DI SEBERANG METROPOLE

Kau lihat, anakku, ke arah tiang tinggi Metropole itu

hari depan dihampang dengan selembar karcis tontonan.

Dan dalam ruangan ini aku  mainkan lagu tentang pelayaran

agar kau tahu, kita musti terus berjalan, menghadang angin

buruk demi angin buruk, menerabas pintu batu demi pintu batu.

Di balik gorden itu, gorden yang kelak musti kau sibak

seperti kau sibak pelan kelambu tidur yang membatasi

pandanganmu pada langit-langit kamar bergambar

bintang-bintang bertabrakan, bulan seukuran limau manis

dan seekor kuda bersayap meniupkan debu cahaya. Kelak

musti kau sibak.

Kau lihat, anakku, kereta terus melintas menghantarkan

orang-orang pada nasib yang telah diasam-digarami hari buruk.

Dari sini kita akan melihat jam melepaskan jarum, dari sini kita

akan melihat palang-palang dibuka, dari sini udara akan

menebarkan harum getah damar dan kembang pagi, dan dari

sini pula akan kugadaikan isi dadaku agar kau tahu bahwa

ada hari dimana pelayaran itu harus disudahkan.

Jakarta, 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s