2012

Di penghujung tahun 2011 saya dan keluarga besar Kandangpadati mengundang beberapa orang perwakilan komunitas untuk mendiskusikan rencana untuk membuat sebuah festival kesusastraan di Kota Padang. Di tahun-tahun itu orang-orang gemar bicara soal industri kreatif, tapi rencana ini tidak menuju ke arah itu, hanya soal apresiasi bagi rekan-rekan sastrawan muda Sumatera Barat.

Saya lupa tanggal dan harinya, yang pasti penghujung 2011, dan belasan orang hadir di kamar kontrakan saya. Dan kami menemukan sebuah nama pada malam itu, Padang Literary Biennale, meski dalam persoalan nama nantinya ini juga dikritik ketika dilempar ke media sosial untuk didiskusikan. Itu tak jadi soal bagi kami. Di Padang, Sumatera Barat, memang selalu begitu. Malam itu kami juga sepakat bahwa Padang Literary Biennale adalah agenda swadaya. Tak perlu menunggu kucuran dana pemerintah untuk membuat sebuah festival bermatabat bagi kota. Didukung atau tidak oleh pemerintahan kota, festival musti tetap ada, harus digagas dan dijalankan dengan segala resikonya.

Di Padang, pada tahun sama dan waktu berdekatan, pemerintah turut menurunkan dana untuk sebuah kegiatan kesusastraan dengan skala (dikatakan panitia) internasional. Dengan mengundang sastrawan-sastrawan negara tetangga. Saya urung dan menolak hadir di agenda tersebut tapi saya mengetahui beberapa pesoalan besar terjadi dalam kepanitiaan. Saya turut mengantar beberapa sastrawan muda undangan acara tersebut untuk mencari tempat penginapan karena mereka terlantar pada hari terakhir agenda. Dengan beberapa motor kami mengantar mereka ke kos-kosan rekan yang kami kenal, termasuk satu penulis perempuan saya ungsikan ke rumah istri saya.

Ini menjadi pelajaran bagi kami, panitia Padang Literary Biennale 2012, bahwa dana bukanlah segalanya. Tidak menjamin sebuah festival akan terselenggara dengan baik meski pendanaannya besar. Ratusan juta dikucurkan pemerintah pada panitia agenda tersebut dikanrenakan kedekatan panitia dengan pemerintah hanya untuk agenda tidak jelas, membawa nama nusantara, termasuk memberi tema ke-Melayu-an yang juga tidak jelas. Toh, pada akhirnya tetap kekecewaan didapat. Dan kami menggaris bawahi itu, pada tahun 2012, penghargaan untuk tamu undangan adalah segalanya meski dengan kesederhanaan dan apa adanya kita.

Kami percaya setiap agenda yang diadakan kritik akan selalu ada. Sebaik apapun agenda tersebut digagas dan digarap. Juga pada Padang Literary Biennale 2012. Duapuluh sastawan muda baca sajak (termasuk saya dan beberapa penyair dari kandangpadati), beberapa kelompok teater ikut serta, masyarakatpun turut memberi bantuan, dan kritik tetap merundung. Bahwasanya masyarakat tidak dilibatkan dalam acara hanya sekedar penonton. Tapi kritikan tersebut harus dijadikan lecutan diri sekaligus obat lelah. Hanya mereka yang terlibat tahu betul bagaimana kondisi Padang Literary Biennale 2012. Mulai dari teror preman yang mengira cara tersebut seperti acara organ tunggal, dukun yang menyuruh agenda tersebut berhenti dikarena ketika orang bermain teater dikira menghimbau setan, dan perihal lain yang orang tidak mengerti adalah: Kandangpadati itu dusun, meski di kota Padang, keramaian akan dikira oleh para pemuda setempat menghamburkan uang. Soal-soal itu yang mesti diselesaikan tiap sebentar. Saya harus menghadapi pemuda setempat seminggu sebelum acara dimulai dan bertahun sesudahnya. Gesekan terjadi anatara kami dan pemuda setempat, yang pada awalnya meminta pungutan, tapi pemilik rumah kontrakan kami melarang pungutan itu.

Acara berlangsung, dengan sumbangan dana dari beberapa sastrawan, bantuan kue dari sahabat kami, malam itu sekira 400-an orang datang ke dusun dimana kami berproses kreatif itu. Apa yang kami harap dari sebuah festival? Menghargai tamu undangan kami, memartabatkan kesusastraan (meski ini utopis), dan memberi tahu pada masyarakat bahawasanya ada orang-orang menulis karya sastra dan karya mereka harus dibaca. Satu hal lain, kota kami musti ada festival bermartabat, kami kuratornya, kami mengonsep agendanya. Saya ingat betul, seusai agenda Padang Literary Biennale, seorang perempuan berusia kira-kira 40 tahun, mengaku dukun dan sudah kami kenal beberapa waktu sebelumnya mengtakan bahwa dia sudah mengirim kuntilanak ke pemuda berambut gimbal yang merupakan salah satu aktor kelompok teater yang bermain malam itu. Kami tertawa geli dan itu jadi obat bagi kami. Dan saya diberi jam tangan oleh istri saya (waktu itu masih pacar) karena lewat pukul 12 saya berulang tahun ke 27.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s