PUISI DAN PERPINDAHAN GEOGRAFIS

Puisi dan Perpindahan GeografisKami memasuki stasiun kereta Pasar Minggu Baru, saya dan seorang teman penyair dari Padang, hendak menaiki commuter line menuju arah berlawanan. Saya akan menuju arah Bogor sementara ia akan menuju Kota. Sebuah percakapan tentang puisi terjadi, ia pertanyakan soal perpindahan citraan geografis dalam puisi, proses semotika, pertarungan mempertahankan estetika dalam puisi, dan ia membenarkan soal timbang-menimbang bangunan puisi sebagaimana siasat transasksional puitik seperti pernah saya tulis tentang buku puisinya suatu ketika.

Tidak semua pertanyaan bisa dijawab langsung. Dengan laku serta kebiasan tubuh dalam melakukan adaptasi dengan ruang-ruang publik baru coba saya jawab beberapa pertanyaan itu. Saya meminta teman penyair sebaya itu memesan Tiket Harian Berjaminan (THB) pada petugas dengan membayar sekitar Rp, 12.000. Saya jelaskan bagaimana menggunakan tiket tersebut, bagaimana tiket elektronik harus ia tapping pada alat pemindai di pintu masuk dan pintu keluar resmi. Lantas saya sarankan ia menukarkan tiket elektronik tersebut untuk kemudian medapatkan refund sebesar Rp, 10.000, karena ongkos perjalannya hanya Rp, 2.000.

“Menurut saya ini salah satu proses memasuki citraan geografis dalam puisi, citraan baru, proses semiotika, dan pertahanan estika menurut saya akan berlangsung sejalan dengan mamahami wilayah geografis,” kata saya sambil mengeluarkan sebuah tiket dari saku celana. “Uang elektronik serba bisa, menaiki commuter line, busway, biaya melintasi jalan toll, membeli tusuk gigi di beberapa ritel mini market, dan lain-lain,” terang saya dan kami tertawa karena segala kekonyolan.

Peristiwa ini mengingatkan saya pada cerita perjalanan Afrizal Malna beberapa waktu lalu ke beberapa kota di Jerman dalam sebuah residensi. Ia tidak bisa berbahasa Inggris, apalagi Jerman, meraba-raba setiap citraan puitik dan tatanan semiotik di wilayah georafis jauh dari Negeri di Bawah Angin. Ibu dari bahasanya adalah Indonesia, dan perihal tersebut, menurutnya, membebaskan dirinya dari segala muatan sosial-politik bahasa ibu yang terkandung dalam kamus. Yang setiap hari disumpalkan makna baru oleh koran dan berita televisi yang penuh dengan gosip dan perdebatan mubazir.

Dalam sebuah puisi berjudul “di bawah jurang bahasa” Afrizal menulis bagaimana keterpisahan dirinya dari bahasa Indonesia dan memasuki ketidak mengertiannya pada bahasa Jerman, ketidakmengertian yang tidak memunculkan jurang dalam bahasa, ketidak mengertian yang mempersilahkan seseorang untuk masuk dan memaknai citraan tanpa muatan pengertian yang ditumpangi oleh bahasa ibu.

“di sini, jauh dari di sana, sebuah distrik bekas buangan para anarkis. taman-taman kota dan pabrik-pabrik tua. bahasa indonesia seperti baru dilepaskan dari kapal barang. mengangkut pasir. pulau-pulau tenggelam. Setiap kata mendapatkan suaranya berjalan dengan bau mulut yang lain… bahasa yang sedang berlibur dari kekumuhan. Sebuah jurang menggelupasnya setiap lapisan aku dari tebing-tebingnya. Apa artinya kata adalah jurang untuk apa artinya aku. Siapa yang terjun ke dalamnya? Sayup-sayup bahasa jerman mulai aku genggam dalam volumenya. Keheningan masih berpidato: tentang bahaya bahasa tanpa kenangan. Bahasa yang harus sikat gigi sebelum tidur… di luar apartemen, puisi-puisi barbara kohler dan herta muller—cinema kata dan ayah yang sedang menelfon lalat – membelah bahasa dari budaya media cetak… (berlin proposal, hal. 20).

Adabenarnya ketika perpindahan wilayah geografis dialami seorang penyair, proses semiotika dari wilayah lama ke wilayah baru, turut dibawa. Penyair sebagai orang pertama yang berupaya untuk melakukan tafsir terhadap citraan dalam puisi turut mengangkut pengertian dan pemaknaan terhadap bahasa. Proses ini oleh A. Teew dalam Tergantung Pada Kata (hlm. 11) disebut sebagai aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya, proses yang juga merupakan pelaksaaan pola harapan pada pembaca yang ditimbulkan dan ditentukan oleh sistem kode dan konvensi.

Terlebih, perpindahan wilayah geografis tersebut terjadi antara dusun dan kota, atau dari sebuah wilayah kota dengan primodialisme komunitas-komunitas tradisional ke wilayah kota yang sosial-masyarakatnya sudah membebaskan diri dari ikatan tersebut. Perpindahan yang bisa jadi membuat rancangan-bangun kekaryaan lebih diperkokoh dengan memaknai keasingan-keasingan baru atau malah bisa jadi sebaliknya.

Guncangan perpindahan wilayah geografis pernah dialami Ajip Rosidi pada tahun 1951, penyair dari Jatiwangi Jawa Barat, ketika ia pindah ke Jakarta. Penyair sekaligus pemerhati sastra ini tidak beberapa lama di Jakarta karenakan ia tidak menemukan apa yang ia cari. Seperti yang ditulisnya dalam Cari Muatan Empat Kumpulan Sajak (1975), kehendak untuk menggali khazanah kebudayaan daerah membuatnya ingin kembali ke dusun. Kota atau wilayah geografis baru yang ia datangi dianggap berisikan seniman yang terlalu gemar mengambil khazanah kebudayaan dunia. Namun ketika ia pulang ke dusun, ia turut gagal, dikarenakan selama di kota ia telah memasuki sebuah gerbang kehidupan lain yang sama sekali sudah berbeda dengan kehidupan dusunnya.

Perpindahan wilayah geografis, menjadi fenomena dalam perkembangan kesusastraan Indonesia, baik itu bagi penyair dan puisinya. Perpindahan geografis seperti kehendak untuk melepaskan sebuah negeri “tapi tak kunjung hilang,” tulis Goenawan Mohamad. Seperti upaya untuk mengungkapkan takjub pada sebuah kesuraman:

“di bawah langit yang tanpa fokus selalu berulang bayangan tentang sebuah kota tua dan hujan yang putus-putus, di sebuah negeri yang lain, di mana gang menemukan ruang ketika lampu terbit, dan cahaya jadi kuning, dan menara pun berhenti dan jam berdentang berkali-kali, dan orang-orang pun berkata, lihat apa artinya: ingatan adalah jalan rumit yang kita bangun ketika hari tak punya ujung” (Seperti Sebuah Negeri, Goenawan Mohamad Selected Poems, 20014, hlm.180).

Pada perpindahan pula sebuah proses transaksional puitik terjadi. Sebab proses kebahasaan terjadi di sana, proses yang oleh Saussure disebut sebagai pertautan antara langue dan parole hingga langage. Di mana langue ketika dibawa berpindah dari sebuah wilayah ke wilayah lain, tidak akan berubah, sebab ia merupakan konvensi dan telah menjadi milik masyarakat setempat. Tapi parole sebagai milik individu, dengan segala kekhasan dalam ucapan dan pilihan struktur yang digunakan, selalu dapat menyesuaikan diri dengan langue dan selalu terjadi penyesuaian di antaranya. Sebab parole selalu mengunakan khazanah langue sebagai sumber berujar. Jika dilihat dari gejala kebahasaan, pada tahapan ini siasat transaksional puitik dan proses berpuisi terjadi pertarungan.

Pengalaman Ajip Rosidi, barangkali teratasi dengan pola tersebut. Seperti Hanya dalam Puisi ia menulis bahwa “….telah menjadi takdir para penyair/ Mengetuk pintu demi pintu? Dan tak juga ditemuinya: Ragu hati/ Yang tak mau/ Menyerah pada situasi?”. Aku-lirik dalam puisi pun mengatasi ketegangan, antara gambaran modernitas dari sebuah kereta yang melaju diasosiasikan dengan hampara pemandangan dusun permai:

“Dalam Keretaapi

Kubaca puisi: Willy dan Mayakovsky

Namun kata-katamu kudengar

Mengatasi derak-derik deresi.

Kulempar pandang ke luar: Sawah-sawah dan gunung-gunung

Lalu saja-ksajk tumbuh

Dari setiap bulir peluh

Para petani yang terbungkuk sejak pagi

Melalui harihari keras dan sunyi…

Pola itu pula, barangkali, membawa puisi-puisi Sitor Situmorang, nun jauh di negeri orang sana dengan anasir-nasir simbol terus menukik pada Tanah Air. Bahkan dalam bentuk, meski simbolisme Prancis (seperti diakui Sitor) berpengaruh besar pada puisi-puisinya, tapi pola pantun (atau refrain saja) dalam sebagian puisinya tetap bertahan. Ia bersajak tentang tanah asal, ibu, Toba, dan kehendak untuk pulang atau hilang. Subagio Sastrowardoyo dalam Sosok Pribadi dalam Sajak (1997) meminjam C. Hooykass, Over Malaise Literatuur, menggambarkan bagaimana lingkungan budaya Indonesia yang membesarkan Sitor telah menyapkan tanah yang subur untuk menumbuhkan simbolisme di dalam puisi-puisinya.

Sebagaimana Afrizal mengganggap ketika di Jerman ia berbahasa dengan ‘bersih’ dari muatan sosial-politis bahasa ibu, Sitor yang lahir di sebuah dusun di Tapanuli Utara lantas berproses dan menghabiskan usia berpindah-pindah dari sebuah negeri ke negeri lain dan meninggal di Apeldoorn, Belanda, telah memberi makna bagi sebuah perpindahan geografis. Ajip Rosidi dengan kendak untuk kembali pada dusun, menemukan kebuntuan, tapi menemukan jalan lain untuk mencapai keintiman dengan tradisi kedaerahan dalam puisi. Perpindahan geografis dalam proses perpuisian mungkin adalah soal memahami kebiasaan, timbang-menimbang atau transasksional puitik yang saya istilahkan, juga penerimaan.

Maka saya dan seorang teman penyair sebaya dari Padang berpisah di Stasiun Pasar Minggu Baru, ia menaiki kereta menuju Stasiun Kota, saya menaiki kereta menuju Bogor. Saat kami bertemu kembali pada hari sama, saya ingatkan padanya, tiket elektronik bisa di-refund atau dibawa pulang, tentu dengan syarat ia harus kehilangan uang sebesar Rp.10.000. Ia ternyata lebih memilih kehilangan uang ferund dan menyimpan tiket elektronik tersebut dalam dompet sebagai kenang-kenangan.***

Dimuat di halaman sastra dan budaya, Cagak, Padang Ekspres, Minggu, 15 November 2015.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s