DITUBA LAGI KABUT ASAP

Jerebu sampai ke pintu,
jerebu masuk rahangku.

Kita dituba lagi kabut asap, Uda.
anak belum seberapa besar ini menanggungkan terus dari musim ke musim
angin berkisar ke arah sini bikin radang pada rahangnya
apa tidak sekalian saja itu bara gambut itu disorongkan ke lambungnya?

Orang Riau berkata ini musim jerebu
musim dimana hantu-hantu api menebar mala dari bandar hingga muara
dari pangkal dapur hingga tubir kasur. Di Jambi serombongan pemuda
menggerutu tak menentu: “Pukimak, pukimak asap kiriman!”
Aku membaca teks bergerak dari sebuah berita sore di tevisi
serombongan serdadu pemanggul bedil air tengah dikirim dari daratan Cina
mereka tidak cuma akan memanggul bergalon-galon air ke arah hutan
tapi akan turut sembahyang minta hujan dengan cara mereka.

Jerebu sampai ke pintu,
jerebu masuk rahangku

Kita dituba lagi kabut asap, Uda.
anak belum seberapa besar ini disuruh menutup hidung dan muncungnya
dengan celana dalam basah. Kian-kemari ia berjalan, kian-kemari ia berlari
cuma asap menimpali.

Daging anak sudah bau asap, Uda.
tulangnya bara gambut terbakar.

Jakarta, 2015

Dimuat di halaman Jendela Sastra, Koran Suara NTB, Sabtu, 16 Januari 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s