PIRINGAN HITAM & MODERNISASI MUSIK MINANG

Tulisan ini berterima kasih pada iramanusantara.org

Musik Minang

Gambar: dari halaman budaya Cagak (hal.13), Padang Ekspres, 6 Desember 2015.

Tjap Angsa, label rekaman musik berbasis di Medan tercatat merilis salah satu rekaman dendang saluang klasik Minangkabau dalam sebuah piringan hitam (PH) pada Mei 1939. Etnomusikolog Philip Yampolsky mengungkapkan, bahwa Tjap Angsa merupakan label rekaman yang telah merilis sekian ratus cakram PH sejak berdiri tahun 1938 hingga akhir 1940, dan mempunyai cabang di Bukittingi. Di lempengan PH 78 rpm (rotation per minute) keluaran Tjap Angsa, bernomor seri terbitan AM 28 dan bernomer acuan A 6808, tertera judul “Tandjoeng Sani”, tercatat pula keterangan nama seorang penyanyi yang barangkali hari ini tidak kita kenal: “Dinjanjikan oleh Rapioen/ Poepoet. Saloeng & Rabab/ (djirek)/ Boekit Tinggi”.

“Tandjoeng Sani” yang didendangkan Rapioen salah satu bukti upaya memodernisasi penyajian musik tradisional Minangkabau agar dapat didengar khalayak ramai. Sayangnya tidak ada data lengkap dan runut yang menjelaskan sejak kapan modernisasi tersebut dilakukan, siapa saja pelakunya (label rekaman, musisi, penyanyi), dan sudah berapa rekaman PH dikeluarkan (?). “Tandjoeng Sani,” merupakan satu-satunya rekaman musik tradisional Minang dalam PH 78 rpm, yang direkam di Sumatera pada pra-kemerdekaan Indonesia, yang pernah saya dengar digitalisasinya—tidak tercatat apakah PH yang hanya dapat menampung rekaman selama tiga menit tersebut berbahan shellac (kapas untuk membuat kertas manila) atau vinyl (sejenis plastik polymer).

Pada perkembangan selanjutnya, pasca-kemerdekaan Indonesia, kita mengenal kelompok-kelompok musik (orkes), musisi, penyanyi, penggubah dan pencipta lagu, yang memodernisasi musik Minangkabau secara konten dan ikut menggairahkan perkembangan dunia Musik di Indonesia—direkam dalam bentuk PH, mereka menjadi tokoh dan panutan genre musik di Indonesia, menjadi bintang di Radio Republik Indonesia (RRI) yang pada waktu itu adalah corong penyebaran musik yang susah diraih, musik-musik mereka direkam di Lokananta sebagai perusahaan lembaga resmi milik pemerintahan hingga perusaahan rekaman swasta kenamaan di Ibukota Jakarta, seperti: Irama Record, Jasmine Record, Bali Record, Mutiara Record, Rindu Record, dst.

‘Lahir’ dari Piringan Hitam
Salah satu grup musik periode awal yang berhasil memodernisasi Minang dan memperkenalkannya pada khalayak luas Indonesia adalah Orkes Gumarang. Grup musik ini dikenal tidak gagap, dan yakin, lagu-lagu mereka akan dekat dengan pendegar Indonesia meski lagu-lagu yang mereka bawakan berbahasa Minang.

Wartawan dan pemerhati musik, Theodore KS, mencatat bahwa Orkes Gumarang didirikan oleh sekelompok anak-anak muda Minang yang menguasai alat musik dan vokal di Jakarta, jelang akhir tahun 1953 dan awal 1954. Mereka di antaranya: Alidir, Anwar Anif, Dhira Suhud, Joeswar Khairudin, Taufik, Sjaiful Nawas, dan Awaludin yang kemudian hari menjadi Kapolri (periode 1978-1982)—Jose Choa Linge, kolektor musik mencatat beberapa nama lain di antaranya Hasmanan (Reno), Sumwa, Azwar, Joesfar Yusuf (Malano), Khairudin. Mereka berkumpul di rumah Yus Bahri di Jalan Jambu, Menteng, Jakarta Pusat.
Pertemuan anak-anak muda tersebut, dalam catatan Jose Choa Linge berjudul Gumarang: Musik Indonesia dari Daerah Minangkabau, dianggap pertemuan tidak terduga. Keinginan cemerlang dari anak-anak muda asal Minang dan menghindari mitos dan tudingan bahwa mereka hanyalah sekelompok pemuda kampung tanpa bakat dan hanya menjadi pedagang kelontong di sekitar Pasar Senen (kaki lima), bahkan ada yang menjadi supir oplet di waktu itu.

Pendirian orkes tersebut merupakan cita-cita besar dari sekelompok anak muda untuk meneruskan impian mereka membawa lagu-lagu Minang modern dengan iringan musik yang bukan tradisional. Keinginan untuk memajukan unsur musik Indonesia dari daerah Minangkabau yang sebelumnya sudah ada di zaman penjajahan Hindia Belanda—Voor de Oorlog. Mereka ingin mengikuti perjalanan orkes Penghibur Hati yang dipimpin oleh Sutan Perang Bustami yang sebelumnya sudah mengukir sejarah musik mulai dari lagu “Kaparinyo” sampai “Dayuang Palinggam”.

Dalam tulisan bertajuk “Gemilang Orkes Gumarang”, pemerhati musik Denny Sakrie menguraikan bahwa demam Latin pada saat itu melanda dunia, dimana Xavier Cugat menjadi titik perhatian. Demam Latin ini menjalar ke Indonesia bahkan hingga 1950 hingga 1960-an dan dirasakan Orkes Gumarang—beberapa lagu ditenggarai oleh pengamat dan pendokumentasi musik Remi Silado terpengaruh Trio Los Panchos yang di Indonesia dikenal dengan lagu Besame Mucho, Quizaz, Quizaz, Quizaz, dan Solamante Una Vez.

Dalam sebuah wawancara dengan koran Kompas, tahun 1973 yang dikutip lagi dalam tulisan “Mendengar Rasa Indonesia di Lokananta” (Kompas, Minggu, 26 Agustus 2012), Asbon Madjid mengatakan bahwa pilihan Latin oleh Orkes Gumarang karena pada waktu itu memang musik Latin disukai masyarakat Indonesia. “Sebenarnya Cuma sekadar aransir dan tempo saja supaya bisa diterima masyarakat bukan Minang,” kata Asbon. Pada tahun 1955 Orkes Gumarang lulus tes untuk tampil di RRI, dimana pada saat itu tidak mudah untuk tampil di sana. Setelah itu turut mendapat kepercayaan secara tetap mengisi acara live Panggung Gembira di Studio V (lima) RRI dan pada tahun sama dapat merekam lagu di Lokananta.

Orkes kenamaan ini juga mengalami pasangsurut, berganti nahkoda, berganti penyanyi dan pemusik, dan akhirnya tidak mampu bertahan dalam perkembangan musik populer di Indonesia. Namun beberapa lagunya sangat fenomenal bagi penikmat musik di Indonesia, tidak hanya bagi ‘Urang Awak’, lagu itu terus dikenang hingga ini. Beberapa album Orkes Gumarang dalam bentuk PH adalah Lagu Gumarang Jang Terkenal (Mesra Record, tahun?, vinyl, 33 1/3 rpm), Kampuang Nan Djauh di Mata (Irama Record, tahun?, vinyl, 33 1/3 rpm), Bapisah Bukannjo Batjarai (Rindu Record, 1971, vinyl, 33 1/3 rpm), Nan Bagala (Rindu Record, 1971, vinyl, 33 1/3 rpm). Lagu Ayam Den Lapeh merupakah salah satu lagu paling hits dan kemudian diangkat menjadil film pada tahun 1960 oleh sutradara Gatot Iskandar.

Kumbang Tjari pimpinan Nuskan Sjarif juga merupakan salah satu kelompok musik mencolok dengan lagu-lagu Minang pada awal 1960-an. Pada mulanya grup ini bermana “Ganto Sori” dan “Ganto Rio”. Karena hit lagu Kumbang Tjari ciptaan Nuskan, maka grup tersebut diberi nama sama. Pada awal perantauannya Nuskan sangat terkesima dengan Orkes Gumarang dan ingin bergabung dengan grup tersebut. Namun didorong oleh beberapa orang dalam Orkes Gumarang untuk membuat grup sendiri mengingat kepiawaian Nuskan dalam bermain gitar—dan ini merupakan yang menonjol dari Kumbang Tjari.

CH Hasmanan dalam sampul album Kumbang Tjari (Irama Record, tahun?, Vinyl, 33 1/3) mencatat bahwa sebagai pendatang belakangan dalam mempolulerkan lagu-lagu Minang seharusnya “Kumbang Tjari” mendapat gerak yang sempit di Ibukota karena grup-grup pendahulunya. Tapi sebaliknya, malah mendapat tempat yang utama pada masa itu. “Kumbang Tjari lahir, tampil selaku ahli waris dan penjambung keturunan jang sjah, adik bungsu jang direstui oleh saudara-saudara tuanja dan segenap penggemar mereka,” tulisnya.

‘Saudara tua’ yang dimaksud CH Hasmanan adalah Orkes Gumarang yang pada saat itu dipimpin Asbon Madjid, Orkes Teruna Ria dengan pentolan Oslan Husein, Orkes Kinantan dipimpin Jus Kinantan (kemudian grup ini berganti nama menjadi Orkes Etika Rama). Orkes Kumbang Tjari yang kemudian melambungkan nama penyanyi Elly Kasim dan Lily Sjarif—kemudian dikenal sebagai istri mantan Gubernur Jambi, Abdurrahman Sayoeti (1989-1999).

Periode PH memang adalah masa keemasan perkembangan musik modern Minang periode awal. Para anak-anak muda Minang, yang berbakat dalam musik, mengadu untung di Ibukota Jakarta melalui musik dan menjadi tokoh dalam perkembangan musik Indonesia modern. Orkes Gumarang, Orkes Teruna Ria, Orkes Kinantan, Orkes Etika Rama, Orkes Kumbang Tjari, adalah beberapa grup yang bisa disebutkan. Beberapa musisi (penggubah lagu, pemusik, penyanyi, penulis lirik) seperti Zaenal Combo, Sjaiful Nawas, Dhira Sohoed Oslan Husein, Nurseha, Masrul Mamudja, Sjarul Tarun Jusuf, Elly Kasim, Jan Bastian, Tiar Ramon, Adjis Sutan Sati, Zulkarnain, dan sederet nama lain adalah yang hadir pada masa emas ini. Musisi dan grup terkenal seperti Bing Slamet, Ernie Djohan, Orkes Pamor, Orkes Kerontjong Tetap Segar, dst. merupakan bagian yang turut serta memainkan musik dan lagu Minang.

Ungkapan Drs. H. Rainal Rais Dt. Rajo Sati nan Mulie dalam hantaran buku Kumpulan Lagu Minang Modern, Orkes Gumarang (1997), barangkali patut kita renungkan. Untuk mengingat bahwa para musisi Minang, khususnya pada era PH, adalah mereka yang membuat pertalian antara ‘yang jauh’ dan ‘yang dekat’, antara ‘kampung’ dan ‘rantau’, mendekatkan pendengar musik di Indonesia dengan Minang. “…zaman boleh berubah, tetapi sesuatu yang klasik tidak akan berkarat dimakan waktu,” tulisnya.***

 

Tulisan ini dimuat di halaman budaya Cagak, Padang Ekspres, 6 Desember 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s