TERSESAT DI PARUNG BINGUNG

—dan sebuah lukisan Hanafi

Ke lembah, aku menurun ke lembah

ke arah rumah dimana aku tidak perlu menatap lereng atap

dan ia tidak berharap pula ditatap. Rumah dimana sebongkah

batu terus tumbuh seperti perut biniku setahun lalu. Terus

tumbuh, membesar, merobohkan rumpun betung dari pangkalnya.

Ke lembah, aku menurun ke lembah

ke arah rumah dimana aku tidak perlu membuka palang pintu

dan ia terus membuka dengan sendirinya. Rumah dengan tiang

gadang yang akan dibongkar dan dibenamkan pada hulu sungai.

“Kaldera, aku ingin kaldera, ledakan ribuan tahun lalu

dan kini hanya tersisa pasir serta kerikil basah…”

Di rumah ini aku tersesat, kubaca sebaris sajak tentang rantau

tentang kapal diamuk angin buruk diremuk gelombang gadang

kudengungkan kitab tentang baju basah kering di badan

dan kuremas geronggong tembusuku. Aku tetap tersesat

rumah tak menatap, palang terbuka sendiri.

“Kaldera, aku ingin kaldera, lubang terdalam dari ledakan

sajak hari lalu dan kini hanya tersisa liang hitam pada mataku.”

Jakarta, 2015

Dipublikasikan di Koran Tempo, Minggu, 9 Agustus 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s