TAFSIR 500 KESUNYIAN SUN GO KONG

25584573042_7f8a0d35e4_o

Tulisan ini dimuat di lembaran budaya Cagak, Padang Eskpres, 20 Maret 2016.

Tidak ada “tadi”, tidak ada “nanti”, tapi perjalanan hidup terus merupakan perulangan. Waktu hanyalah “antara”. Peristiwa terus terjadi dalam sebuah rentang waktu “antara”. Terus berulang, tapi dalam perulang itu orang-tidak sadar apa yang sudah pernah terjadi dan terus mempertanyakan tentang kebenaran diri mereka. Dan bagaimana jika kamu hidup sendirian, mengapa tidak hidup dalam sebuah cerita yang tidak pernah berakhir?

Peristiwa itulah yang dihadirkan Ryuzanji Company (Jepang) lewat pertunjukan Kera Sakti di Teater Salihara, Jakarta, pekan lalu (11/3). Pertunjukan teater dengan sutradara Tengai Amano tersebut menafsir lagi Perjalanan ke Barat, karya sastra klasik Tiongkok, karangan Wu Cheng’en, penulis dari masa Dinasti Ming (1360-1644).

25609331992_ea8a14acef_h

Perjalanan ke Barat, melalui tokoh Goku (Sun Go Kong) adalah salah satu karya sastra klasik Tiongkok paling sering diadaptasi. Tapi pertunjukan Ryuzanji Company sama sekali baru, sebuah dongeng baru, mengambil sudut pandang Sun Go Kong. Pertunjukan tersebut menafsir kembali kesunyian Sun Go Kong, Sang Kera Batu, makhluk abadi yang tidak akan pernah mati meski tubuhnya dipotong dan dibakar dikarenan ia terlalu banyak memakan buah kebadian surgawi.

Dalam Perjalanan ke Barat, Wu Cheng’en, menulis tiga bagian kisah yang terdiri dari 100 bab. Dimulai dari kelahiran Sun Go Kong dari sebutir telur batu di Gunung Bunga Buah. Berlanjut peristiwa dimana Sun Go Kong mengacaukan keseimbangan alam dan melakukan kekacauan di khayangan hingga ia dikurung selama 500 tahun penguasa alam di Gunung Lima Unsur Alam. Sampai pada peristiwa ketika ia dibebaskan Biksu Tang yang sedang melakukan perjalanan ke arah barat mencari sebuah kitab rahasia. Sun Go Kong harus menemani perjalanan Biktu Tang untuk mendapatkan kitab tersebut, ditemani dua orang murid Biksu Tang lain yang mempunya sifat unik.

Kejutan demi Kejutan
Dari pertempuran antara Sun Go Kong (diperankan Munekzu Tani dan Sanshiro Goto) dan Gyumaou si Siluman Kerbau (Kazuhiro Eda), Ryuzanji Company memulai pertunjukan tersebut hingga dua jam lebih. Kejutan demi kejutan terus dihadirkan di atas panggung pementasan tersebut lewat perpindahan-perindahan pemain serta adegan seperti potongan-potongan fragmen kacau, tapi saling berhubungan.

Pertunjukan ini hanya mengolah bagian penting perjalanan Biksu Tang, yang dalam pementasan tersebut diberi peran Boss (V. Ginta), manusia mirip tuyul, bersama dengan Sun Go Kong, Cut Pat Kai (Takuhei Kozu) dan Sha Wujing atau Sagojo (Iwao). Empat tokoh tersebut, satunya lagi seekor kuda putih hanya peran pelengkap, merupakan watak saling melengkapi dalam pertunjukan tersebut.

25103727103_7916e40b1c_k

Biksu Tang, atau Boss, menjadi seorang pengingat bagi tiga orang tokoh lain yang mempunyai sifat-sifat yang unik. Sun Go Kong, dengan kenakalan dan pembunuhan-pembunuhan yang dilakukannya mengharuskan Boss untuk memberi peringatan terus-menerus. Boss akan membacakan sebuah mantera jika Sun Go Kong terus melakukan pembunuhan. Cut Pat Kai, dengan perawakan babi, mempunyai hasrat yang tidak pernah terpuaskan—Ia dululnya merupakan laksamana di langit dan mempunya 80.000 prajurit tapi ia mendapat hukuman dibuang ke dunia karena mabuk dan mengganggu Dewi Bulan, Chang’e. Sementara karakter Sangojo, merefleksikan manusia yang selalu membutuhkan dukungan semangat, manusia bingung yang selalu mengharapkan petunjuk.

Dengan konsep alienasi Brecht, Ryuzanji Company, mengolah kisah epik tentang perjalanan mencari kitab menjadi lebih dramatik. Pertunjukan tersebut benar-benar membuat penonton merasa dekat dengan apa yang sedang terjadi di panggung. Sepanjang pertunjukan penonton dibantu memahami dialog pertunjukan dalam bahasa Jepang melalui teks pembantu (subtitle) yang ditembakkan melalui infocus ke siluet panggung. Teks pembantu juga kerap berupa tulisan dalam bahasa Indonesia di atas kertas karton untuk menjelaskan beberapa kata dalam bahasa Jepang—terkadang aktor juga menggunakan beberapa patah kata atau kalimat dalam bahasa Indonesia.

Ryuzanji Company lewat pementasan tersebut juga seakan melakukan kritik terhadap kisah konvensional Sun Go Kong, baik dalam cerita Perjalanan ke Barat oleh Wu Cheng’en, atau Sun Go Kong yang diadaptasi dalam pertunjukan dan film-film yang selama ini dikenal. Dalam pertunjukan tersebut, Show Ryuzanji, selaku produser turut muncul ke panggung. Ryuzanji beberapa kali masuk dan mengkritisi permainan Sun Go Kong tapi ia tetap bermain sekehendak hatinya. Bagian ini seakan berupa penolakan terhadap kehendak jalan cerita Sun Go Kong yang kita kenal selama ini.

Perulangan-perulangan terus terjadi dalam pertunjukan tersebut. Namun tidak membuat penonton jenuh, melainkan jadi semacam komedi satir, dan penonton terus dibuat tertawa sepanjang pertunjukan. Perulangan terjadi pada peristiwa ketika dalam sebuah perjalanan Boss, atau Biksu Tang, seringkali tertipu dengan siluman berperawakan manusia. Terkadang berupa gadis kecil dan kadang orang tua. Siluman-siluman yang ingin menangkap Biksu Tang dikarenakan, konon, ketika seseorang akan abadi dengan memakan dagingnya. Sun Go Kong, yang mempunyai penglihatan terhadap siluman terus-menerus mengingatkan Biksu Tang bahwa manusia-manusia yang menggoda Biksu Tang tersebut adalah siluman dan Sun Go Kong terus membunuh siluman yang menyamar tersebut.

25635273901_18f0a80743_h

Setiap kali ia membunuh, setiap kali itu pula Biksu Tong mengingatkan kelakuan keji Sun Go Kong. Peristiwa ini terus berulang, Sun Go Kong mengingatkan, sementara Biksu Tang, Cut Pat Kai, Sangojo tidak sadar. Sun Go Kong terus mengingatkan Biksu Tang dan rekan-rekannya bahwa peristiwa akan terus berulang: siluman menyamar lalu menangkap Biksu Tang dan akan memakannya.

Adegan demi adegan perkelahian kerap dihadirkan sepanjang pertunjukan. Terkadang peristiwa cepat berlalu, seperti ketika perjalanan Biksu Tang, Sun Go Kong, dan dua rekannya tertahan gunung api panas. Gunung yang hanya bisa dipadamkan apinya oleh kipas milik Rasetsu, istri Siluman Kerbau (Gyumaou). Perkelahian antara Sun Go Kong, Gyumaou, dan Rasetsu dihadirkan melalui gaya komedi unik dan teknik muncul yang baik. Sepanjang pementasan Sun Go Kong seakan terus mempertanyakan siapa dirinya, tentang kesunyiannya, dan hidupnya yang akan terus berulang.

Pementasan ini juga dikemas dengan menghadirkan grup musik punk Marjinal yang tiba-tiba masuk dan bernyanyi di antara aktor yang sedang bermain di atas panggung. Selain di Teater Salihara (11 – 12 Maret), pertunjukan Kera Sakti ini juga diadakan di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (16 Maret), Taman Wisata Candi Borobudur Magelang (19 Maret), dan di Geria Olah Kreativitas –GEOKS Bali (23 Maret). Ryuzanji Company merupakan kelompok teater yang didirikan oleh Show Ryuzanji pada juli 1984. Kelompok teater berakar pada kelompok-kelompok teater bawah tanah di Jepang yang berkembang pada 1960-an. Kelompok ini adalah tempat berjejaring dan berkolaborasi para sutradara, penulis dan aktor dari perlbagai kelompok teater di Jepang.

 

(Foto: Witjak Widi Cahya dan koleksi komunitas salihara)

Unduh PDF: Cagak Utama Padek 20 Maret 16

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s