SEPERTI KANCING KEMEJA PUTUS

Seperti kancing kemeja putus
di Ciumbuleuit
angin dari gunung menembus pusarku
semalaman bersembunyi
dalam lambungku.

Pagar batu tinggi berjaga
kerakap menjalar
kerakap berjuntai
rumah-rumah kosong menghadap lembah
kesepian itu memang tipis dan dingin
sedingin ingatanmu akan lompatan pada trampolin
pada mainan kayu, kaleng roti dipukul batu, buku
gambar yang terus kau sobek sebelum dicoret.

Seperti kancing kemeja putus
di Ciumbuleuit
jarum jam berputar serasa memukul-mukul kepala
lantas kukatakan padamu:
“Pandanglah lampu merendah itu, anakku
dalam kabut. Jangkaulah
seperti kau jangkau puting susu bundamu
ketika kantuk berat melanda”

Kota ini seperti gadis usia belasan
tidur mendengkur
esok akan terbangun dengan muka sirah
lalu merasa ada sepi merundung tiada tara.
Begitulah, berulang setiap hari
kota ini akan tidur mendengkur
dan bangun dalam suasana sama.

Kau terjaga, aku menjaga
terus kita pandangi lampu merendah
kabut serta udara tipis
seperti selimut malam terjuntai dari tempat tidur.

Dan angin dari gunung
terus menembus pusarku
dan masa lalu akan terus dikunyah pangkal gerahamku.

Jakarta, 2015

 

Dimuat di koran Riau Pos, Minggu, 22 November 2015.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s