DI SEHELAI KAIN TENUN

untuk Romo Amanche Franck

Di sehelai kain tenun ia bersua kembali ombak pagi bertaut
sajak seperti maut bermain dalam kabut
seorang penyair berjalan dengan tungkai kaki patah
membaca tentang revolusi dalam kitab tua di tangan
mengingat tembikar-tembikar dibuang
dari jendela lantai lima
kaca-kaca toko dihumban batu
kusen serta lagit-langit rumah dibakar.
 
Ia patut-patut sebuah kata, “Hebron”
meski dalam kitab itu diberi arti diberi makna
tapi di tiap berita pagi hanya ditemukannya perseteruan
berabad-abad, tidak berujung tidak berpangkal.
 
Di sehelai kain tenun
ia bersua kembali ombak pagi bertaut
dibayangkannya sajak adalah lidah paderi
atau mualim penunggang unta
yang menghantarkan pelancong dari timur jauh
ke pandam-pekuburan para rasul.
Mualim dengan lingkar mata hitam
dan saku dipenuhi butir pasir dan sisa ketam.
 
Ia baca kembali tentang revolusi
berkali-kali, berulang-ulang
dan dibayangkannya sajak seperti sehelai kain
ditenun lamban dengan tangan santun.  
 
Dibayangkannya sajak seperti kaki tanpa terompah
berlari kecang merasakan hentakan batu pecah
merasakan tusukan tunggul kayu tersumbul.

Jakarta, 2015 
   
Dimuat di Koran Kompas, Minggu, 20 Desember 2015.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s