DALAM LIPATAN KAIN, TUBUH MENJADI REPRESENTASI SIMBOLIK MANUSIA (TENTANG PUISI DALAM KEABADIAN ‘YANG RIIL’)

Oleh Zulfa Nasrulloh. Makalah ini dibacakan dalam diskusi Dalam Lipatan Kain merupakan acara kedua dalam rangkaian BOM (Books on March) yang digagas Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) UPI dan digelar 23-25 Maret 2015.

Komunikasi antara saya dan Esha Tegar Putra tentu melalui sajaknya. Apakah Esha sadar tentang sajaknya akan dibaca oleh orang semisal saya atau tidak? Saya menduga Esha menyadarinya, tapi bagaimana bentuk kesadaran itu? Saya orang Sunda dengan gramatika dan konstruk budaya yang berbeda dengan orang Minang. Perbedaan ini yang membuat sajak Esha (komunikasi bahasa Indonesia yang terbelah) menuntut saya menyisipi celah retak ke-universal-annya.

Saya katakan terbelah, sebab jika bahasa adalah representasi pikiran dari segala yang seseorang tangkap dari realitas, maka jelas sajak Esha adalah diri Esha yang simbolik. Saya mengutip Lacanian Zizek tentang bagaimana “aku” yang gramatikal adalah bentuk lain dari keberlangsungan “aku” yang riil. Aku dalam sebuah tulisan, bukan lagi aku identis, melainkan aku ideologis yang berusaha menyampaikan representasi idenya.

It seems universal that every creature which cannot contain itself or draw itself together in its own fullness, draws itself outside itself, whence, e.g. the elevated miracle of the information of the world in the mouth belongs, which is a true creation of the full inside when it can no longer remain in itself (Zizek, 1996: 43)

Zizek menjelaskan keterpecahan subyek ini melalui segitiga (triad) atau registrasi dalam Lacan, tentnag yang riil, yang simbolik, dan yang imajiner. Yang Simbolik adalah realitas yang telah terbahasakan. Ia merupakan kerangka impersonal (tidak pribadi) yang berlaku di masyarakat. Arena dimana setiap orang dapat mengambil tempat di dalamnya. Yang imajiner  adalah instansi yang mencoba mendomestifikasi keadaan melalui penataan fantasi, bertentangan itu ada yang riil adalah negasi dari yang simbolik dan yang imajiner. Dimana yang riil secara persis memainkan peran sebagai dimensi keabadian dari kekosongan dimana setiap konstruksi simbolik-imajiner hanya ada selaku jawaban historis tertentu saja terhadap kekosongan mendasar itu.

Esha yang simbolik adalah wadah eksternalisasi Esha yang mengambil tempat. Ia merupakan kata yang mendeklarasikan dirinya sebagai sesuatu yang membentuk predikat bagi dirinya. Kata sebagai predikatif Esha adalah sebuah kontraksi dalam tampilannya yang berlawanan. Dalam mengucapkan sebuah kata, subyek membelah dirinya. Ia mengentalkan inti dari kediriannya melalui sebuah tanda eksternal. Esha mendapatkan dirinya di luar dirinya. Esha menempatkan kesatuannya di luar dirinya, dalam sebuah penanda yang mewakili Esha.

Esha simbolik lahir dari pembacaan saya pada tanda eksternal di dalam kumpulan puisi Dalam Lipatan Kain (Motion: 2015) yang memuat 87 puisi, yang dibaginya dalam lima sub-tema: “Rumah di Atas Gelombang”, “Kota dalam Retakan Tempurung”, “Oslan & Lagu Palinggam”, “Tentang Anggun Nan Tongga”, dan “Dalam Lipatan Kain”. Lima sub-tema itu menghadirkan kehidupan Minang dalam tubuh Esha.

Seperti dalam pengantarnya, Esha sadar akan masyarakat disekitarnya yang terus menerus memproduksi metafora, menjadi leksikon bergerak, yang akhirnya perlu ia dekati hingga ia larut di dalamnya dan dapat menuliskannya. Esha mengatakan, “Ketersadaran atas ruang seperti itulah yang membantu saya untuk masuk ke ruang puisi. Dan buku puisi “Dalam Lipatan Kain” di tangan pembaca sekalian ini adalah bagian dari itu, bagian dari proses saya menulis puisi beranjak dari ruang yang menjadi pokok hidup keseharian saya, pokok hidup keseharian orang-orang di sekitar saya”.

Sajak-sajak dalam kumpulan sajaknya ini menampilkan sajak tanpa penjelasan waktu, lantas Esha hanya menjelaskan sajak berkisar pada tahun 2009-2014. Dai sana saya akan membaca dari sudut pandang sub-tema yang Esha tawarkan. Selanjutnya saya akan mencari ide Esha, kecenderungan Esha mengeksternalisasikan dirinya, mensimbolisasi yang riil atau mengimajinerkannaya.

Membaca Rumah di Atas Gelombang Sebagai yang simbolik ke yang riill

Pada sub-tema ini saya melihat kecenderungan Esha dan petanda eksternalnya yang berbicara di wilayah aku-lirik, ruang, mitos, dan peristiwa. Bagaimana seseorang yang berada di sebuah ruang mengingat mitos atau mengingat peristiwa, selanjutnya ia pun menyaksikan peristiwa di ruang tersebut.

Pada beberapa sajaknya, empat dimensi ini berjalin menceritakan sesuatu yang lain. Yang riil dan yang simbolik saling bergeser, dan menyampaikan ide Esha di dalamnya.

Sebelumnya saya akan memberi contoh, Zizek memisalkan, fenomena tato di era kekinian adalah gerakan dari yang simbolik ke yang riil. Tadinya tato menandai suatu komunitas. Subyek tergiring pada simbolisasi komunitas melalui tato yang ia kenakan. Tapi kekinian tato sebagai simbol itu bergeser pada upaya pemunculan diri, pengukuhan diri, mengalienasi seseorang dari komunitas menuju dirinya yang sejati (1999: 372). Lihat saja fenomena penggunaan tato untuk mempercantik diri, menutupi kelemahan tubuh, dan menempatkan dirinya pada satu kebahagiaan yang tersimbolisasi oleh makna tato yang telah terbarukan maknanya, menurut dirinya sendiri (resistensi yang narsistik).

Apakah hal itu terjadi dalam sajak Esha? Esha menawarkan mitos-mitos yang ada di sekitar dirinya sebagai orang Minang. Ia bercerita tentang curhat hantu Sawang untuk dipahami orang sekarang (Hantu Sawang) dan Hantu rimba raya Riau yang didekatkan dengan bencana (Dituba Kabut Asap). Dua sajak itu disampaikan di sub-tema pertama sebagai upaya menafsir kembali mitos yang ada, seperti pada bait berikut.

“Celakalah hantu rimba raya Riau, Uda.

Anak-anak seakan lahir dan tumbuh dari dalam

cerobong asap dengan paru-paru menghitam!” (Dituba Kabut Asap)

 Hantu rimba raya Riau yang dengan rahang hangus dan perut mengandung bara gambut telah berhamburan dari sarangnya disangkakan memiliki relasi dari tuba kabut asap, merupakan sebuah pinjaman imaji, pinjaman mitos untuk selanjutnya menjelaskan realitas kekinian, tentang cerobong asap (polusi) yang membikin paru-paru menghitam. Meski sajak ini masih menjaga ruh magis sebuah mitos dalam kutipan berikut,

Kita dituba kabut asap, istriku.

Dan kau mulai keluhkan suara batuk dari dalam perutmu.

Sajak ini sebenarnya hanya mengungkapkan betapa polusi itu kini juga mengganggu regenerasi manusia, hingga pada batas bencana tak terhingganya ia mendesak manusia bahkan pada zona rahim, zona dimana norma belum mengintervensi manusia. Barangkali ini pun berlaku pada realitas Hantu Sawang berikut,

Di sawang

aku sendirian

meninggalkan masa lalu mengharu biru

berkawan ketakutan kesumat

menunggu juru selamat sebelum tembusu yang terburai ini

lumat.

Melihat ketakutan seorang hantu yang biasanya menakut-nakuti manusia, menjaga sawang (hutan) dari para penambang, kini ketakutan dan berdoa pada Tuhan,

Oh, Tuhan Maha Penghiba

berikan sawang ini kilatan liang bejana!

Seolah memperlihatkan Esha yang melihat pergeseran yang simbolik ke arah yang rill. Tapi kenapa sudut pandang mitos itu sendiri? Seperti pada pengertiannya mitos sendiri adalah bahasa yang diproduksi, memiliki celah magis yang hari ini tentu bergeser dan memiliki fungsi baru. Kebaruan itu, jika dari sudut pandang Esha, adalah imaji untuk menyampaikan realitas sosial kampungnya. Lantas apakah sudut pandang tersebut merepresentasikan masyarakatnya?

Esha bercerita tentang peristiwa yang sering terjadi di masyarakat Minang. Dari mulai hal sepele yang Esha perhatikan dan membawa peristiwa tersebut pada puisinya dengan tendensi, semisal aku lirik yang teringat klenong Bendi Kalumbuk yang menandai pedihnya perpisahan dengan istrinya (Ke Arah Hari Lalu), tentang gelombang Gadang yang ia pinjam suasananya untuk menyampaikan kondisi rumah (Rumah di Atas Gelombang) dan tentang budaya berdendang atau bernyanyi saat sebuah kapal akan kandas untuk menidurkan anaknya (Dendang Kapal kandas).

Tiga peristiwa tersebut seolah menjadi representasi dari perilaku orang minang. Tapi aku-lirik masih tetap menjadikan peristiwa sebagai pinjaman imaji yang dipinjam dan dibebani ide tertentu. Misalnya pada penggalan berikut,

dalam kepalaku klenong bendi Kalumbuk terus berbunyi

ketipak sepatu kuda itu serasa memecahkan tulang rahangku

lambungku menghitam dalam mengingatmu.(Ke Arah hari Lalu)

 Rumah kami

rumah di atas gelombang gadang

tempat kami meramu obat

segala demam tak tertanggungkan.(Rumah di Atas Gelombang)

Telah aku dendangkan kapal kandas

tapi laut berangin buruk tetap tidak terbujuk

dan saban malam bulan tetap jatuh

seperti limau membusuk dari tampuk.(Dendang Kapal kandas)

 Klenong bendi sebenarnya hanya peristiwa yang dapat kita bayangkan bentuknya, tapi aku mengintimidasi suara itu dengan keberulangan peristiwa. Hal ini dilakukan untuk merepresentasikan peristiwa perpisahan yang mengerikan meski hanya sehari saja dengan sang istri.

Lalu gelombang gadang yang telah disejajarkan segala peristiwanya dengan kondisi rumah jika ia berada di atasnya, mendapat tendensi bukan hanya sekedar gelombang yang besar, tapi juga gelombang sebagai tekanan. Tekanan ini mendapatkan fungsinya sebagai gerak predikatif aku-lirik “kami” meramu obat segala demam. Demam yang tak tertangguhkan ingin direpresentasikan sebagai gelombang gadang. Hal ini yang menyebabkan pencarian (predikatif) obat dalam rumah menjadi satu ide yang diinginkan aku-lirik.

Sementara interpensi aku-lirik pada budaya mendendang saat kapal akan kandas, sebagai upaya menenangkan suasana pada anaknya, dinegasi Esha, seperti menghajarnya ia pada kepercayaan tersebut. Untuk menjelaskan bagian berikut.

Sebelum getar pada rahangku, getar pada punggung

dan getar pada lambungku menandakan terhentinya

gelombang gadang. (Dendang Kapal kandas)

 Bahwa gelombang bagi seorang anak adalah hubungan realitas si anak yang direpresentasikan oleh ayah. Ayah menjadi kebocoran realitas ayah dan badai sebagai metaforanya. Hal ini pun terjadi pada sajak Ketika Dendang Tidur yang meminjam metafora tidur para Samana. Meski pada sajak ini metafora itu digunakan untuk memperbesar momen puitik seorang ayah yang menatap mata anaknya saat tertidur.

Barangkali puisi di atas masih subjektif, tanpa sebuah kultur kolektif yang dihadirkan. Dalam puisi Menjauh dari Kota, Orang-orang Kalimbuk, Membeli jantung Pisang, Air Hitam Turun Malam, Angin dari Arah Pauh, Kereta Singkarak kultur kolektif itu dihadirkan. Namun pertanyaannya apakah hanya sekedar khazanah? Saya membutuhkan aku-lirik untuk membongkar ide Esha.

“Di Padang, siapa akan mengapung dan siapa akan

membenam?” (Menjauh dari Kota)

 Esha merepresentasikan Padang sebagai kota yang di dalamnya siapapun dapat mengapung dan membenam. Direpresentasikan lewat aku-lirik yang menjauhi Padang, tapi menemukan kedekatan dan keresahan pada Padang itu sendiri.

Mengapung dan membenam.

Hari lalu selalu bermain di antaranya

di antara hujan lebat dan panas berdengkang, di antara

air turun dan air naik, dan kini kami telah berumah

di antara pecahan empedu dan luka lambung! (Menjauh dari Kota)

Perubahan ini ditandai oleh kepergian aku-lirik dalam kesadaran memahami kota. Dari sana nampak sebuah upaya melihat fungsi geografis Padang yang gagal menyelamatkan sosiologisnya. Coba perhatikan pula puisi Orang-Orang Kalumbuk yang berbicara tentang sosiologis Kalumbuk yang dimetaforkan sebagai angin hitam. Angin hitam ini merujuk pada kondisi berikut,

Aku membayangkan, di sini, kelak anak-anak dengan

pupil mata sirah membara akan terlahir dari pusaran

limbubu. Anak-anak yang pada saat lambung mereka

berbunyi akan berkata:

 “Aku menulis sajak di karung-karung beras.

Tentang iringan karavan dari Darek yang terhuyung

di penurunan Sitinjau!” (Orang-Orang Kalumbuk)

Kalumbuk memiliki yang simbolik harus pula tergeser pada yang riil saat ditemukannya suatu degradasi ruang. Degradasi ruang ini menurut Esha saya kira terwakilkan oleh bait berikut,

Di hitam angin Kalumbuk

aku menebak hari baru serupa daging tumbuh

pada pangkal tembusumu.

Sakit yang akan terus memburu.(Orang-Orang Kalumbuk)

Setiap penyair tentu selalu mencari metafora terbaik dalam menyampaikan problematika realitasnya. Pertanyaannya sejauh mana seorang penyair menangkap momen peristiwa atau momen puitik yang dapat mewakili keresahannya tersebut.

Ada sebuah lagu, Irma, tentang hari depan. Di mana

perahu melaju dari hulu akan dibenam riak yang tenang

di mana padi tak lagi masak dan jagung tak lagi mengupih. (Angin dari Arah Pauh)

“Istriku, barangkali di sini tanah terlalu gembur

lobak kita tanam uratnya busuk pucuknya busuk.

Hari ini berapa harga sekaleng susu anak?” (Membeli jantung Pisang)

Bagi saya Esha adalah perekam yang baik. Namun rekamannya tersebut, sebaiknya tidak hanya menyampaikan suatu reduplikasi realitas. Lantas pertanyaannya, apa yang tarik pada realitasnya sebagai Esha? Barangkali upaya tersebut nampak dalam sajak Air Hitam Turun Malam. Sebuah yang simbolik  yang tercitra pada paran rumah orang Pauh, yang menjelaskan tentang kematian teramat piawai membikin rusuh, tengguli bisa bikin mabuk, gulai tembusu jika dimakan serupa maut yang memburu, suara yang lebih gaduh selain batu runtuh, hantaman yang lebih hebat selain tanah bergetar di seberang, Esha melakukan kulminasi pergeserannya pada kutipan sajak berikut.

“Amai, bapak mabuk air tengguli

matanya sesirah tungku berapi

punggungnya tipis diketam tangan sendiri.”

“Amai, bapak mabuk tengguli

mulutnya berasap bara disiram

dadanya kembang-kempis menahan tangis.” (Air Hitam Turun Malam)

Selalu ada wilayah persinggungan yang riil semisal Bapak, Istri, Anak, dan aku-lirik Mu yang menjadi dasar hubungan realitas dari mitos dan peristiwa entah itu kenangan atau kejadian langsung. Lalu penanda logistik Esha tercitra dari rumah, dapur, kelahiran, tidur, beras, jagung, dll. Dasar yang riil ini saya kira menjadi penanda yang juga nampak pada sajak-sajak lain yang tidak meminjam mitos atau peristiwa yang membawa isu publik seperti pada sajak Kematian Angin, Kelahiran Dendang, Sebuah Pagi, Pintu Hari Baru, dan Anakku Mata Puisi. Sajak-sajak itu menegaskan posisi logistik Esha yang resah.

Meminjam istilah Lacan dalam diktumnya, “simbol mewujudkan dirinya pertama-tama sebagai pembunuh benda” (the symbol manifest itself first of all as the murder of the thing) (1977: 104). Saya pun melihat hal itu pada sajak Esha pada sub-tema pertamanya. Dari sana dapat saya simpulkan, bahwa Esha dalam sub-tema pertama adalah sebuah persinggungan logistik Esha dengan realitas, yang disimbolisasikan melalui pembunuhan mitos, peristiwa dalam kehidupan Minang, yang semua itu dimaksudkan untuk menyampaikan relasi Esha dengan yang riil di sekitarnya (manusia dan peristiwa). Mitos dan peristiwa adalah titik negasi Esha untuk memberi tawaran hidup baru pada kehidupannya.

Membaca Kota dalam Retakan Tempurung, dan Lagu dalam Oslan dan Lagu Palinggam, sebagai Historis yang Ditarik ke Ruang Aku.

Tiga Sub tema itu merupakan suatu gambaran tentang bagaimana Esha memaknai ruang. Ruang menjadi titik muncul dari sajak-sajaknya. Ruang disini merujuk pada tempat, .., .. Jika pada sub bab pertama, Esha dalam ruang terdekatnya melakukan simbolisasi pada beberapa mitos yang akhirnya mengukuhkan yang riil dari Esha itu sendiri, pada sub-tema Kota dalam Retakan Tempurung menempatkan tempat sebagai titik masuk sajaknya.

Tempat seolah mengalami penyikapan secara langsung. Semacam interpretasi pada benda, tempat, terlihat pada sajak-sajak Pada Retakan Patung Singa, Dari Menara Bioskop Sovia,Bukittinggi, Di Hadapan Jam Gadang, Di Pelintasan Jalan Gereja, Di Pamancuangan, Di Kedai Hau, Di Kinol, Penjara Muara, Patung Kuda Pincang, Kopi Dingin Hiligo’o. Tempat dan kota tersebut menjadi titik masuk menyampaikan peristiwa aku-lirik.

Resiko menuliskan tempat di dalam sajak, adalah seberapa jauh penyair mampu menangkap identitas tempat dan benda tersebut secara tepat dan identik. Tempat dan benda sebagai teks, tentu adalah sebuah interpretasi yang multitafsir, terlebih saat pembaca memerlukan referensi tentang bagaimana sajak mampu menceritakan keunikan tempat dan tempat serta peristiwa puitik di dalamnya. Esha barangkali menawarkan hal ini dalam sajaknya,

Pada retakan patung singa, pada porselin gambar naga,

pada jendela sirah penghisap cahaya, pada ambin yang

tiap sebentar menjatuhkan serbuk kayu, aku kenang

kau dalam gerak udara masih serupa itu. (Pada Retakan patung Singa)

Dari menara

dengan susunan kubus beton tua

aku pandangi lagi tahun itu. (Dari Menara Bioskop Sovia)

 Seseorang akan berjaga lewat lubang

lubang panjang.

Seseorang akan berjaga di reruntuhan

pasir ngarai.

Seseorang yang lain akan berjaga dalam

gelombang radio malam. (Bukittinggi)

 

Telah aku bebaskan gadismu

dari ketakutan tak berbentuk

pada garis punggungnya

pada gelombang pahanya

dan pada segala lekuk dagingnya

telah aku bikin pahatan Ramudin

tak seberapa banding guratnya.(Di Hadapan Jam Gadang)

 Pada tiga fragmen di atas, Esha membawa pembaca pada penanda awal yang paling mewakili sebuah benda atau tempat dengan interpretasinya. Pada sajak Pada Retakan Patung Singa, aku lirik membuka peristiwa interpretasi melalui ungkapan aku kenang kau dalam gerak udara masih serupa itu. Yang membawa pemabaca pada peristiwa lain. Rupanya hal ini merujuk pada peristiwa historis yang tersimpan dalam patung singa yang retak. Di dalam retak terdapat waktu. Waktu ini yang selanjutnya menjadi ruang eksplorasi Esha yang merujuk pada bait selanjutnya,

Di sini orang-orang masih berdendang tentang sepertiga

gunung diruntuhkan ombak gadang, tentang belasan

anak gadis yang hilang di jalan bersimpang lima, tentang

jodoh serta maut yang tak boleh disebut apabila malam

sudah larut, dan kita berebut tempat berdiam di setiap

babakan dendang itu dihentikan.

 

Pada retakan patung singa. Aku pandang matamu

masih sirah begitu juga, aku rasakan di dadamu

masih berisi gemuruh ombak gila.(Pada Retakan Patung Singa)

 Di atas nampak jelas bagaimana Esha membangun sejarah untuk selanjutnya masuk dalam keintiman puitiknya. Sudut pandang Esha saya kira berhasil. Hal ini dapat menjadi contoh bagaimana kota dan benda terepresentasikan melalui dramaturgi waktu, sejarah, yang memperkuat identitasnya. Hal yang unik lagi adalah bagimana Esha melakukan kontekstualitas sejarah, hal ini tercitra pada bait Aku rasakan di dadamu masih berisi gemuruh ombak gila. Sejarah dan kekinian selalu ditandai dengan persamaan sebagai titik mula ide dilanjutkan dan ditanamkan.

Seluruh sajak di dalam sub tema ini berada di wilayah itu. Bagaimana misalnya Bukittinggi dalam sejarahnya yang getir mengalami pergeseran pada kegetiran orang-orang yang mana kata “berjaga” mengalami dua tunggangan makna, sebagai berjaga di masa lalu dan berjaga di masa kini, yakni pertanyaan akan Jam berapa hari?, sebagai identitas orang-orang yang berada di Bukittinggi. Dari sana saya melihat bagaimana kota dapat diidentifikasi bukan hanya oleh geografis, tapi juga sosiologis yang resah semacam ini.

Demikian dengan sajak lainnya, sejarah menjadi peristiwa yang membentuk. Padangan ini merujuk pada kontekstualitas, dan kecenderungan ini serupa dengan yang dilakukan Esha di sub-tem pertama ketika menyikapi dongeng dan mitos.

Namun barangkali sejauhmana Esha memahami ruang (kota dan benda), dapat dilihat dari sajak-sajak Kota dalam Retakan Tempurung, Tentang Kota Ini, Berkelakar Sendiri, Terbenam Sendiri, Kelam pada Jalan, Karam di Lautan, Peningkahan Dendang, Tingkahan Gamad Seberang.

Di dalam sajak Tentang Kota ini, Esha melakukan alur logika melihat kota ketika kota digambarkan berikut,

Kota ini telah memberitahu banyak hal pada kita

akhir tahun dengan hujan gaduh, pohon trembesi rubuh

kapal-kapal dikaramkan gelombang, himpunan cahaya

cerlang yang membuat kita mengerti bahwa sebuah doa

senantiasa bisa diungkapkan dengan berlain cara.

 Lantas Esha melakukan kesimpulan tentang gejala kota tersebut dengan melanjutkan puisinya,

Beginilah kota ini membuat kita untuk terus mengerti

bahwa orang-orang akan selalu datang sebentar

untuk kemudian menghilang tanpa kabar.

 Hal ini merujuk pada dilematika kota yang dikonkretkan melalui aforisma sederhana, yang asal muasalnya merujuk pada kabar, sesuatu yang didasari sebagai simbolisasi, atau bahasa. Apakah bencana adalah bahasa? Seperti dalam sajaknya yang lain, Kota dalam Retakan Tempurung, kata “retakan” menjadi simbolisasi dari peristiwa yang memiliki indeks makna yang sama dengan “retak” seperti berikut.

badai bergerak di jalanan, ombak menghempas pintu-pintu

kedai, dingin mengetam genteng, lubang kunci berangin

dan knop dingin, air pasang naik air pasang turun menari

di muara hitam.

 Di kota dalam retakan tempurung, pilihan, cuma jalan

terpuruk atau mati terduduk.

 Jam-jam dinding berjatuhan

jam-jam dinding lepas paku gantungan

aku melihat kota dengan mata sakit

dan punggung luka sabit.

 Kecuali bau pelimbahan, karet membusuk dari pabrik

aroma mayat dibakar, asap hio dan plastik hangus

aku merasa kota ini dibangun dari kenangan yang

membusuk.

 Aforisma yang dicetak tebal di atas merujuk pada penjelasan Esha tentang kota. Kota dalam perpektif Esha tentu berangkat dari kota spesifik menuju kota yang simbolik. Kota yang berada pada penandaan Esha atas yang riil. Esha memaknainya sebagai ruang yang mengancam. Segala simbol waktu dalam sajaknya mengenai tempat, benda, dan peristiwa di suatu tempat, adalah upaya Esha menyampaikan sejarah, peristiwa penting, peristiwa asing namun memiliki daya rekam realitas Kota kekinian yang kontekstual dan resah.

Hal itu pun masih nampak pada sub-tema Oslan dan Palinggam yang membawa tema-tema kehidupan Minang yang lain dari segi lagu dan kehidupannya semisal Bedil Orang Sungai Puar, dan tentang lagu yang nyaris dominan dalam sub-tema ini (Siti Padang, Lagu Lama, Oslan dan Lagu Palinggam, Rustam dan Sebuah Lagu Tentang Gelombang Sebelum Malam, Mengaji Suluk, Ratap Bagindo Usman,dll.)

 Ide tentang lagu ini juga disampaikan Esha dalam pengantarnya, bahwa ia lagu Minang membawanya pada proses kreatif. Namun saya kira, Esha memiliki ide utuh dari keresahannya saat bersinggungan dengan lagu seperti pada kutipan berikut ini.

Dan Siti Padang, Siti Padang terus aku dendangkan

sebelum jahitan pada rengkah rabuku

yang serupa ragi selendangmu itu tanggal satu-persatu. (Siti Padang)

 

Amboi, di hari baru

kukibarkan getar lagu lama

kugetarkan ingatan tumbuh bersahaja. (Lagu Lama)

 

—kalau Oslan sudah memainkan gitar

air susut bakal meninggi. (Oslan dan lagu Palinggam)

 

Duh, cinta telah dijahit-disulam bertahun

namun sebentar lagumu menyudahkannya!(Rustam dan Lagu tentang Gelombang Sebelum Malam)

 

“Dari tangan Tuhan, kecuali jarak dan waktu,

selebihnya telah kita rebut dan kita sajakkan,”

dalam suluk, aku dan malam berulang saling melecut diri. (Mengaji Suluk)

 

Aku dengar sampelong, Amak

seperti kalimat terakhir dari pedendang paling mahir

aku akan disudahi. (Aku dengar Sampelong)

 Terlihat bagaimana Esha memposisikan lagu-lagu sebagai narasi, simbolisasi yang membawanya pada perasaan aku-lirik. Hal ini membawa kita pada khazanah lagu-lagu tersebut juga menerima lagu-lagu itu dari sudut pandang Esha yang saya kira selalu pada wilayah resah. Wilayah resah ini dibawa Esha dengan menyandingkan lagu, atau mengimajikan lagu-lagu tersebut dengan fenomena alam semisal air susut bakal meninggi, atau fragmen puisi berikut ini,

“Lagu itu, gerak ombak. Tarian itu, kita dihempas terus ke

tepi.” Dan ambil selendang, bawa menari, sebelum hari

tua, tulang rusak, daging serasa rurut. Ambil selendang,

sebelum malam padam dan sepi mati akan bangun sendiri.

Aku akan pamit, aku akan pamit dari tarian ini, dari

dendang ini, dari ayunan jumbai selendang ini.(Ambil Selendang)

 Atau pada wilayah yang lebih transendental semisal kematian, cinta, ingatan atau kenangan, dll.

Sejauh pandangan saya, dua sub tema ini membawa ide tentang bagaimana sejarah dan relaitas orang Minang mengalami suatu representasi identitas yang identik. Esha ingin menyampaikannya pada wilayah sajak dengan menawarkan dua hal besar, yakni kota secara geografis dan sosiologis dan lagu yang memiliki musikalitas yang mencoba digambarkan melalui geografis dan sosiologis masyarakat Minang. Apakah hak ini terkait fungsi instrument-instrumen itu di masyarakat? Saya harus melakukan pembacaan lebih mendalam.

Mengakhiri kesimpulan dengan Tentang Anggun Nan Tongga dan Dalam Lipatan Kain

Tadinya saya bermaksud mengakhiri tulisan ini dengan menunda kajian saya pada dua sub-tema yang sebetulnya pada salah satu sub-tema terakhir ini merupakan inti dari kumpulan sajak, yakni Dalam Lipatan Kain. Karena saya tidak juga menemukan Esha berbicara tentang Minang di dalam sub-tema tersebut. Kecuali dalam Anggun Nan Tongga, masih saya temukan cerita tentang Tukang Rebab, Orang Alim Batang Kabung, Tentang Anggun Nan Tongga, Gondoriah sebgai representasi tempat yang menyimpan peristiwa, semisal indeks tempat lainnya, Gelanggang Nangkodo baha, Ombak Laut Sailan, Ke Arah Tiku, atau Tentang Mangkuto. Representasi itu sebetulnya masih berkutat pada ruang ke-aku-an Esha, ruang realitas berupa kota, nama, dan peristiwa. Saya jadi teringat tentang kumpulan puisinya Goenawan Muhamad yang bercerita panjang pada kisah Don Quixote. Missal pada dua judul sajak ini Tentang Anggun Nan TonggaI dan Tentang Gondoriah. Keduanya seolah saling menjelaskan. Semacam satu fenomena yang dibawa ke publik, dihadirkan dan disampaikan melalui dua puisi.

Tentang Dalam Lipatan Kain, saya mencoba mencari makna kain yang dimaksud Esha. Namun, saya tidak menemukan sebuah definisi yang kuat tentang makna kain itu sendiri. jika kita memaknai kain dengan segala indeksnya apada sub-tema terakhir ini, akan kita temukan alusi-alusi, atau medan makna yang melingkupi kain. Namun sajak yang berbicara di wilayah itu hanya sajak Kecuali dalam Jarum Patah, dan sajak Dalam Lipatan Kain yang berbicara tentang makna Kain sebagai representasi hubungan aku-lirik dengan mu.

Kutemukan kembali namamu

dalam lipatan kain

 dengkurmu, jatuhan bulu matamu, potongan kukumu

dengung kalimat terakhirmu sebelum pohon angsana itu

tercabut dari pangkal.

 “Hallo, sisa dengkurku

telah menyelamatkanmu dari mimpi buruk

dari hari buruk

dari masa lalu yang remuk.”

 Tapi jatuhan bulu matamu adalah kangen terbengkalai

potongan kukumu memberi tanda bahwa usia kian selesai

dengung kalimat terakhirmu merupa penolakan hari baru.

 Kulipat kain

kulipat namamu

kulipat waktu.

 Saya melihat suatu perbandingan fenomena, sebuah peristiwa seperti pada sub-tema lain yang Esha sampaikan melalui mitos, perilaku orang minang, geografis dan sosiologis minang, dan lagu yang dicitrakan serupa dengan bait berikut,

dengkurmu, jatuhan bulu matamu, potongan kukumu

dengung kalimat terakhirmu sebelum pohon angsana itu

tercabut dari pangkal.

 Mu, mengalami desentralisasi narasi besar pada hal paling purba dari manusia, yakni tubuh. Tubuh menjadi representasi simbolik manusia. Perhatikan Kain yang terepresentasikan sebagai ruang, mengakomodir gerak simbolik benda-benda purba berikut ini diambil oleh Esha,

Tapi jatuhan bulu matamu adalah kangen terbengkalai

potongan kukumu memberi tanda bahwa usia kian selesai

dengung kalimat terakhirmu merupa penolakan hari baru.

 Entah itu maknanya sebagai benda, sebagai perangkat sosiologis, dan maknanya sebagai representasi manusia itu sendiri, Esha saya kira telah berhasil memaknai teks, realitas dari sudut pandang yang universal. Hal ini yang juga tercitra dari berbagai sajaknya yang lain yang membawa muatan lokalitas.

Problema Lokalitas di dalam kesusastraan Indonesia terkadang mengalami berbagai persoalan. Padahal, lokalitas adalah lading subur bagi sastra Indonesia. Bahasa Indonesia kadang menjadi persolalan untuk merangkum lokalitas, tapi Esha telah membuktikannya, melalui keuniversalan yang ia contohkan pada sajak Dalam Lipatan Kain-nya. Bahwa seperti melihat kesederhanaan peristiwa dalam lipatan kain, Esha juga menghadirkan realitas sosial yang terdiri dari Individu itu sendiri.

Jika saya melihat kajian Zizek tentang bagaimana Yang Riil adalah kekosongan mendasar yang melalui puisi, dimensi keabadian itu mencoba diisi. Saya kira sajak-sajak Esha memiliki tendensi ke sana.

Sebagai penutup, saya hadirkan pengantar Esha, yang merujuk pada kesepahaman saya dengan dia,

“Kain” lebih pada helaian benda yang dihidupkan untuk menjadi penghubung beragam peristiwa dalam hidup seseorang. “Kain” akan hadir suatu waktu dalam masa bahagia, dalam malam-malam mengharubiru, dalam tahun-tahun dengan kangen tak tertanggungkan, dalam tragedi paling buruk dan bahkan kematian sekalipun. Kain hadir dalam berbagai peristiwa dengan berbagai laku pula. Setiap laku kain akan membuat orang-orang harus sadar kehadirannya.

Selamat!

 

Zulfa Nasrulloh bergiat di ASAS, sebagai pemerhati dan peneliti Sastra, menulis puisi, cerpen, esai, dan naskah drama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s