli banyak penghapus/ dan sedikit buku. Terlalu banyak hal/ yang mereka katakan dan gampang/ jatuh cinta. Mereka menganggap/ jatuh cinta sebagai kata kerja dan/ ingin mengucapkannya sesering/ mungkin. Mereka tidak tahu jatuh/ cinta dan mencintai adalah dua/ penderitaan yang berbeda.

Saya teringat sebuah esai Avianti Armand dalam buku Arsitektur yang Lain (2011) ketika simbolisasi “pagar” sebagai bagian dari ruang banal dihadirkan Aan dalam puisi. “Mungkin memang ada fungsi simbolis selain fungsi praktis yang dihadirkan oleh pagar. Menegaskan hierarki, misalnya…” tulis Avianti tentang pagar rumah masyarakat di sebuah kota. Ia memaknai kebutuhan manusia akan pagar tinggi adalah fenomena masyarakat yang paranoid. Fenomena tersebut dianggap sebagai cerminan keadaan sosial yang lebih luas: disparitas dalam masyarakat, ketimpangan kaya-miskin, dan tak adanya penegakan hukum yang baik. Masyarakat terpaksa mengambil tindakan sendiri untuk menjaga hak miliknya dan melindungi dirinya dari bahaya. Kota telah berkembang menjadi ancaman. Dan pagar sekedar bentuk tangible dari rasa ketidakamanan dan ketidak percayaan yang akut.

Simbolisasi “pagar” tinggi yang dimaksud Avianti baik mengenai masyarakat paranoid, ketimpangan sosial, dan tak adanya penegakan hukum yang baik barangkali hampir sama dengan “hidup dalam kehilangan”, “harapan”, dan “hidup tanpa curiga” yang dianggap sebagai “hidup yang terkutuk” dalam bait puisi Melihat Api Bekerja selanjutnya: “…Jalan-jalan dan rumah kian lebar./ Semakin banyak orang hidup/ dalam kehilangan. Harapan adalah/ kalimat larangan, sesuatu yang/ dihapus para polisi setiap mereka/ temukan di pintu-pintu toko./ Hidup tanpa curiga adalah hidup/ yang terkutuk. Kawan adalah lawan/ yang tersenyum kepadamu…”

Tiga bait puisi Melihat Api Bekerja di atas seakan memperlihatkan dan bahkan mempertegas bagaimana cara Aan terus menghadirkan bagian dari banalitas ruang (kota) melalui tafsir puisi. Aan seakan merancang arsitektur untuk ruang privat dan kolektif yang banal. Membenturkan realitas kehidupan di dalamnya lantas menciptakan sebuah realitas lain yang sebenarnya semu. Dalam kondisi tersebut, pada bait puisi selanjutnya, aku-puisi muncul di tengah kondisi ruang banal dengan citraan ketakberperasaan masyarakatnya. Aku-puisi dihadirkan  di tengah masyarakat yang dalam istilah Yasraf telah menjadi mesin-mesin paranoia global. Masyarakat yang membentangkan semacam diseminasi global semiotik (global semiotic dissimination) dengan menyebarkan citra kekerasan, ketakutan, kecurigaan, kebencian dan kutukan, dalam skala besar dengan segala manipulasi dan simulasinya.

Lihat bagaimana aku-puisi muncul di bait keempat puisi Melihat Api Bekerja: “…Selebihnya tanpa mereka tahu,/ sepasang kekasih diam-diam/ ingin mengubah kota ini jadi/ abu. Aku mencintaimu dan kau/ mencintaiku—meskipun tidak/ setiap waktu. Kita menghabiskan/ tabungan pernikahan untuk beli/ bensin./ /Kita akan berciuman sambil/ melihat api bekerja.

Aku-puisi dan seseorang lain dengan sebutan kekasih hadir sebegai sepasang manusia sadar akan ruang. Sepasang kekasih dengan cara diam-diam berkeinginan mengubah kota menjadi abu. Sepasang kekasih yang berencana menghabiskan tabungan pernikahannya untuk membeli bensin dan mereka akan melakukan adegan seperti Watanabe dan Midori dalam novel Norwegian Wood, Haruki Murakami. Jika “api bekerja” dalam novel Murakami adalah semacam kebetulan belaka, maka “api bekerja” dalam puisi Aan adalah niat dan keinginan aku-puisi dan kekasih. Sebuah upaya penghancuran realitas  semu  oleh aku-puisi bersama kekasihnya.

Beberapa Puisi Lain

Lukisan Muhammad Taufiq (Emte) untuk puisi Menikmati AKhir Pekan di buku puisi Melihat Api Bekerja

Beberapa puisi lain dalam buku puisi Melihat Api Bekerja melihatkan kecenderungan serupa. Hampir sebagian besar dari 54 puisi dalam buku puisi tersebut Aan seakan terus-menerus menghadapkan pembaca ke realitas ruang bersama. Perihal tersebut terbaca dari puisi Menonton Film (hal. 30), Melihat Peta (hal. 37), Menunggu Perayaan (hal. 40-41), Menenangkan Rindu (hal. 47), Sejam Sebelum Matahari Tidak Jadi Tenggelam (hal. 49-51), Catatan Seorang Pedagang di Pasar Terong Makassar (hal. 52), Pameran Foto Keluarga Paling Bahagia (hal. 63), Jendela Perpustakaan (hal. 64), Mengunjungi Ambon (hal. 71-73), Langit dan Laut di Timur (hal. 74),  Meyaksikan Pagi di Beranda (hal. 90), Menjadi Kemacetan (hal. 93), dll.

Melihat Api Bekerja telah menjadi keterwakilan dari sebagian besar puisi Aan. Semesta banalitas ruang dihadirkan lengkap dengan penghuninya. Dan agaknya saya tidak setuju ketika Sapardi Djoko Damono, dalam penghantar buku, melalui puisi berjudul Menyeberangi Jembatan mengatakan bahwa Aan seakan berdongeng dan “menyampaikan dengan seenaknya apa yang terlintas begitu saja dalam pikirannya”, atau “ia ‘ngomong’ saja”.

Puisi Aan dianalogikan seperti dongeng yang disampaikan secara lisan. Kalimat-kalimat Aan dianggap  sebagai episode-episode  yang bermunculan ‘begitu saja’ seperti kita dengar dari  penyampaian lisan. Pandangan Sapardi seakan tidak berupaya menyentuh capaian lain dalam puisi Aan.

Versi PDF:

Aan Mansyur, Melihat Api Bekerja, PUISI DAN BANALITAS RUANG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s