TERATAK

–untuk Riki Dhamparan Putra
Teratak lapang itu terus membentang
dalam tidur
dalam jagaku
dan aku akan pulang ke hadapan ibu
bersangai dekat tungku kayu
membakar jerami terungguk
dengan kaleng susu isi kerikil mengusir burung-burung
menapak humus dari jatuhan daun kopi
dan menghirup sejadi-jadinya bau tanah ladang.

Aku akan pulang,
sebab pulang adalah ujung jalan para tualang.

Tapi mereka bilang, aku orang usiran
dengan rabu dipenuhi lubang jarum dari angin laut
murtad pada teratak
mencari pandir dalam sebaris sajak
ke pulau-pulau jauh, ke pulau-pulau tidak tersentuh.

Daratan telah melepas
pesisir telah membuang
pada apa lagi musti berpegang?

Teratak lapang itu terus membentang
dalam tidur
dalam jagaku
dan aku akan pulang seperti para tualang pulang
ke hadapan ibu berdada lapang
di mana dendang haru-biru sendiri ia pendam
sendiri ia redam, ia beri garam, ia beri asam.

Meski dengan sajak sebaris
akan kutunggangi gerak gelombang
menghadapi selat menghadapi teluk
menghadapi muara menghadapi samudera
menghadapi segala makhluk tidak berbentuk.

Jakarta, 2015

Dimuar di koran Riau Pos, Minggu, 22 November 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s