KOPLO KOTA TUA

Aku turut berjoget di jalanan kota tua, istriku
turut larut dalam sihir angklung tegalan bersama rombongan
muda-mudi bahagia. Barangkali mereka dari Bojong, Sawangan
atau mungkin pelancong Sumatera tersesat kehabisan sewa losmen.

Aku turut berjoget bersama mereka. Karena dalam joget aku lihat
bagian sebenarnya dari kota ini. Kota dimana patung-patung dipahat
dari gamping gunung lalu dibenamkan dalam akuarium. Kota dimana
mataku ditundukkan tembakan laser dan jantungku dibuat remuk
udara menggila. Kota dengan orang-orang memasang lentera
pada pantat mereka, melipat nasib dalam ponsel, berdoa sekaligus
mengumpat sebisanya agar jalur-jalur trem dibangun dengan segera.

Kupasang baju hangat, kusalempangkan sarung, dan aku turut
berjoget di jalanan kota tua itu. Aku jadi paham, bahwa revolusi
turut dikumandangkan dalam dangdut koplo. Aku terus berjoget
sebab mereka juga terus berjoget. Bagian lain dari kota ini telah
menemukan juru selamat mereka: tukang gendang berkaki pincang
pemain angklung bermuka murung, serta biduanita dengan dada
tersumbul semenjana.

Dalam joget aku ingat kota kita. Serasa dihembus
angin pedalaman itu pada punggungku, serasa sampai
debur ombak yang tertahan itu ke pangkal telingaku
dan serasa dipiuh-dipilin tali jantungku pada retakan
tungku batu. Dalam joget aku terus terbayang jauh
ke seberang sana, ke kota kita. Di sana, sebuah puisi
akan terus tumbuh, akan terus bergerak bergemuruh.

Jakarta, 2015

Dimuat di halaman Jendela Sastra, Koran Suara NTB, Sabtu, 16 Januari 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s