TENGAH MALAM

Tengah malam, jika ia berigau tentang aku
maka putarkanlah lagu itu. Dan telah aku tinggalkan bengkalai
kain agar bisa ia hirup bau tubuhku, agar bisa ia reka semaunya
berapa jengkal panjang lenganku. Aku sisipkan pula di balik
gorden kelabu itu—pandang ke luar kaca jendela—dongeng
tentang rantau, tentang penyeberangan, juga tentang pulang.
Agar kelak ketika hari buruk datang, ia tahu
sebelum kata berangkat diputuskan, telah aku kurung lebih dahulu
segala hantu segala mambang dalam perutku.

Di sini, dari satu kedai ke kedai lain aku tempuh
dalam menggumamkan lagu itu. Badanku di sini, cintaku, tapi tidak
dengan tubuhku. Tubuhku tetap adalah riak-riak danau di kaki Marapi itu
adalah pendakian tinggi dan tebing curam di Sitinjau, adalah bau tanah
lembah. Tubuhku tidak akan bisa dipisah dari dingin sungai
dimana pantun demi pantun
terus dialiri jauh.

Tengah malam, jika ia terus berigau tentang aku
dan lagu itu,
dan bengkalai kain itu,
atau dongeng di balik gorden kelabu itu
tidak bisa lagi membuat ia mereka-reka
seberapa jengkal panjang lenganku.

Maka hari baik akan datang.

Jakarta, 2015  Dimuat di Koran Tempo (akhir pekan), 2-3 Januari 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s