SURAT UNTUK RUSLI

Telah aku tabur garam ke dalam telaga itu, Rusli
sebab dengan itu aku tahu laut tidak akan menjadi
angin membikin riak bukanlah gelombang susut
kesia-siaan tidak akan menjadi pintu bagi maut.

Maka pada rumah-rumah dengan tiang tembaga
aku sangkutkan potret tentang ngarai dan lembah
kutulis sajak tentang dusun jauh dari kata curiga
aku baca terus sebelum tidur buat pengusir tulah.

Aku cintai gerak ombak itu
suara parkit pada pagi
gemerincing genta kuda adalah sihir penahan pergi.

Di udara laut itu pula dulu aku pernah merasa hilang
dalam lagu-lagu haru dan dalam sajak tiada terbilang
pada peningkahan lagu rantau akhirnya aku berpaling
kubiarkan kota seasam limau ini bikin tubuhku asing.

Tapi tidak dengan sajakku tidak dengan isi dadaku
tidak kuserah pada jalan nasib serupa benang kusut
bahasa yang sekian lama tumbuh dari peluh kudukku
telah kuhisap dan terperam dalam di pangkal perut.

Aku cintai gerak ombak itu
suara parkit pada pagi
gemerincing genta kuda adalah sihir penahan pergi.

Jakarta, 2015

 

Dimuat di koran Riau Pos, Minggu, 22 November 2015.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s