PAREWA, SEJAK DALAM PIKIRAN!

–80 tahun Rusli Marzuki Saria

 

Tidak ada definisi dan pemaknaan khusus memang untuk kata parewa di Minangkabau. Ia lebih merujuk sebagai ganti sikap personal. Untuk menampakkan ideologi golongan. Ia bentuk proses pencarian jati diri orang muda dalam adab bergaul di dalam atau antar nagari. Parewa dalam penceritaan lisan selalu digambarkan dengan orang muda dengan pakaian hitam dan destar dikebatkan ke kepala, hobi ke gelanggang judi, penggila sabung ayam, minum tuak dan gemar berkelahi. Segala kebebasan dan pemberontakan terhadap nilai-nilai disematkan pada parewa.

 

Tapi pada beberapa sajak Rusli Marzuki Saria, tidak ada nada minor dalam pemaknaan tentang parewa. Di balik kelakuan tidak bertuan parewa, beberapa teks puisi Rusli menunjukkan sikap kebanggaan dan rasa keberpihakan, terhadap personal, atau rumpun sosial ini. Dan memang, bagi sebagin besar orang Minang, di luar teks penceritaan lisan, mengidentikan parewa dengan sikap menjaga kehormatan diri dan kerabat. Parewa punya loyalitas tinggi terhadap kampung dan nagari. Berbekal kemampuan silat yang dimiliki, parewa seakan menjadi pagar, untuk amuk dalam nagari. Tidak salah orang-orang muda (atau mereka dengan pikiran muda) Minangkabau hingga hari ini gemar memberi label parewa untuk segala macam laku mereka. Parewa seakan membentuk identitas dan memberikan keterwakilan untuk kebebasan. Meminjam pandangan Camus dalam tulisan bertajuk Bread and Freedom, bahwa kebebasan adalah masalah orang yang tertindas, dan pelindung selalu datang dari golongan tertindas pula[1]. Itulah parewa yang barangkali dicoba pemaknaan Rusli.

Parewa dalam Lirisme

1965, Rusli menulis sebuah sajak berjudul “Mereka Bawa Getah Nangka dan Senjata”[2]. Jika melihat rentang waktu sajak ini dibuat tentu nganga luka masih tersibak dan perasaan “kalah dan terhina”[3] dalam istilah Audrey Kahin masih berdenyut kuat di jantung-hati puak Minangkabau. Dari pemilihan dan penggunaan diksi puisi tersebut terasa kental suasana kesejarahan menjadi latar kehadirannya[4]. Nyatanya tahun-tahun ini sebuah peristiwa sejarah memang hadir yang menimbulkan eksodus besar-besar masyarakat Minangkabau menuju rantau, pasca kegagalan revolusi, kehancuran sebuah cita-cita besar memperjuangkan kesamaan hak antara pusat dan daerah. Sejak Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) didekalarasikan pada 15 Febuari 1958, hingga pergolakan padam pada 1961, dan cap “pemberontakan” sudah kadung lekat.

 

Kahin menuliskan, bahwa banyak orang yang mengikuti pemberontakan meninggalkan daerah, di mana mereka mendapatkan tempat berteduh seringkali merasa malu bahkan untuk mengakui identitas Minang mereka. Harun Zain, mantan gubernur Sumatera Barat, sewaktu datang pertama kali ke daerah tersebut pada tahun 1961 untuk menjadi “dosen terbang” melihat kesedihan yang teramat pada mata mahasiswanya. Ia melihat kekalahan, kehinaan, dan kehancuran mental di antara orang-orang Minang. “Pada tahun 1961 wajah-wajah itu bengong seperti mereka tidak punya masa depan,” kata Harun Zain[5].

 

Tapi Rusli menulis tentang parewa di tahun-tahun itu dengan arsiran “getah nangka” dan “senjata”. Kita tidak tahu apakah kata tunjuk “mereka” yang mendahului dua arsiran tersebut ditujukan bagi kaum revolusioner yang memegang senjata bergerak dari rimba ke rimba, atau para tentara utusan pusat yang juga memegang senjata. Dan “getah nangka”, tentunya pengungkapan ini diambil dari pepatah lama, bahwa satu orang yang memakan, tapi banyak orang yang kena getahnya. Pergolakan, terlebih bagi orang Minangkabau, berdampak sangat luar biasa bagi kehidupan mereka. Terlepas, meminjam pandangan Wisran Hadi[6], apakah kita setuju atau tidak dengan peristiwa demikian, terlepas pula dari siapa yang salah dan siapa yang harus disalahkan, terlepas pula dari keinginan untuk ikut menyelidiki rentetan peristiwa tersebut untuk kepentingan penulis sejarah. Tapi Rusli menulisnya, di tahun-tahun sesudah peristiwa itu masih serupa gigitan peria mentah baru sampai di kerongkongan.

 

Dalam sajak “Mereka Bawa Getah Nangka dan Senjata” dapat ditemukan bagaimana Rusli berupaya memaknai kata parewa secara lirikal dengan melankolik. Parewa dalam sajak ini juga seakan dihadirkan sebagai suksesi, ditokohkan kembali, diberi kekuatan dalam masa-masa keterpurukan puak Minangkabau. Sebelum nantinya, baik dalam sajak Rusli lain, atau dalam pemaknaan teks lain terhadap kosakata itu berubah atau kian meluas. Berikut sajak tersebut:

 

hunjamkan ke hulu hati parewa lembing tajam

ketika kemarau meretak ekor kerbau, cabutlah!

di pintu rumah gedang bunda silangkan

kapur sirih tigakali

 

air mata duka tetes satu-satu

bunda kenangkan kepergian anak laki-laki buah rimbang

tengadah ke langit dan gerutu:

“mereka bawa getah nangka dan senjata.”

 

Sajak ini menghadapkan kembali kehidupan “parewa” pada sosok “bunda”. Golongan yang konon tidak mau mengganggu dan menjadi gangguan dalam kehidupan keluarga pada suatu ketika tetap akan berterima di tubuh rahim yang melahirkan. Sajak ini pada bait pertama turut memberikan gambaran penerimaan seorang ibu akan sebuah peristiwa pahit, terhadap parewa, orang muda. Gema kepergian, yang tidak akan kembali, atau barangkali kerelaan seorang parewa yang sudah pergi secara filosofi tidak akan pernah kembali dihadirkan melalui gambaran seorang ibu yang yang memberi tanda silang dengan “kapur sirih” di “pintu rumah gedang” sebanyak “tigakali”.

 

Setelah tanda silang itu hanya ada “air mata duka tetes satu-satu” dan seorang ibu yang “kenangakan kepergian anak laki-laki buah rimbang”. Personifikasi “buah rimbang” pun dimunculkan Rusli untuk parewa, untuk anak laki-laki, sebagai gambaran bahwa anak laki-laki tersebut adalah pengobat mata; penjernih penglihatan; bagi seorang ibu. Begitu melankoliknya gambaran parewa di mata seorang ibu dalam sajak Rusli ini. Tapi tetap saja, dalam haru-biru sajak ini hadir gerutu, mungkin kemarahan muncul melalui arsiran kalimat pengakhiran yang juga digunakan untuk judul sajak: “mereka bawa getah nangka dan senjata.” Kita tetap tidak tahu, “mereka” ini, tapi parewa adalah bagian atau salah seorang yang terkena “getah nangka”.

 

 

Parewa, Mitos, Kebebasan Berkata

Sebuah sajak lain ditulis Rusli tentang parewa ditulis tahun 1972 berjudul “Sajak-sajak Parewa”[7] secara kompleks memperlihatkan bagaimana parewa berbahasa, berpikir, mengambil sikap, serta memberikan pandangan tentang latar kebudayaannya. Dama berbahasa, parewa menjadi wujud dalam keunikan ragam bahasa Minangkabau. Bahasa parewa dikategorikan sebagai salah satu dari empat ragam bahasa selain ragam bahasa adat, bahasa surau, dan bahasa biasa. Ragam bahasa parewa cenderung digunakan oleh orang muda dalam berkomunikasi karena cenderung sedikit ‘kotor’ atau kasar (sarkas) dan seringkali muncul sindiran[8]. Tidak terbayangkan seorang tokoh Minangkabau, semisal Syekh Muhamad Djamil Djambek, pembaharu Islam dari Sumatera Barat awal tersebut menghabiskan masa muda dalam kehidupan parewa, sebelum menemukan jalan lain dan menjadi ahli ilmu falak terkemuka.

 

Rusli dalam “Sajak-sajak Parewa” memulai sajaknya dengan narator yang mengambarkan bagaimana penerimaan seorang dengan ayam aduannya di medan laga (gelanggang permainan): “jangan bersedih parewa/ bila ayammu tewas di medan laga/ simpanlah taji/ bawa pulang kembali emas di pura…” Ada semacam filosofi bagaimana keharusan seorang parewa menerima kekalahan di gelanggang. Atau barangkali bagaimana seorang parewa harus mundur sebelum ‘bertarung’, melihat situasi, memetakan gelanggang, jika ternyata kekuatan lawan lebih besar.

 

Tapi narasi selanjutnya dalam sajak ini Rusli menghadirkan juga anasir-anasir romantisme dalam sajak ini. Parewa dengan anasir perempuan dengan perumpamaan-perumpamaan eksotik. Hasrat parewa akan perempuan, gelora percintaan, suasa aduhai!

 

“tidak, tidak! aku tidak bersedih

karena laut gemuruh

gunung-gunung menanti aku

gadis dengan mata taji ayam

perawan dengan perawas ranum

menanti aku!”

 

(di kendi-kendi tuak tua

di perian air jernih gunung

di sana dahaga kulepaskan

di balik purnama)

 

Personifikasi “gadis” dengan mata menyerupai “taji ayam” menggambarkan hasrat yang tajam. Juga “perawan” yang menanti dengan “perawas ranum” seakan mengingatkan kembali pada kita bagaimana parewa itu berbahasa, kias, sindiran, personifikasi arkhaik. Hasrat itu digambarkan dengan dahaga yang akan dilepaskan “di kendi-kendi tuak tua”, “di perian air jernih gunung”, “di balik purnama”. Aku-lirik dalam sajak ini seakan benar-benar membetuk watak seorang parewa yang bebas berbahasa, mengungkapkan hasrat, dan membebaskan pikirannya. Lihat bagaimana dalam sajak ini, gambaran parewa tentang keberanian, tiada-takut, turut dibentuk dari hasrat dan pengharapan akan percintaan:

 

“aku tidak takut hantu hutan

aku tidak takut jumlang lapar

nantikan aku di kelok-kelok jalan hutan

jangan sapa kudaku si hitam besi.”

 

(gadis-gadis menanti aku

dan kemarau datang di hatinya

perempuan-perempuan menantiku

gabak bertakhta di pelupuk mata….

 

Kompleksitas perwatakan parewa memang diperlihatkan dalam sajak ini. Bagaimana parewa berbahasa, berhasrat, berpikir dan bertindak, dan bebas menafsir tradisi dalam versi sendiri. Sajak ini seakan ingin memberi tafsir baru dari seorang parewa sebab ada masa lalu, barangkali kisah dan cerita, yang tidak dapat berterima oleh aku-lirik yang dinarasikan. Sebab masa lalu itu, kisah itu, yang datang dari “senandung masakanak” ternyata “tidak menidurkan tubuhku”. Sebab “senandung masakanak” ternyata hanya menghadirkan “lebatnya hutan” dengan “parewa yang angkuh”, parewa yang “membunuh bapaknya”, yang “membunuh ibunya”. Maka parewa ingin menafsir sendiri melalui pandangannya, dengan hasrat menyerap segalanya; dari tradisi hingga modernitas; dari mitos hingga sejarah; dari kebaikan hingga keburukan; ketakutan; kemolekan; parewa meminta segala hasrat untuk menafsir kembali masa lalu, maka ia meminta:

 

beri aku kuda si gumarang

beri aku ayam jantan si kinantan

beri aku kerbau jantan si binuang

beri aku petir dan guruh tengah hari

beri aku gabak hitam di hulu

beri aku cewang di langit!

 

beri aku darah yang jalang

beri aku anak si ngiang-ngiang rimba

beri aku sekeranjang kacang miang

beri aku hutan penuh penyamun

beri aku perompak lanun

beri aku gergasi dan garuda

beri aku si mambang dan peri

beri aku jin baik dan jin buruk

beri aku gagak-gagak

beri aku elang-elang

 

beri aku putri lindung bulan

beri aku putri gelang banyak

beri aku putri duyung

beri aku putri si bunian

beri aku

beri aku!

 

Tafsir terhadap mitos mengenai Malin Kundang sebagaimana tersebar ke telinga orang banyak turut dipertanyakan kembali dalam sajak ini. “Sajak-sajak Parewa” sekan menolak kutukan pada Malin Kundang dan meyakinkan bahwa /si malin kundang/ tidak jadi batu/ si malin kundang tidak durhaka kepada ibu/ Sajak ini memberikan tafsir bahwa /si malin/ tidak durhaka/ tidak jadi batu…/ dan barangkali /…kitalah si malin kundang itu/ engkaulah si malin kundang itu/ dialah si malin kundang itu/ akulah si malin kundang itu!

 

Tidak hanya mitos mengenai Malin Kundang, cerita tentang Kaba Siti Baheram turut dihadirkan dalam sajak ini. Melalui tokoh Si (Bujang) Juki, yang dalam kaba digambarkan sebagai seorang parewa, tukang judi, tukang ampok. Juki yang dimanja ibunya dan menjual segalanya demi menyenangkan anaknya. Juki yang merampok dan membunuh Siti Baheram. Sajak ini sekan turut menggambarkan, membangun, serta memberi ruang tafsir tentang keterpengaruhan fase-fase perkembangan kehidupan seksual (psichosexsual development) dalam pandangan Sigmund Freud mengenai Oedipus Complex—pada penutup sajak turut tertulis /…(tetapi lelaki berhutan lebat itu: Freud/ dalam mimpi/ kau bunuh bapakmu/ kau tiduri ibumu)—dan perihal tersebut didekatkan dengan Juki yang barangkali mengidap Oedipus Coplex (termasuk Bujang Selamat dalam Kaba Cindua Mato):

 

kau bunuh bapakmu

kau tiduri ibumu

puting susu

bunuh bapak

rasa bersaing

di balik topeng

angka lima Arab

….

si Juki yang kalah main

ampok, ampok, ampok itu judi

di sini juga ada si sangkuriang

yang tiduri ibunya

ketika badai

di bawah pusar

 

“Sajak-sajak Parewa” dan “Mereka Bawa Getah Nangka dan Senjata” boleh dikata merupakan dua sajak, dengan mengusung persepsi tentang parewa, dalam dua konteks berbeda. “Mereka Bawa Getah Nangka dan Senjata” lebih cenderung mengusik pembacaan kita terhadap peristiwa kesejarahan, sementara “Sajak-sajak Parewa” cenderung menghantarkan kita untuk mempertanyakan kembali mitos-mitos.

 

Rusli, melalui dua sajak tersebut seakan memberi bergagam sudut pandang bagi pembaca untuk melihat bagaimana seorang parewa. Satu sajak menghadapkan kita tentang parewa sebagai seorang anak yang ditunggu sekaligus direlakan oleh seorang ibu. Di sajak lain memperlihatkan bagaimana parewa kembali mempertanyakan tentang diri sendiri, tentang “apa itu parewa?”, tentang “bagaimana itu parewa?”, “apakah dia parewa?”, dst. Tapi dua sajak ini memperlihatkan bagaiaman seorang Rusli menjadi parewa proses bersajak. Tahun-tahun dimana luka sejarah masih terkuak lebar dan malu masih melekat di muka masyarakat Minangkabau, Rusli menghadirkan suasa itu dengan melankolik, melalui “Mereka Bawa Getah Nangka dan Senjata”. Dan melalui “Sajak-sajak Parewa”, Rusli dengan bebas menafsir kembali, memberi kemungkinan-kemungkinan untuk tradisi dan mitos yang diyakini selama ini. Parewa sejak dalam pikiran.

 

CATATAN AKHIR

[1] Albert Camus, Krisis Kebebasan (edisi terjemahan), Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, November 2013 (edisi kedua), hlm. 104.

 

[2] Rusli Marzuki Saria, Parewa (Sajak dalam Lima Kumpulan, 1960-1992), Jakarta: PT Grasindo, 1998.

[3] Lihat Audrey Kahin, Dari Pemberontakan ke Integrasi ( Sumatera Barat dan Politik Indonesia 1926-1998), Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, Februari 2005, hlm. 352.

[4] Rachmad Djoko Pradopo menyatakan bahwa puisi dapat dikaji dari sudut pandang kesejarahannya, mengingat bahwa sepanjang sejarahnya, dari waktu ke waktu puisi selalu ditulis dan selalu dibaca orang. Lihat Rachmad Djoko Pradopo, “Pengkajian Puisi”, Yogyakarta: Gajahmada University Press, 1987, hlm 3.

[5] Ibid. hlm 360.

[6] Lihat tulisan Wisran Hadi bertajuk “Trauma dari Sebuah pemberontakan”, dalam Anak Dipangku Kemenakan di BIM (Sagarobak Tulak Buah Tangan Wisran Hadi), Padang: Lembaga kebudayaan Ranah, 2013, hlm. 473-476.

[7] Rusli Marzuki Saria, Op.Cit.

[8] Lihat tulisan Yerri S. Putra berjudul “Didaktika Bahasa Minangkabau: Persoalan Ragam dan Konotasi Bahasa” di https://jumpayerri.wordpress.com/2008/02/08/.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s