PULANG KAMPUNG #1

Mande baladang di rumpun pisang
Jalan mamutuih ka Labuah Tarok
Taragak bana badan nak pulang
Kapa nan indak namuah mambaok
Dek ringgi sayuik di saku denai
Ka naiak kapa diambek urang….

(“Taragak” vokal Elly Kasim, iringan Orkes Kumbang Tjari, Ciptaan Masroel Mamudja)

Sitinjau Lauik

Sitinjau Lauik

Di Nagari Atar, Kecamatan Padang Gantiang, Kabupaten Tanah Datar, sebuah tugu (monumen) berbentuk mesin photocopy didirikan beberapa tahun silam oleh perantau nagari tersebut. Sebuah lambang bahwa mesin tersebut telah membawa kebaikan. Konon, di rantau, sebagian warga Nagari Atar adalah pengusaha percetakan, mereka hidup berbekal mesin photocopy, mencari peruntungan hidup dengan usaha penyalinan dokumen. Monumen photocopy didirikan dan seakan menjadi lambang bahwa rantau dengan bermodalkan mesin yan ditemukan fisikawan Amerika Serikat, Chester Carlson, pada tahun 1936 tersebut adalah sebuah pilihan untuk “bertarung” di rantau. Warga Nagari Atar, melalui monumen tersebut, seakan mengukuhkan diri dan menampakkan identitas perantauan mereka.

Jalur dagang, perniagaan, memang salah satu titik tuju etnis Minang di jalan rantau. Tidak perlu heran, seperti warga Nagari Atar, mereka menampakkan identitas perantauan mereka dengan lambang mesin photocopy. Karena memang pola perantauan warga sebuah nagari di Minangkabau melalui jalur niaga seperti regenerasi dan mereka dididik di “sekolah alam rantau”. Beruntung memang, bagi sebagian perantau membawa modal dari kampung, dan sebagian lagi hidup dan belajar dari satu persinggahan ke persinggahan lain. Mereka belajar di satu bidang perniagaan dan mematangkan bidang tersebut.

Tidak mengherankan, jika kedai nasi Kapau di Kramat, Jakarta, hari ini dipegang oleh generasi ke tiga. Tidak mengherankan juga jika hampir semua perentau dari sebuah warga nagari di Minangkabau mengambil jalur perniagaan yang sama. Di kampung saya, belasan tahun lalu, hampir semua perantau berdagang jamu. Jika anda sekalian melihat atau pernah mampir di depot-depot jamu sekitar Semarang, Yogyakarta, Bandung, Solo, dll. Saya bisa memastikan mereka adalah warga kampung saya. Beberapa tahun lalu, warga perantauan dari kampung saya tersebut juga melakukan ekspansi besar-besaran ke daerah Sumatera (di luar Sumatera Barat). Sebagian lagi mereka mendirikan kedai nasi, kita mengistilahkan dengan Warung Nasi Padang. Di Makassar, sebuah rumah makan dengan nama “27 Provinsi” barangkali juga owner-nya sudah generasi ketiga. Di Yogyakarta, selain kedai nasi dengan nama sederhana (tidak sesederhana harganya) itu dimiliki orang kampung saya. Duta Minang contohnya, mungkin anda sekalian pernah mampir makan di sana? Sebagian kecil lagi perantau dari kampung saya berdagang rempah dan bumbu.

Di wilayah Jabodetabek, rata-rata mereka berdagang plastik. Mereka menyebar dari pasar-pasar tradisional hingga pasar modern. Di Pasar Blok M, Pasar Mayestik, Pasa Tebet Barat dan Timur, Pasar Blok A, dan saya bisa memastikan mereka ada di seluruh pasar di Ibukota Jakarta. Mereka seperti retail yang jika anda mendirikan tidak perlu mengurus izin dan hak paten pada perusahaan pe milik nama. Beberapa tahun belakangan, orang kampung saya gemar berdagang jus, hampir semua perantau, yang mempunyai kedai plastik mendirikan kedai jus. Mereka akan girang bersyukur apabila hari panas berdengkang dan murung apabila hujan turun. Dan ini baru satu nagari dengan identitas perantau di Minang (Sumatera Barat), berapa nagari ada di Sumatera Barat? Lebih kurang 877 (lembaga pemerintahan menyebut kelurahan).

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s