CIKINI, SEBUAH PAGI

Stasiun ini seakan sebuah katup
membuka pada pagi
aku ngungun berdiri
kereta bersisihan silih berganti.

Tahun ini mungkin musim buruk
seorang anak bermuka kusut
kulihat melintas mengenakan kostum badut
seekor burung gereja terantuk kaca
tiang dengan jam terus dibiarkan tergantung mati
perempuan dengan gincu tebal dan tubuh mengendapkan
bau peluh semalam mengutuk-ngutuk seseorang lewat ponsel

dan kereta terus lewat,
terus datang dan terus pergi,
silih berganti.

Stasiun ini hanya sebagian tingkah kota
dimana orang-orang terus bertarung
dengan diri sendiri
untuk apa yang mereka sebut sebagai hari depan.
Orang-orang menjual bagian tubuhnya
untuk kemudian membeli sesuatu yang tidak ada.

Dan kereta berhenti lagi
suara rem berdecit panjang
tiang mengeluarkan bunyi sengatan listrik
sementara aku masih ngungun berdiri.

Aku jadi ingat tahun-tahun lalu tak seburuk ini
masih kudengar blues mengalun dari pelantam toko kaset
harum santan hangus dari dapur kedai nasi
dan terus kuingat seorang muda
dengan logat selatan bertanya,
“kereta ini akan menghantarkan kita kemana?”

Jakarta, 2015

Dimuat di halaman Hari Puisi, Padang Ekspres, 10 Januari 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s