MUSEUM DALAM KEPALA

untuk Luh Gde Saraswati

Tapi pagi itu ia tidak lagi memandang ke luar jendela
tidak ada harum rumpun pandan basah
perahu-perahu dari patahan kasturi
atau jatuhan daun kamboja
dilajukan pada ganih aliran air bandar
 
tidak ada
dan pagi itu ia tidak lagi memandang ke luar jendela.
 
Ia picingkan mata
menghimpun derai terakota
pecahan pualam pada tiang gedung
retakan dinding rumah dan relief bertanggalan
ia membayangkan beton-beton terus ditanam
jauh ke kedalaman tanah
tangga-tangga terus dipasak
melingkar dan meninggi, melingkar dan terus meninggi.
 
“Kota adalah sajak yang belum selesai,” sebaris kalimat
pernah ia ukir dengan paku pada tubir dipan.
 
Tapi bisa jadi kota adalah sajak yang tidak pernah selesai
tidak akan pernah tunai.
 
Dan pagi itu ia tidak lagi memandang ke luar jendela
sebab di luar barangkali perahu-perahu dari patahan kesturi
atau jatuhan kamboja tua
telah terbenam dalam selokan berair hitam.
 
Terus ia picingkan mata
seakan sebuah museum sedang dirancang dalam kepala
museum yang menghimpun doa pengharapan
pada air, pohon, dan bunga-bunga:
 
pattram puspam phalam puspam phalam toyam
yome bhaktya prayaccati
tad aham bhaktyu pakrtam
asnami prayatat asnama….*
 
Jakarta, 2015

*) Bhagawadgita, Sloka 26, Bab. IX, tentang persembahan berupa bunga, daun, buah-buahan dan air.
Dimuat di Koran Kompas, Minggu, 20 Desember 2015.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s