DI BALKON

Sebab bulan akan busut juga
sepanjang malam
aku duduk
kubaca kitab tentang kenapa sajak musti ditulis
kenapa kota ini terus tiris
dan kenapa pada setiap hari bertukar
akan terus ada sesal. Sekaligus kesal.
 
Sebab bulan akan busut juga
maka sepanjang malam
di balkon, dengan tirai rotan koyak menjuntai
—dan tikar pandan dari pedalaman Sumatera
aku pandang-pandang pendar lampu bertebaran
merapal lagu lama, meski tak ingat betul
tapi terus kurapal sebisaku.
 
Jika benar kota ini adalah puisi
yang belum selesai
yang tak akan pernah selesai
maka saat bulan busut
saat rasi bintang paling terang mulai hilang
tidak lagi bisa dipandang
akan aku rebut kota ini
dengan caraku sendiri.
 
Dan kau dimana,
sementara aku terus duduk
membaca kitab “kenapa” di atas tikar pandan
membiarkan begitu saja angin buruk
menyelinap lewat tirai pandan koyak
dirundung dingin teramat badan ini, dirundung
sampai hingga pangkal tembusu.
Dan kau dimana,
sementara aku terus duduk
di sudut balkon, menunggu bulan busut
 
menyelesaikan kota ini
dengan puisi.  
 
Jakarta, 2015
Dimuat di Koran Tempo (akhir pekan), 2-3 Januari 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s