DI KASABLANKA ANGIN MENURUN

Di Kasablanka angin menurun
dalam musim begini aku bayangkan hujan akan menjadi
pucuk ampalam depan rumah akan merendah, akan memberat
akan diendapkannya dingin ke genteng, ke langit-langit
memadatkan tiang, dan tak akan ada lagi derik kasau
setengah patah itu.

Aku takut kering dada ini bertambah
akan serupa gambut memendam nyala api, menebar mala
dari kedalaman. Menyebar kemana saja. Maka terus
aku bayangkan hujan akan menjadi, meski belum juga menjadi.

Tapi angin di Kasablanka akan terus menurun.

Aku takut rengkah pada punggung akan terbelah
akan serupa tahun-tahun buruk
dimana pernah aku sampaikan padamu
yang kulihat sepanjang hari: getar paruh unggas di pangkal
muara, perempuan pesisir menelan jala lantas menikamkan
tulang pari pada perutnya, dari pucuk bukit di arah teluk itu
cahaya suar mengirim debar berkepanjangan, dan jarum jam
di dalam kamar mengirim getar sembarangan.

Sebab aku takut tukak pada lambungku akan terus begitu, terus
menyembilu. Maka tidak kulepas bayangan hujan akan menjadi
meski tak akan pernah menjadi, dan angin di Kasablanka
yang terus menurun akan kuhirup sejadi-jadinya.

Jakarta, 2015

Dimuat di halaman Hari Puisi, Padang Ekspres, 10 Januari 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s