TENTANG KAWANKU HAMZAH

Kawanku Hamzah bertanya,
apa yang aku bawa dari pedalaman Sumatera
selain kenangan tentang padi gagal tumbuh, cabai-cabai jatuh putik
berkarung tomat dibuang ke jurang, atau ingatan tentang tahun ketumbar
dimana anak tambang menggerapai dari dalam lubang galian.

Aku katakan padanya, tak ada lagu lebih haru dibanding itu
sebab tidak pernah tercatat dalam diktat kuliah.

Kawanku Hamzah bertanya,
kenapa aku terus menulis sajak tentang kota ini
sebab tidak akan pernah sekalipun bahasa dalam sajak itu
memberi nasib baik pada ingatanku.

“Kami tumbuh dari pahit empedu tanah
tumbuh dari daratan dimana emas dan suasa
menyumbul dari pangkal tempat tidur.

Kami tumbuh, tumbuh lantas dipangkas
berbad-abad silam telah dirajahkan pada tulang punggung kami
bahwa keberangkatan adalah siasat lain menuju pulang.”

Di Depok, aku dan kawanku Hamzah
lantas bertengkar tentang sebatang pohon besar dari rimba Afrika
yang tumbang tiada angin tiada hujan.

Depok, 2015

Dimuat di halaman Jendela Sastra, Koran Suara NTB, Sabtu, 16 Januari 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s