DI KEDAI BARANG ANTIK SETIABUDI

Ia kaitkan pandangan pada sebuah jam dinding tua
kotak pos kayu lapis seng karatan
baskom dan ember tembaga sisa perang dunia kedua
dan lampu hias, dan papan-papan iklan bir serta soda
dengan warna cat buram mengelupas.

Lalu ia tutup mata
di kedai barang antik itu.
Ia seakan ingin mengulang sebuah peristiwa
menghirup sejadi-jadinya debu bertebaran
serasa menghirup tebaran Chanel No. 19
seperti pernah ia lihat dan bayangkan dulu
dalam sebuah iklan televisi hitam-putih
seorang perempuan dengan bandana menebar harum.

Di kedai barang antik itu ia kaitkan pandangan
pada apa yang pernah terkait dalam kenangan
sebuah pemutar piringan hitam rusak dalam kotak kaca
kertas-kertas dengan sajak tidak selesai, entah ditulis siapa
tertempel pada dinding bata dipupur hitam
dan ia merasa hidup tidak pernah sia-sia
seperti hujan yang curah di luar
deretan angsana tua tepi trotoar yang basah hingga pangkal
seakan hendak tumbuh kekal.

Ia merasa usia bertambah adalah jalan
seperti dilihatnya kendaraan tiap sebentar lewat
di luar, terkadang jalur berhimpitan, terkadang langgeng
dan kedai itu ia nikmati seluruhnya
hangat pada tungku perapian
almari baju dari pertengahan abad 20
kartu pos dan surat cinta motif bunga dalam laci.
Seperti pernah ia tulis sebuah sajak terus-menerus
pada setumpuk kertas
ia dikirim ke negeri-negeri jauh.

Jakarta, 2015

Dimuat di halaman HariPuisi koran Indopos, Sabtu, 5 Desember 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s