PERSETERUAN ORANG-ORANG DATANG

Telah aku angkut segala yang patut diangkut
kutinggalkan kota dengan mata dingin dan perut masuk angin
kupatut jalan bergelombang, plaza tinggi mengangkang
mall berdiri di atas tanah kuburan, kondominium dengan relief
kapal kayu abad pertengahan. Kuhisap tembakan laser ke arah
langit malam dengan urat mata kian menegang. Kupukulkan
sebungkus roti hambar ke pangkal perut sambil menggerutu
pada tubuhku: “Ke arah lengang, aku ingin kembali, kota adalah
perseteruan tak tuntas dari ribuan ketukan jam.”

Telah aku pagut segala yang patut dipagut
sebelum kulepas kota dengan segala bentuk kegilaannya.
Kubiarkan tubuhku menunggangi bayangan patung kuda putih
di Buncit Raya, kereta listrik dari Stasiun Kota, peti-peti baja
berisi gulungan kain menuju Tanah Abang. Akan kutunggangi
segala yang patut kutunggangi sebelum pangkal selangkangan
ini melupakan benar cara menunggangi ketenangan.

Dan telah aku kenang segala yang patut dikenang
bau plastik hangus, bau tempurung lutut kuda dibakar
harum daun pandan diperas dalam gelas, terus aku kenang
selagi kapal-kapal gadang itu masih menghantar
berkarung-karung beras dari pedalaman Sumatera.
Aku kenang segala yang patut kukenang selagi tempurung
kepalaku masih ingat persis deru panjang ombak pesisiran.
Selagi tiupan talang seruas itu masih membuat kudukku dingin
dan dendang penghabisan perempuan dusun itu masih membikin
isi dadaku serasa ditikam pecahan beling, ditusuk patahan ranting.

Jakarta, 2015

Dimuat di halaman Hari Puisi, Padang Ekspres, 10 Januari 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s